Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sulfat Bikin Rambut Rusak? Ini Jenis Rambut yang Perlu Menghindarinya

Sulfat Bikin Rambut Rusak? Ini Jenis Rambut yang Perlu Menghindarinya
ilustrasi wanita mencoba produk hair care (pexels.com/cottonbro)
  • Sulfat dalam sampo efektif mengangkat minyak, kotoran, residu, dan menghasilkan busa, tetapi tidak otomatis buruk karena respons rambut serta kulit kepala setiap orang berbeda.
  • Daya bersih sulfat yang kuat dapat mengurangi minyak alami dan kelembapan, sehingga pada sebagian orang memicu rambut kering, kasar, kusut, frizzy, serta kulit kepala iritasi.
  • Sampo bersulfat cocok untuk kulit kepala berminyak atau buildup, sedangkan sulfate-free lebih sesuai bagi rambut kering, keriting, diwarnai, diproses kimia, atau kulit kepala sensitif.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah merasa rambut jadi lebih kering, kasar, atau gampang mengembang setelah keramas? Jangan buru-buru menyalahkan sampo, apalagi menganggap semua sampo yang mengandung sulfat pasti “jahat” untuk rambut. Belakangan, produk sulfate-free memang semakin populer karena dianggap lebih aman dan lembut. Padahal, faktanya gak sesederhana itu.

Sulfat memang punya kemampuan membersihkan minyak dan kotoran dengan sangat baik. Namun, pada jenis rambut tertentu, efek pembersihan yang terlalu kuat justru bisa ikut mengurangi kelembapan alami rambut. Jadi, sebenarnya sulfat bikin rambut rusak atau tidak? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!

  1. 1. Apa itu sulfat dalam sampo?

    ilustrasi haircare produk (pexels.com/cottonbro)
    ilustrasi haircare produk (pexels.com/cottonbro)

    Kalau kamu sering melihat tulisan sulfate-free di kemasan sampo, mungkin kamu bertanya-tanya, sebenarnya sulfat itu apa. Sulfat adalah kelompok bahan yang berfungsi sebagai pembersih dalam produk perawatan rambut. Bahan ini membantu mengangkat minyak, kotoran, sisa produk styling, dan berbagai residu dari rambut serta kulit kepala.

    Beberapa jenis sulfat yang umum ditemukan dalam sampo adalah sodium lauryl sulfate (SLS), ammonium lauryl sulfate, dan sodium laureth sulfate (SLES). Salah satu ciri yang paling mudah dikenali adalah kemampuannya menghasilkan busa yang melimpah saat keramas.

    Menurut ahli kimia kosmetik Ron Robinson, dikutip dari Real Simple, sulfat memang sering mendapat reputasi buruk. Namun, ia menekankan bahwa jika suatu bahan kurang cocok untuk sebagian orang, bukan berarti bahan tersebut otomatis buruk untuk semua orang. Jadi, sulfat bukan berarti musuh semua jenis rambut.

  2. 2. Kenapa sulfat bisa bikin rambut terasa kering?

    ilustrasi wanita mencoba produk hair care (pexels.com/cottonbro)
    ilustrasi wanita mencoba produk hair care (pexels.com/cottonbro)

    Sulfat punya kemampuan membersihkan minyak yang cukup kuat. Nah, di sinilah masalahnya bisa muncul. Selain mengangkat minyak dan kotoran berlebih, sulfat pada sebagian orang juga dapat mengurangi minyak alami dan kelembapan yang dibutuhkan rambut.

    “Sulfat termasuk senyawa bermuatan negatif atau anionik. Karena karakteristik tersebut, sulfat dapat mengangkat atau membuka kutikula rambut dan mengurangi kemampuan rambut dalam mempertahankan kelembapan,” ujar Tonya Lane, ahli kimia kosmetik dan pendiri Curly Chemistry, dikutip dari Women’s Health.

    Menurut trikolog (tenaga ahli atau spesialis yang mempelajari, mendiagnosis, dan merawat kesehatan rambut serta kulit kepala) bersertifikat Gretchen Friese, dikutip dari Real Simple, sulfat dapat mengikis terlalu banyak kelembapan alami rambut sehingga membuatnya kering, kasar, kusut, dan mudah frizzy. Bahan ini juga berpotensi membuat kulit kepala kering dan iritasi, terutama pada rambut yang sejak awal sudah kering atau rusak.

    Meski begitu, bukan berarti setiap orang yang menggunakan sampo bersulfat pasti mengalami kerusakan rambut. Respons terhadap sulfat bisa berbeda pada setiap orang, tergantung kondisi rambut dan kulit kepala. Karena itu, penggunaan sampo bersulfat sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan rambut, bukan semata-mata karena mengikuti tren sulfate-free.

  3. 3. Perbedaan sampo mengandung sulfat dan sulfate-free

    ilustrasi produk hair care (pexels.com/cottonbro)
    ilustrasi produk hair care (pexels.com/cottonbro)

    Sampo yang mengandung sulfat memiliki daya bersih lebih kuat untuk mengangkat minyak, kotoran, dan buildup sehingga cocok untukmu yang punya kulit kepala berminyak atau sering menggunakan produk styling. Sementara itu, sampo sulfate-free menggunakan bahan pembersih alternatif yang cenderung lebih lembut dan tidak terlalu banyak mengangkat minyak alami rambut.

    Menurut penata rambut profesional Michelle Cleveland, dikutip dari Real Simple, sampo sulfate-free tetap efektif membersihkan rambut dan kulit kepala, hanya saja busanya tidak sebanyak sampo bersulfat. Jadi, busa sedikit bukan berarti kurang bersih dan kamu gak perlu menggunakan lebih banyak produk hanya untuk menghasilkan busa.

  4. 4. Jenis rambut dan kondisi yang perlu menghindari sulfat

    ilustrasi menata rambut (pexels.com/rdne)
    ilustrasi menata rambut (pexels.com/rdne)

    Tidak semua orang perlu menghindari sulfat. Namun, ada beberapa kondisi rambut dan kulit kepala yang mungkin lebih cocok menggunakan sampo sulfate-free.

    • Kulit kepala kering atau sensitif

    Kalau kulit kepala gampang terasa kering, gatal, atau mengalami iritasi setelah keramas, formula yang lebih lembut bisa menjadi pilihan. Orang dengan kondisi kulit tertentu, seperti eksim atau rosacea, juga mungkin perlu mempertimbangkan produk yang tidak terlalu agresif.

    • Rambut kering, kasar, keriting, atau gampang frizzy

    Rambut yang sudah dehidrasi membutuhkan kelembapan ekstra. Penggunaan pembersih yang terlalu kuat berpotensi membuat minyak alami rambut semakin banyak terangkat. Akibatnya, rambut bisa terasa lebih kering, kasar, kusut, dan mudah mengembang. Terutama pada rambut keriting, kelembapan sangat penting untuk menjaga pola ikal tetap terdefinisi.

    “Karena memiliki kemampuan membersihkan yang cukup kuat, orang dengan rambut yang cenderung kering mungkin perlu mempertimbangkan produk sulfate-free. Hal yang sama berlaku bagi orang yang memiliki kulit sensitif,” ujar Dr. Brendan Camp, dokter kulit bersertifikasi ganda di MDCS Dermatology, New York City, dikutip dari TODAY.

    • Rambut yang baru diwarnai atau menjalani treatment

    Kalau baru mengecat rambut atau melakukan treatment seperti perawatan berbasis keratin dan Brazilian blowout, sulfate-free bisa menjadi pilihan. Sulfat berpotensi membuat warna lebih cepat pudar dan mengurangi efek dari beberapa jenis treatment rambut. Jadi, kalau baru keluar salon dan ingin hasilnya bertahan lebih lama, pemilihan sampo juga perlu diperhatikan.

  5. 5. Jadi, harus pilih sampo sulfat atau sulfate-free?

    ilustrasi wanita styling rambut (pexels.com/karolinagrabowska)
    ilustrasi wanita styling rambut (pexels.com/karolinagrabowska)

    Kalau rambutmu berminyak, mudah lepek, atau sering mengalami buildup, sampo bersulfat bisa membantu membersihkan minyak dan residu lebih efektif. Sebaliknya, untuk rambut kering, kasar, keriting, mudah frizzy, banyak diproses secara kimia, atau kulit kepala sensitif, sampo sulfate-free bisa menjadi pilihan yang lebih cocok.

    Jadi, jangan terjebak anggapan bahwa “sulfate-free pasti lebih baik” atau “sulfat pasti merusak rambut”. Keduanya bisa punya tempat masing-masing dalam rutinitas perawatan rambut. Kuncinya adalah kenali kebutuhan rambutmu, bukan sekadar mengikuti tren.

    Pada akhirnya, sulfat gak selalu jadi musuh rambut karena cocok atau tidaknya kembali pada kondisi rambut dan kulit kepala masing-masing. Jadi, sebelum ikut tren sulfate-free, kenali dulu kebutuhan rambutmu agar gak salah pilih sampo.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More