The Tenant of Wildfell Hall merupakan novel yang terbit pertama kali pada 1848. Novel ini ditulis oleh Anne Brontë, putri bungsu dari trio penulis legendaris dari keluarga Brontë. Yaitu Charlotte Brontë, Emily Brontë, dan Anne Brontë. Novel ini bukan sekadar kisah romansa biasa.
Review Novel The Tenant of Wildfell Hall, Bahas Isu Pernikahan

- Novel The Tenant of Wildfell Hall karya Anne Brontë, terbit pada 1848, mengangkat sisi gelap pernikahan melalui perjalanan Helen Graham dan Mr. Huntingdon.
- Kisah Helen menunjukkan cinta awal tidak menjamin kebahagiaan, terutama saat pasangan manipulatif, berselingkuh, dan membawa pengaruh buruk dalam keluarga.
- Novel menyoroti pentingnya kemandirian finansial perempuan, risiko pernikahan demi status, pengkhianatan orang terdekat, serta prasangka terhadap perempuan yang hidup mandiri.
Kisah Helen Graham justru membuka tabir yang menyembunyikan sisi gelap dalam pernikahan. Untuk kategori karya fiksi pada masanya, Anne Brontë sangat berani menyuarakan gagasan-gagasannya. Tak heran apabila novel ini sempat dicegah kakaknya, Charlotte Brontë, untuk diterbitkan ulang di Inggris.
Sampai hari ini pun, isu-isu yang diangkat dalam novel The Tenant of Wildfell Hall masih relevan dengan banyak kisah nyata pernikahan. Pembaca bisa mengambil aneka pelajaran dari perjalanan rumah tangga Helen Graham dengan Mr. Huntingdon. Mungkin menikah memang tidak perlu buru-buru.
1. Pernikahan karena cinta mati di awal tidak menjamin kebahagiaan

ilustrasi pasangan (pexels.com/Pavel Danilyuk) Helen tidak menikah dengan Mr. Huntingdon karena keterpaksaan. Mereka saling mencintai, sekalipun bibi Helen sejak awal cukup skeptis dengan hubungan mereka. Namun, setelah keduanya dipersatukan dalam ikatan pernikahan seperti impian selama ini, nyatanya masa bulan madu tak lama.
Sebentar kemudian, sikap dan watak asli Mr. Huntingdon sudah muncul dan membuat Helen tidak bahagia. Ini mengajarkan semua orang agar tidak teperdaya oleh perasaan. Tidak ada yang salah dengan menikahi orang yang dicintai. Namun, jangan terlalu puas serta optimis. Mempertahankan rumah tangga serta memastikan kebahagiaan dalam pernikahan tidak cukup hanya dengan cinta mati ketika berpacaran dan di awal pernikahan.
2. Sangat melelahkan menghadapi sikap manipulatif pasangan

ilustrasi pasangan (pexels.com/Haris Solahudin) Pada akhirnya, Helen sadar bahwa suaminya tipe pria manipulatif. Ketika ia jelas-jelas melakukan kesalahan, pasti dia akan memutarbalikkan fakta. Ujung-ujungnya, Helen seakan-akan mendorongnya melakukan kesalahan itu.
Sikap manipulatif begini harus diwaspadai dalam hubungan. Masa pacaran yang relatif singkat dapat membuat watak asli yang manipulatif pada seseorang belum muncul. Atau, sebetulnya seluruh sikap manisnya selama PDKT juga cuma bentuk manipulasi yang belum disadari oleh korbannya.
3. Pentingnya perempuan tetap berpenghasilan setelah menikah

ilustrasi pasangan (pexels.com/Timur Weber) Helen juga kesulitan untuk membebaskan diri dari cengkeraman suaminya yang makin hari makin toksik karena ia sama sekali tidak memiliki uang sendiri. Sementara Mr. Huntingdon telah berani berselingkuh di depannya dan mengajarkan hal-hal buruk pada putra mereka. Seperti ucapan kasar bahkan minum minuman keras pada anak sekecil itu.
Jika pada tahun 1848, ketika novel ini pertama kali terbit, isu di atas sudah diangkat, seharusnya perempuan zaman sekarang lebih menyadari pentingnya kemandirian finansial. Jangan sama sekali tidak bekerja dan menggantungkan nasib pada keberuntungan punya suami baik hati. Uang sangat menentukan kebebasan manusia dari usaha orang lain untuk menjajahnya.
4. Menikah karena harta dan tahta cuma menang status

ilustrasi pasangan (pexels.com/Yan Krukau) Selain kisah Helen dan suaminya, novel ini juga tak lepas dari cerita tentang rumah tangga Lord Lowborough dengan istrinya, Annabella. Berbeda dengan Helen yang menikah dengan Mr. Huntingdon karena cinta, Annabella menikah dengan suaminya semata-mata karena gelar kebangsawanannya. Cinta besar suaminya tidak pernah berbalas.
Lord Lowborough hanya menang dalam hal status sebagai suami Annabella. Namun, perempuan itu malah berselingkuh dengan Mr. Huntingdon. Peringatan penting untuk direnungkan oleh semua orang yang sedang kasmaran. Jangan terlalu larut mencintai tanpa mengukur kedalaman perasaan seseorang padamu. Sebanding atau timpang?
5. Perselingkuhan dengan orang terdekat sering terjadi

ilustrasi pasangan (pexels.com/Vitaly Gariev) Baik Helen, Mr. Huntingdon, Annabella, maupun Lord Lowborough merupakan teman dekat. Mereka sangat sering mengadakan acara bersama. Siapa sangka orang-orang yang dipercaya justru merusak kebahagiaan pernikahan?
Kisah pengkhianatan oleh teman, bahkan sahabat, dalam hal asmara banyak terjadi. Bukannya gak boleh bergaul dengan orang lain. Akan tetapi, sebaiknya memang ada batasan-batasan yang disepakati bersama pasangan guna mencegah orang ketiga. Tidak terlalu sering mengadakan acara bareng pasangan lain karena dapat menyebabkan kelekatan emosi yang tidak sepatutnya.
6. Pandangan miring pada single mother kaya yang tinggal sendiri

ilustrasi single mother (pexels.com/Angga Kurniawan) Ketika akhirnya Helen Graham dapat pergi meninggalkan suaminya dengan membawa putra mereka, memang statusnya masih seorang istri. Bahkan keduanya tidak pernah bercerai sampai Mr. Huntingdon meninggal dunia. Namun, Helen yang tinggal hanya bersama anak serta seorang pelayan di rumah besar disangka janda kaya.
Warga sekitar banyak berprasangka pada Helen. Apalagi dengan sifatnya yang tertutup. Orang-orang lebih suka mengembangkan imajinasinya sendiri tentang Helen daripada kebenaran. Begitu pula dalam kehidupan nyata. Status ibu tunggal atau perempuan lajang yang kaya masih sering dicurigai daripada diperlakukan dengan baik seperti manusia pada umumnya.
Novel The Tenant of Wildfell Hall menunjukkan kehidupan berumah tangga yang kerap kali tak seindah bayangan. Bahkan ketika pernikahan terjadi tanpa paksaan sama sekali. Novel ini mendorong semua orang, khususnya perempuan, untuk lebih kritis dalam mengantisipasi nasibnya pasca pernikahan.




![[QUIZ] Tes Kosakata Bahasa Ngapak, Familier Gak Nih?](https://image.idntimes.com/post/20250311/pexels-ekaterina-bolovtsova-4051137-688e1d27da7e45904910627d2d1d8d9f.jpg)















