Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

15 Contoh Puisi Sumpah Pemuda 4 Bait, Beragam Tema!

15 Contoh Puisi Sumpah Pemuda 4 Bait, Beragam Tema!
Ilustrasi bait-bait puisi (pexels/KoolShooters)
  • Puisi menyuarakan semangat pemuda Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan, mengingatkan akan kekayaan alam dan budaya Indonesia.
  • Semangat juang para pemuda pendahulu terpatri dalam puisi, mendorong generasi muda untuk terus berkontribusi dalam kemajuan bangsa.
  • Sejumlah puisi Sumpah Pemuda menggambarkan pengorbanan para pahlawan yang berjuang demi kemerdekaan Indonesia, serta semangat persatuan dan kesatuan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda, yang menjadi simbol semangat persatuan dan kesatuan. Momen bersejarah ini mengingatkan kita pada ikrar pemuda Indonesia yang disuarakan dengan tegas pada 28 Oktober 1928, sebagai tonggak perjuangan kemerdekaan.

Dengan semangat pemuda yang pantang menyerah, diharapkan mereka dapat terus membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Sebagai cara untuk mengenang dan memperingati Hari Sumpah Pemuda, ada beberapa contoh puisi Sumpah Pemuda 4 bait yang bisa dibaca dan dipahami.

Melalui puisi ini, diharapkan semangat perjuangan dan cinta tanah air terus tertanam dalam jiwa generasi muda, mendorong mereka untuk terus berkontribusi dalam kemajuan bangsa. Berikut contoh puisi 4 bait dengan tema Sumpah Pemuda dilansir dari berbagai sumber. 

  1. 1. Indonesiaku

    Ilustrasi puisi dalam buku (pexels/Thought Catalog)
    Ilustrasi puisi dalam buku (pexels/Thought Catalog)

    Puisi ini ditulis oleh Sukarni, S.Pd. dalam buku "Kumpulan Puisi".

    Dari Aceh hingga Papua
    Gugusan pulau saling berjajar
    Gunung - gunung tinggi menjulang
    Membentang di garis Khatulistiwa

    Di sini pertama suara tangisku
    terdengar
    Di sini pula aku dibesarkan
    Bahkan di sini juga nantinya jasad
    dikuburkan
    Di negeriku Indonesia tercinta

    Hamparan sawah yang luas
    Kekayaan alam yang tak terbatas
    Penduduk yang ramah
    Serta budaya yang beraneka ragam

    Wahai para pemuda pendahulu
    Sumpahmu terpatri dalam hatiku
    Semangatmu menjadi teladanku
    Keberanianmu adalah motivasiku

  2. 2. Pahlawan

    Ilustrasi puisi (freepik.com)
    Ilustrasi puisi (freepik.com)

    Puisi ini ditulis oleh Sukarni, S.Pd. dalam buku "Kumpulan Puisi".

    Dentuman genderang perang
    bergema
    Desingan peluru memekakkan telinga
    Takbir berkumandang Allahu Akbar
    ....
    Teriakan terdengar hingga sukma

    Bambu runcing tegak dengan
    gagahnya
    Tak takut akan tank dan meriam
    Belati tak kau hiraukan
    Demi melepas belenggu penjajahan

    Hari - harimu kau habiskan di medan
    perang
    Tak jarang darahpun bercucuran
    Namun, semua itu tak dapat
    runtuhkan
    Kobaran semangat juang

    Kini Indonesia telah merdeka
    Hasil perjuangan telah nyata
    Namun kau tak ikut mengenyamnya
    Hanya anak cucu tercinta
    Yang dapat memanjatkan doa

    Tenanglah di peristirahatan abadimu
    Kami akan melanjutkan
    perjuanganmu
    Demi Indonesia agar lebih maju

  3. 3. Jejak Pahlawan Bangsa

    Ilustrasi Puisi (freepik.com)
    Ilustrasi Puisi (freepik.com)

    Puisi ini merupakan karya Almas Noor Huda dalam buku Puisi Sejarah. 

    Jejak-jejak para pahlawan bangsa
    Semerbak harum dalam untaian syair pujangga
    Bercerita haru akan kisah perjuangan
    Bertaruh nyawa di medan peperangan

    Kapten Pattimura dengan pedangnya
    Jendral Soedirman dengan tandunya
    Pangeran Diponegoro dengan gerilyanya
    Memperjuangkan Indonesia merdeka

    Tujuh belas Agustus 1945
    Soekarno memproklamirkan kemerdekaan
    Riuh tangis haru dikumandangkan
    Jatuhnya Jepang dan merdekanya negara Indonesia

    Jejak-jejak para pahlawan bangsa
    Menapak jelas menembus zaman
    Kini beliau pun menyaksikan dari surga
    Bangsamu bersatu padu dalam semangat membela

  4. 4. Pahlawanku

    Ilustrasi sekeping puisi modern (unsplash.com/Thought Catalog)
    Ilustrasi sekeping puisi modern (unsplash.com/Thought Catalog)

    Puisi ini ditulis oleh Yamin dalam buku Puisi Kemerdekaan: Antologi Puisi.

    Darah mengalir terus dikenang
    Sengsara kehausan serta kelaparan
    Langkah sedikit lengah
    Terpeleset jurang yang mendalam

    Karena jasamu Indonesia mampu bernapas lega
    Menghirup udara kebebasan
    Aman dari sergapan senjata
    Jauh dari serangan penjajah tak terduga

    Tanpamu kami tidak tau keadaan sekarang
    Keberanianmu larut dalam darah juang
    Kekuatanmu sekeras baja
    Keyakinanmu kuat dalam hati sanubari

    Pahlawanku ...
    Kau berikan kebahagiaan anak cucu bangsa
    Kau tinggalkan kenangan sejarah tuk pijakannya

  5. 5. Gugur

    ilustrasi puisi berjuang (pixabay/Mohamed Hassan)
    ilustrasi puisi berjuang (pixabay/Mohamed Hassan)

    Puisi ini digubah oleh W.S. Rendra dalam buku berjudul "Kumpulan Puisi Pahlawan"  

    Ia merangkak
    di atas bumi yang dicintainya
    Tiada kuasa lagi menegak
    Telah ia lepaskan dengan gemilang
    pelor terakhir dari bedilnya
    Ke dada musuh yang merebut kotanya.

    Ia merangkak
    di atas bumi yang dicintainya
    Ia sudah tua
    luka-luka di badannya.

    Bagai harimau tua
    susah payah maut menjeratnya
    Matanya bagai saga
    menatap musuh pergi dari kotanya.

    Sesudah pertempuran yang gemilang itu
    lima pemuda mengangkatnya
    di antaranya anaknya
    Ia menolak
    dan tetap merangkak
    menuju kota kesayangannya
    Ia merangkak
    di atas bumi yang dicintainya.

  6. 6. Elegi 10 November

    Ilustrasi membuat puisi (pexels/Vlada Karpovich)
    Ilustrasi membuat puisi (pexels/Vlada Karpovich)

    Puisi ini ditulis oleh Siti Isnatun M dalam buku berjudul "Kumpulan Puisi Pahlawan"

    Hari ini kami memandang
    wajah-wajah pada bingkai yang terpajang
    Menunduk membisikkan doa
    dalam semat kenangan akan jasa

    Separuh asa kami melayang
    dalam bayang-bayang
    akan masa yang telah silam

    Darah yang telah mengalir
    Keringat yang telah bergulir
    bagai sebutir safir
    dalam ruang yang temaram

    Bukan lagi tangis yang seharusnya kami berikan
    Bukan!

    Meski air mata membayangi kenangan
    akan pengorbanan yang telah dipersembahkan

    10 November ini
    Bersama duka ini

    Kami sematkan setangkup doa
    Bersama tekad dan asa
    Bahwa kami adalah tonggak penerus
    untuk jiwa kepahlawananmu yang tulus

  7. 7. Gugur Pejuang

    ilustrasi pejuang kemerdekaan (instagram.com/tentara_indonesiarepublik)
    ilustrasi pejuang kemerdekaan (instagram.com/tentara_indonesiarepublik)

    Ditulis oleh Ayla Andhura Hamba Al-Ghafur, puisi ini diambil dalam buku "Kumpulan Puisi Pahlawan"

    Indonesia tanah airku
    Yang sedang kupijak di atasnya
    Semuanya tanpa mengetahui cara meraihnya
    Yang tanpa mengetahui cara meraihnya

    Wahai pahlawanku...
    Pejuang NKRI tanah airku
    Kau relakan tubuhmu tertusuk demi

    Ku menangis tersedu-sedu
    Tetesan air mengalir di seluruh wajahku
    Tapi aku hanya dapat berpikir bagaimana
    Tetesan darah mengalir di seluruh tubuhmu

    Kini telah gugur engkau wahai pejuangku
    Aku hanya dapat mengirim doa kepadamu
    Semoga cahaya selalu menerangi dan rakyat NKRI

  8. 8. Perjuangan Para Pahlawan untuk Indonesia

    Ilustrasi perjuangan menggapai kemerdekaan Bangsa Indonesia. (Foto: freepik.com)
    Ilustrasi perjuangan menggapai kemerdekaan Bangsa Indonesia. (Foto: freepik.com)

    Karya Suyono dalam buku Kumpulan Puisi Semangat Kemerdekaan Masa Kini

    Untukmu pahlawanku
    Tanpamu kami tak mampu seperti sekarang
    Keberanianmu menerjang penjajah
    Dalam darahmu mengalir semangat juang
    Keberanian menjadi kekuatan untuk menerobos Gerbang penjajah

    Genangan darah sebagai bukti kesetiaanmu
    Tulang-tulang yang remuk terhampar bak mutiara
    Sebagai tanda kesucianmu
    Karena jasa dalam darahmu Indonesia mampu merdeka

    Kucuran deras keringat membasahi seluruh tubuh
    Kadang, jiwa ini terpuruk dalam kesedihan
    Mengenang semua penderitaan dan perjuanganmu
    Semua demi Indonesia, kau taruhkan nyawamu

    Pahlawan kau genggam bambu runcing di tanganmu
    Luka di tubuh, kau anggap hanya biasa
    Di tengah teriknya sang matahari kau berperang demi negeri ini
    Namun, di balik peperangan jasa dan semangatmu selalu ada

  9. 9. Kepergian Pahlawanku

    Potret Gedung Museum Sumpah Pemuda (museumsumpahpemuda.kemdikbud.go.id)
    Potret Gedung Museum Sumpah Pemuda (museumsumpahpemuda.kemdikbud.go.id)

    Ditulis oleh Siti Isnatun M. dalam buku Kumpulan Puisi Pahlawan

    Senja yang pilu,
    membuat hari kian membiru
    Langit tampak Keruh,
    Mengantar kepergianmu... pahlawanku

    Gerimis jatuh membasahi pucuk sunyi,
    melagukan nada-nada lara hati
    Saat doa-doa ikut tertanam,
    bersama bayangmu yang kian tenggelam

    Kaulah, pahlawan hidupku
    meninggalkan berjuta jejak
    dalam rentang waktuku
    mengukir berjuta cinta
    dalam lembar hidupku

    Kepergianmu ini,
    membuatku bagai kota mati
    Namun, aku mengerti
    bahwa engkau, Ibu
    takkan pernah layu dalam kalbuku
    dalam setiap kenangan, ku lantunkan doaku
    tenang dan bahagiamu
    kembali kepada-Nya

  10. 10. Pemuda Jantung Bangsa

    ilustrasi anak-anak yang merayakan Sumpah Pemuda (pexels.com/Deden R )
    ilustrasi anak-anak yang merayakan Sumpah Pemuda (pexels.com/Deden R )

    Ditulis oleh Milyudi, puisi ini berjudul "Pemuda Jantung Bangsa"

    Sebaris ikrar sejarah goresan jantung bangsa
    Selembar janji perpaduan warna nusantara
    Api menyala asa membara
    Sumpah bertinta darah menggema

    Bendera berkibar di dada pemuda
    Garuda terbang langitkan cita-cita
    Pancasila adalah jiwa
    Merdeka Indonesia

    Tersurat amanat perjuangan
    Tersirat semangat dalam tindakan
    Di sini, di atas tanah tumpah darah
    Pengorbanan dan doa meraih berkah

    Esok, mungkin jalan 'kan penuh rintangan
    Namun, persatuan pasti berbuah keyakinan
    Bahwa ibu pertiwi satu titipan penuh keindahan, pertahankan!
    Di tangan putra-putri bangsa, Indonesia menuju kekayaan.

  11. 11. Sumpah Para Pemuda di Zaman Merdeka

    Ilustrasi pembacaan ikrar memperingati Hari Sumpah Pemuda (unsplash.com/Syahrul Alamsyah Wahid)
    Ilustrasi pembacaan ikrar memperingati Hari Sumpah Pemuda (unsplash.com/Syahrul Alamsyah Wahid)

    Puisi ini ditulis oleh Risma Mei Lina, dengan judul "Sumpah Para Pemuda di Zaman Merdeka".

    Ini adalah sumpah kami; para pemuda
    Bertanah air, berbangsa dan berbahasa
    Teguh dalam satu kata; Indonesia
    Seperti yang diucapkan mereka dahulu kala

    Tak gentar kami melangkah
    Sumpah pemuda tak sekedar sejarah
    Namun sebagai petunjuk arah
    Ke mana kami harus mengabdi dan berbagi

    Dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika
    Tak ada lagi perang antara saudara
    Tak ada lagi pemisah karena SARA
    Bersatu dalam kumandang Indonesia Raya

    Mari berjuang bersama
    Tanamkan cinta persatuan di usia muda
    Rekat kan diri pada agama
    Dan junjung tinggi pendidikan bagi anak bangsa

  12. 12. Sumpah Para Bocah

    ilustrasi upacara bendera (unsplash.com/Mufid Majnun)
    ilustrasi upacara bendera (unsplash.com/Mufid Majnun)

    Puisi ini merupakan karya dari Dedy Yanwar Elfani berjudul "Sumpah Para Bocah"

    Bukanlah kata-kata hampa yang terlontar
    Bukan pula kalimat kosong tanpa nalar
    Mereka telah mengikatkan jiwa-jiwa dengan penuh sadar
    Satukan perbedaan dalam keteguhan ikrar

    Mereka tahu, sumpah bukanlah mainan
    Sumpah adalah janji suci di haribaan Tuhan
    Namun para pemimpin itu kamu lihatlah
    Permainkan sumpah tak ubahnya seperti bocah

    Para pemuda bersumpah dengan tiga janji
    Dengan segenap darah juang mereka tepati
    Kini ratusan janji diobral dalam pemilihan
    Sekedar kepalsuan agar tahta mampir ke pangkuan

    Bahkan para bocah yang bersumpah dengan kepolosan
    Tak sampai hati terucap sumpah karena kepalsuan
    Sedang para bocah yang menari-nari di gelanggang kuasa
    Lebih rendah dari bocah sekolah, telah buta mata hatinya

  13. 13. Sumpah Abadi

    Ilustrasi upacara untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda (unsplash.com/Syahrul Alamsyah Wahid)
    Ilustrasi upacara untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda (unsplash.com/Syahrul Alamsyah Wahid)

    Ditulis oleh Dee Lestari, berikut puisi berjudul "Sumpah Abadi"

    Ketika pemuda bersumpah,
    Sumpah yang bukan hanya untuk dirinya, melainkan tanah airnya

    Ketika pemudi bertekad,
    Tekad yang bukan hanya untuk kaumnya, melainkan segenap bangsanya

    Gegar gunung dan lembah
    Gemetar lautan dan pantai
    Bergetar jantung dan berdesir darah

    Ketika pemuda dan pemudi menyeberangi keberagaman ketidaksamaan demi bersama bekerja
    Abadi bersumpah, untuk Indonesia

  14. 14. Sumpah Pemuda

    Ilustrasi upacara untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda (unsplash.com/Mufid Majnun)
    Ilustrasi upacara untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda (unsplash.com/Mufid Majnun)

    Dengan judul "Sumpah Pemuda", puisi ini ditulis oleh Dhany Alkautsar

    Bingkai mata rantai nan kokoh
    Menjadi satu kesatuan tekad yang bulat
    Melingkar saling mengait
    Menggenggam untuk menguatkan

    Satu bangsa
    Satu darah
    Satu bahasa
    Satu Indonesia

    Bangkitlah wahai jiwa yang tertidur
    Taburkan semangatmu
    Semailah benih perjuangan di setiap hamparan bumi mu
    Hamparan indah

    Walaupun kita tumbuh dari berbagai rumpun
    Namun akar juang tetap satu
    Menyatu di dalam darah, bangsa dan bahasamu
    Asalah tekadmu demi
    Indonesia

  15. 15. Berawal dari Pemuda

    ilustrasi memperingati Hari Sumpah Pemuda (unsplash.com/Hobi industri)
    ilustrasi memperingati Hari Sumpah Pemuda (unsplash.com/Hobi industri)

    Ditulis oleh Andis Syah Putra, puisi ini berjudul "Berawal dari Pemuda"

    Banyak cara menanggapi asa
    Setiap jalan penuh akan rasa
    Rasa semangat yang tiada tara
    Menggapai mimpi setinggi bintang di angkasa

    Jalan berliku bagi seorang pemuda
    Kerikil batu tidak akan tergoyah
    Bara api itulah semangat pemuda
    Hujan badai pun terkadang menyertainya

    Wahai para pemuda
    Jatuh bangun itu hal biasa
    Tertangkap angan simpanlah di dalam dada
    Perjuangan ini banyaklah cara
    Ekspresikan semua yang engkau bisa

    Engkau dengar cerita Bung Tomo dan Bung Hatta
    Setiap titik keringat dan bahkan dara
    Mereka korbankan untuk kemerdekaan bangsa
    Hingga tercapai di seribu sembilan ratus empat puluh lima

    Kini, saatnya bagi kita semua
    Untuk terus berjuang menggapai mimpi yang ada di kepala
    Kita korbankan semangat untuk berkarya
    Karna semua berawal dari pemuda

    Itu dia kumpulan puisi 4 bait dengan tema Sumpah Pemuda. Semoga puisi di atas dapat menginspirasi saat Hari Sumpah Pemuda datang, ya!

Share Article

Related Articles

See More