Ilustrasi frugal living (pexels.com/cottonbro studio)
Salah satu alasan terbesar frugal living semakin menarik adalah tekanan biaya hidup. Harga kebutuhan sehari-hari, tempat tinggal, transportasi, makanan, hingga berbagai layanan digital membuat penghasilan harus dikelola dengan lebih hati-hati.
Bagi anak muda yang baru memasuki dunia kerja atau masih memiliki penghasilan terbatas, sedikit saja pengeluaran tidak terkontrol bisa membuat uang habis sebelum akhir bulan. Survei Deloitte 2025 terhadap lebih dari 23.000 Gen Z dan milenial di 44 negara menemukan bahwa lebih dari 80 persen responden menyebut masa depan keuangan jangka panjang dan keuangan sehari-hari sebagai faktor penyebab kecemasan atau stres.
"Kekhawatiran ini tampaknya justru memburuk, bukan membaik: 48 persen generasi Z dan 46 persen milenial menyatakan tidak merasa aman secara finansial untuk tahun 2025, dibandingkan dengan 30 persen generasi Z dan 32 persen milenial pada tahun 2024," dikutip dalam Deloitte Insights.
"Lebih dari separuh generasi Z maupun milenial hidup dengan mengandalkan gaji bulanan semata (paycheck to paycheck), dan lebih dari sepertiganya kesulitan memenuhi biaya hidup setiap bulannya," lanjutnya.
Kondisi tersebut membuat berhemat tidak lagi selalu dipandang sebagai sesuatu yang membatasi kebebasan. Justru, frugal living bisa memberikan rasa kontrol ketika kondisi ekonomi sulit diprediksi. Daripada memaksakan gaya hidup yang sebenarnya tidak sesuai kemampuan, sebagian Gen Z memilih memasak sendiri, mencari hiburan murah atau gratis, membatasi impulse buying, menggunakan promo secara strategis, dan mengurangi pengeluaran yang dianggap tidak terlalu penting.