Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi menyeramkan (pexels.com/Mart Production)
  • Artikel menyoroti pajak pada pembalut sebagai beban kebutuhan biologis, yang disebut memperparah tekanan finansial dan period poverty bagi perempuan.
  • Kekerasan dalam rumah tangga serta salah memilih pasangan digambarkan sebagai ancaman nyata, karena pelaku dapat berasal dari orang terdekat dan membahayakan keselamatan.
  • Kenaikan biaya hidup, gaji stagnan, sulitnya lowongan kerja, janji 19 juta lapangan kerja, dan gelombang PHK memicu kecemasan ekonomi serta ketidakpastian masa depan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bulan Oktober selalu identik dengan perayaan malam Halloween yang penuh dengan kostum hantu, rumah labu, cerita seram, dan segala hal mistis yang bikin bulu kuduk merinding. Padahal, kalau mau jujur dan melihat realitas kehidupan sehari-hari orang dewasa di luar sana, hantu jadi terasa gak semenyeramkan itu.

Ada banyak kenyataan hidup yang jauh lebih bikin jantungan, bikin stres, dan sukses menguras air mata ketimbang sekadar sosok hantu atau monster jadi-jadian. Buat kamu yang sudah merasakan kerasnya realitas hidup, beberapa hal di bawah ini terbukti jauh lebih menyeramkan dibanding malam Halloween.

1. Pembalut kena pajak

ilustrasi pembalut (unsplash.com/The Female Company)

Pembalut itu termasuk salah satu kebutuhan biologis bulanan yang wajib dibeli perempuan, bukan sesuatu hal yang bisa ditawar. Tapi anehnya, produk esensial kayak gini malah kena pajak barang mewah dan harganya cukup mahal bagi sebagian orang. Menstruasi itu proses alami tubuh, bukan pilihan gaya hidup hedon yang harus dikenakan pajak tambahan. Kebijakan ini jelas bikin para perempuan mengelus dada setiap kali harus belanja kebutuhan bulanan di minimarket.

Teror bayar pajak untuk barang yang terpakai cuma karena urusan biologis begini rasanya jauh lebih horor daripada dikejar hantu di lorong gelap. Kebijakan finansial semacam ini secara perlahan tapi pasti langsung memeras dompet rakyat kecil, makanya muncul yang namanya period poverty. Kita dipaksa bayar lebih mahal cuma buat hal basic yang harusnya dijamin kemudahannya oleh negara. Rasanya serem banget saat hal esensial buat bertahan hidup malah dikenai pajak.

2. Salah pilih pasangan yang bisa berujung pada kematian

ilustrasi kekerasan (pexels.com/Karolina Grabowska)

Kalau di film momok utamanya monster, di dunia nyata monster itu bisa hadir dalam wujud pasangan hidup sendiri. Salah memilih pasangan  bukan cuma soal hubungan yang toxic atau sekadar sakit hati lalu menangis di kamar. Dalam banyak kasus, salah pilih pasangan hidup bisa sangat mengancam keselamatan nyawa lewat aksi KDRT dan penganiayaan sadis. Kasus kekerasan rumah tangga yang makin marak ini membuktikan kalau ancaman paling berbahaya justru bisa datang dari orang terdekat.

Berita soal seseorang yang kehilangan nyawa di tangan pasangannya sendiri makin sering lewat di lini masa media sosial tiap hari. Realita mengerikan ini sukses bikin banyak orang berpikir ribuan kali sebelum akhirnya memutuskan buat melangkah ke jenjang pernikahan. Membayangkan harus hidup satu atap bersama orang yang salah terasa jauh lebih mencekam dibanding saat nonton film horor mana pun. Monster atau hantu di film cuma cerita fiktif, tapi pasangan abusive adalah ancaman yang bisa menghabisi nyawa kapan saja.

3. Harga kebutuhan makin mahal hanya saja gaji gak naik-naik

ilustrasi kebutuhan pokok (unsplash.com/Fikri Rasyid)

Lihat sisa saldo di rekening setelah bayar semua tagihan bulanan rasanya jauh lebih bikin lemes daripada dengar suara kuntilanak. Harga beras, minyak goreng, tarif listrik, sampai biaya kontrakan melonjak ugal-ugalan tanpa ada tanda-tanda bakal turun. Tapi mirisnya, angka yang tertera di slip gaji dari tahun ke tahun cuma stuck diam di tempat tanpa ada kenaikan signifikan. Fenomena ini bikin orang dewasa harus memutar otak setengah mati cuma buat sekadar bertahan hidup sampai akhir bulan.

Kesenjangan antara biaya hidup yang meroket dan gaji yang mandek ini menciptakan teror finansial yang terjadi terus-menerus. Kita dituntut untuk tetap tampil profesional di tempat kerja, padahal isi pikiran cuma sibuk menghitung sisa uang untuk mengisi piring makan esok hari. Ketidakpastian ekonomi begini yang sebenarnya sukses bikin banyak orang kena insomnia dan gak bisa tidur nyenyak tiap malam. Ketakutan bakal kehabisan uang di tengah bulan adalah monster yang jauh lebih menyeramkan dibanding tidur dikeloni pocong.

4. 19 juta lapangan kerja dijanjikan gak jauh beda sama janji-janji mantan

ilustrasi lapangan kerja (pexels.com/Anamul Rezwan)

Janji manis soal ketersediaan 19 juta lapangan kerja untuk rakyat rasanya cuma berakhir jadi dongeng pengantar tidur belaka. Realitanya di lapangan, para pencari kerja harus berdarah-darah bahkan sikut-sikutan cuma buat memperebutkan satu posisi yang dilamar oleh ribuan orang dengan gaji yang mendekati UMR pun tidak. Angka lowongan yang tersedia sama sekali tidak sebanding dengan membludaknya jumlah lulusan baru yang butuh pekerjaan tiap tahunnya. Janji-janji manis politisi saat kampanye pada akhirnya cuma menyisakan kekecewaan mendalam bagi masyarakat.

Kebijakan dan klaim angka penciptaan lapangan kerja ini ternyata berbanding terbalik 180 derajat dengan kenyataan pahit di dunia nyata. Pengangguran terdidik makin menumpuk dan bikin masa depan generasi muda terasa gelap gulita tanpa ada kepastian arah. Buka aplikasi pencari kerja tiap hari cuma buat melihat status lamaran yang diabaikan rasanya menyiksa mental banget. Omong kosong pemerintah soal ketersediaan lapangan kerja ini benar-benar jadi bentuk harapan palsu paling kejam bak omongan mantan yang benar-benar lebih mencekam dari kisah pembunuhan sadis di film horor.

5. Gelombang PHK dan sempitnya ruang cari duit belakangan ini

ilustrasi PHK (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Di zaman sekarang, punya pekerjaan tetap pun gak otomatis bikin hidup tenang karena bayang-bayang PHK massal bisa datang kapan saja. Banyak perusahaan besar mendadak gulung tikar atau melakukan efisiensi sepihak yang membuat karyawan kehilangan mata pencaharian dalam semalam. Gak ada lagi yang namanya posisi aman di dunia kerja saat ini, semua orang bisa saja dipecat tanpa aba-aba. Situasi ini bikin hari-hari di kantor dipenuhi rasa cemas yang sangat menguras energi bahkan pikiran.

Mencari pekerjaan pengganti di tengah situasi ekonomi yang lesu ini rasanya seperti mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Tabungan yang mepet makin tergerus untuk kebutuhan sehari-hari selagi proses panggilan kerja tidak kunjung datang. Ketakutan bakal nganggur lama dan gak bisa menyambung hidup esok hari adalah momok paling nyata saat ini. Rasa cemas akibat kehilangan mata pencaharian terbukti jauh lebih bikin jantungan daripada sekadar kejutan di malam Halloween.

Merayakan Halloween memang seru buat hiburan sejenak melepas penat dari penatnya rutinitas harian. Tapi begitu perayaan selesai, kita harus bangun dan menghadapi kenyataan hidup yang horornya jauh lebih terasa. Jadi, hantu mana lagi yang kita takuti kalau urusan dompet dan masa depan aja sudah seseram ini?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article