Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Finfluencer di Medsos, Waspadai Tips Keuangan yang Menyesatkan
ilustrasi finfluencer (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Finfluencer membagikan tips keuangan di media sosial, namun tidak semua informasi cocok untuk setiap orang karena kondisi finansial tiap individu berbeda.
  • Banyak finfluencer membahas investasi tanpa menjelaskan risiko secara utuh, sehingga pengikut perlu memahami kesiapan mental dan finansial sebelum mengikuti saran tersebut.
  • Pengguna disarankan kritis terhadap konten yang berlebihan, iklan terselubung, atau janji manis dari finfluencer agar tidak terjebak dalam keputusan keuangan yang merugikan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Finfluencer adalah singkatan dari financial influencer atau orang yang rutin membagikan tips-tips keuangan di media sosial. Namun, sebutan finfluencer tidak diberikan pada sembarang orang. Seperti influencer lainnya, seseorang baru dijuluki finfluencer apabila pengikutnya sudah banyak.

Sekilas finfluencer memang terlihat sangat meyakinkan. Tambah banyak followers-nya, kamu pun dapat makin tertarik dan memercayai informasi apa pun yang diberikannya. Tentu tak sedikit tips yang dibagikan finfluencer dapat membantumu memiliki kebiasaan keuangan yang lebih positif.

Akan tetapi, karena sekarang siapa pun dapat tiba-tiba menjelma influencer sebaiknya kamu berhati-hati. Selalu saring unggahan tentang keuangan yang muncul di media sosial. Hindari menelan bulat-bulat dan mengikuti tips-tips keuangan yang belum tentu cocok untukmu. Dirimu dapat mulai bersikap selektif dengan cara berikut.

1. Paham bahwa situasi keuanganmu dengan orang lain berbeda

ilustrasi finfluencer (pexels.com/Hanna Pad)

Keuangan adalah topik yang sangat pribadi. Situasi ekonomi tiap orang tidak sama persis. Siapa pun yang memberikan tips-tips keuangan, ada baiknya kamu melihat dulu ke kondisi finansialmu.

Seperti jumlah pendapatan, tanggungan termasuk utang, prioritas saat ini hingga beberapa tahun ke depan, dan sebagainya. Misalnya, seorang finfluencer kasih contoh ekstrem pengelolaan keuangan dengan menabung 50 persen pendapatan. Boleh jadi itu karena penghasilannya jauh lebih besar darimu.

Sementara tanggungannya sedikit. Sedang kamu yang pendapatannya sepersekian darinya serta memiliki banyak tanggungan tentu gak bisa hidup cuma dengan 50 persen dari pemasukan. Dirimu masih dapat menabung 10 persen termasuk hebat.

2. Juga keberanian menghadapi risiko investasi

ilustrasi finfluencer (pexels.com/Anna Shvets)

Sering kali financial influencer di media sosial membicarakan beragam instrumen investasi. Sebagiannya bahkan lebih jelas mendorong orang buat memiliih investasi tertentu yang menurut mereka lebih cuan. Seperti main saham atau kripto.

Anak muda biasanya sangat gampang tertarik dan ingin cepat-cepat mengikuti. Satu yang harus dipahami olehmu bahwa setiap jenis investasi punya risiko. Tidak semua finfluencer cukup bijaksana buat menyampaikan risiko-risiko ini di awal.

Sementara kesiapan tiap orang menghadapi risiko investasi beragam. Seorang influencer yang main saham barangkali sudah siap secara mental dan finansial kalau investasinya gak berhasil. Sedang dirimu tak siap dengan risiko investasi dari sedang hingga tinggi.

3. Peka akan konten sekadar biar viral atau masuk akal

ilustrasi finfluencer (pexels.com/www.kaboompics.com)

Menerima informasi apa pun dari media sosial memang harus sangat berhati-hati. Demi konten viral terkadang banyak bumbu ditambahkan. Kalau kontennya bukan tentang duit mungkin kamu masih bisa bersikap kritis.

Akan tetapi, saking menariknya uang bagi siapa pun cenderung bikin orang menelannya mentah-mentah. Akal sehat malah seperti mendadak tumpul. Konten keuangan yang dibuat semenarik mungkin untuk dilihat orang supaya viral tidak sama dengan tepat buat diikuti.

Jangan sampai kamu menjadi korban dari keinginan finfluencer agar kontennya disaksikan dan dibagikan sebanyak mungkin oleh pengguna medsos. Logika amat utama dalam pengelolaan keuangan supaya tetap sehat. Hindari memercayai tips-tips keuangan yang saking gampangnya seperti ternak uang dan siapa pun bisa kaya raya dengan cepat.

4. Kalau ngaku punya usaha ini itu dicek dulu

ilustrasi finfluencer (pexels.com/Vitaly Gariev)

Jika seorang finfluencer punya sejumlah usaha tentu akan memperbesar daya tariknya. Merintis, mengelola, dan membesarkan usaha apa pun bukan hal mudah. Pikirmu, kemampuannya mengatur keuangan pasti sudah tinggi.

Masalahnya, apakah usaha-usaha itu benar-benar nyata dikelola olehnya atau hanya karangan? Penting buatmu memastikan terlebih dulu kebenaran usaha-usahanya sebelum percaya pada perkataannya. Bagaimanapun juga, setiap pengakuan influencer kudu dipertanggungjawabkan.

Jika tentang usahanya saja sekadar tipu-tipu, apa yang bisa dipercayai darinya? Tidak berarti semua financial influencer kudu punya usaha atau bisnis. Akan tetapi, minimal ia tidak menjadikan kebohongan sebagai dasar untuk menjadi influencer keuangan.

5. Ekstra hati-hati pada hal-hal yang mengandung iklan

ilustrasi finfluencer (pexels.com/RDNE Stock project)

Tidak ada yang salah dengan iklan. Iklan merupakan bagian penting dalam pemasaran. Melalui iklan, banyak orang yang tadinya gak tahu menjadi tahu. Pengetahuan tersebut dapat membantu mereka dalam situasi tertentu.

Meski demikian, saat finfluencer mencoba memengaruhi para pengikutnya buat melariskan produk atau ikut investasi tertentu, artinya dia sudah gak netral lagi. Kepentingannya bukan sekadar mengedukasi masyarakat seputar keuangan. Namun, unggahannya juga bagian dari strategi pemasaran produk tersebut.

Makin lama malah semangatnya mengedukasi masyarakat bisa berkurang. Iklan yang lebih ditonjolkan. Maknanya, kamu dan pengikutnya yang lain tambah didorong buat termakan iklan. Kalau itu berhasil, influencer tersebut menjadi pihak yang paling diuntungkan.

6. Makin manis janjinya makin perlu diwaspadai

ilustrasi finfluencer (pexels.com/Anna Shvets)

Financial influencer seharusnya tidak menjanjikan apa pun dalam usahanya mengedukasi masyarakat. Perannya lebih untuk membantu orang-orang agar keuangannya lebih sehat. Apabila finfluencer menjanjikan macam-macam berarti ada sesuatu yang ditawarkan.

Bentuknya bisa ajakan berinvestasi atau mengikuti kelas tertentu. Lagi-lagi, apabila dirimu percaya pada iming-imingnya maka influencer tersebut yang paling diuntungkan. Keuntungan buatmu belum pasti, tapi dia sudah untung duluan.

Janji manis dalam hal keuangan seperti rasa manis pada permen karet. Rasa itu hilang setelah kamu mengunyahnya beberapa kali. Saat itu terjadi, keuntungan yang dijanjikan dapat berubah menjadi pil pahit bernama kerugian buatmu.

Sekarang orang lebih mudah tertarik pada influencer daripada pakar keuangan. Meski pakar keuangan memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidangnya dan rekam jejak panjang. Kamu kudu lebih hati-hati dalam menyaring konten dari finfluencer biar tak keliru mengambil keputusan keuangan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article