Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hidup Bahagia seperti Upin Ipin yang Gak FOMO sama Tren Sosmed
Upin & Ipin memanen sayuran (dok. Les' Copaque/Upin & Ipin)

Media sosial tampaknya memberi banyak hiburan dan kepuasan diri bagi penggunanya. Ada banyak informasi berharga, namun juga beragam tren. Media sosial memang kerap kali menyajikan kehidupan yang menarik dan variatif . Seseorang bisa menjadi siapa saja dan mengeksplorasi diri dengan bebas demi mencapai kepuasan pribadi.

Sayangnya, teknologi juga memiliki dampak yang bisa mendorong seseorang merasa tidak puas dan bahagia. Ketidakbahagiaan ini bisa terjadi karena adanya dorongan untuk mengejar pengalaman menarik seperti orang lain atau mengikuti tren yang diciptakan oleh seseorang. Rasa tidak puas akan terus muncul karena tak bisa mengikuti pola ini sepenuhnya. Kita juga bisa belajar hal ini dari kehidupan Upin dan Ipin, simak detailnya di sini!

1. Menikmati hidup dan pahami batasannya

Upin, Ipin, dan Tok Dalang mencari siput (youtube.com/Les' Copaque Production)

Melansir Psychology Today, filsuf kuno Epicurus menyebutkan bahwa menjalani hidup yang bahagia berarti menikmati berbagai pengalaman yang menyenangkan dan menarik. Jika hidup tak ada variasi, mungkin saja manusia akan berakhir pada kebosananan dan keadaan tidak menyenangkan yang mengurangi kepuasan hidup. Sayangnya, media sosial mendorong individual untuk mendapatkan pengalaman yang menarik sebanyak mungkin agar orang lain percaya bahwa hidup itu sangat menyenangkan.

Orang-orang mengatur hidup mereka agar kelihatan menarik, sehingga menimbulkan persepsi bahwa kebosanan adalah sesuatu yang tidak menarik. Tipuan semacam inilah yang mendorong orang untuk bersikap FOMO. Untuk itu, Bradley Murray sebagai penulis dan psikoanalisis mendorong seseorang untuk melakukan suatu tindakan secara sadar dan memahami bahwa setiap tren memiliki batasan.

Jika kita menelaah lebih dalam kehidupan Upin dan Ipin, dapat ditemukan bahwa kedua bocah kembar itu cenderung menikmati kehidupan masa kini dan menjalani kesehariannya secara sadar. Mereka terhindar dari perasaan FOMO karena memahami tindakan apa saja yang membuatnya bahagia dan membangun batasan yang tegas tentang apa yang dapat membuat mereka lebih menikmati hidup. Akibatnya, dorongan untuk mengikuti gaya hidup orang lain dapat dikendalikan dan hidup bisa jadi lebih puas.

2. Menghilangkan rasa takut ketertinggalan

Upin dan Ipin sedang membaca komik (dok. Les' Copaque Production/Upin & Ipin)

Rasa FOMO muncul karena adanya perasaan takut ketinggalan dan takut bahwa peristiwa yang menarik sedang terjadi di tempat lain sementara kita tak dapat ambil bagian. Jika terbiasa menjadi pengguna media sosial, kita mungkin cenderung mengajar kebahagiaan yang dibentuk oleh orang lain. Efeknya, kita jadi tak merasa benar-benar bahagia karena 'gagal' untuk mencapai standar itu.

Bradley menyebut ketika seseorang menjadi begitu FOMO, maka yang harus dilakukan bukan melawan perasaan itu, melainkan mencari tahu keinginan yang memicu. Misalnya, kembali mempertanyakan mengapa kita ingin berkunjung ke suatu tempat, apakah karena pemandangannya yang indah atau hanya sekadar mengikuti kemauan banyak orang lain?

Bradley menyebut, tanamkan dalam diri bahwa jika tidak mengalami semua pengalaman itu, hidup juga akan tetap baik-baik saja. Upin dan Ipin juga memperlihatkan interaksi yang sederhana dengan sesama teman, tak ada dorongan untuk mengikuti tren tertentu hingga mengorbankan cost yang besar. Mereka mencoba untuk hidup lebih bahagia dengan menciptakan keseruan bersama.

3. Lebih banyak menghabiskan waktu secara offline

cuplikan episode Upin Ipin Perut Ehsan (youtube.com/Les' Copaque Production)

Kita telah memahami bahwa media sosial memberi sejumlah dampak buruk bagi kesehatan mental dan emosional. Bahkan untuk anak remaja, media sosial dapat membuat seseorang kehilangan pengalaman masa kecil.

"Banyak orang beralih ke waktu online untuk menghindari menghadapi kecemasan, depresi, dan hal-hal sulit lainnya dalam hidup mereka," ujar Julia Kogan selaku psikolog dalam VeryWell Mind.

Media sosial sebaiknya dibatasi, seperti Upin dan Ipin yang lebih gemar menghabiskan waktu secara offline bersama teman-teman sebaya. Aktivitas fisik akan memberi lebih banyak kegembiraan dan kepuasan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article