Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Frugal Living Makin Populer di Kalangan Gen Z?
ilustrasi frugal living (pexels.com/@blue-bird)

Dulu, hidup hemat mungkin identik dengan mengurangi jajan, membawa bekal, atau menunggu diskon sebelum membeli sesuatu. Kini, konsep frugal living berkembang menjadi sesuatu yang lebih luas. Di kalangan Gen Z, hidup hemat bukan hanya tentang mengeluarkan uang sesedikit mungkin, tetapi juga tentang mencari cara agar penghasilan yang terbatas tetap bisa digunakan untuk kebutuhan, tabungan, pengalaman, dan tujuan masa depan.

Popularitas gaya hidup ini tidak muncul tanpa alasan. Biaya hidup yang semakin menjadi perhatian, kondisi pekerjaan yang tidak selalu pasti, serta paparan media sosial yang mendorong konsumsi membuat banyak anak muda mulai mengevaluasi kembali hubungan mereka dengan uang.

1. Biaya hidup membuat Gen Z lebih realistis soal uang

Ilustrasi frugal living (pexels.com/cottonbro studio)

Salah satu alasan terbesar frugal living semakin menarik adalah tekanan biaya hidup. Harga kebutuhan sehari-hari, tempat tinggal, transportasi, makanan, hingga berbagai layanan digital membuat penghasilan harus dikelola dengan lebih hati-hati.

Bagi anak muda yang baru memasuki dunia kerja atau masih memiliki penghasilan terbatas, sedikit saja pengeluaran tidak terkontrol bisa membuat uang habis sebelum akhir bulan. Survei Deloitte 2025 terhadap lebih dari 23.000 Gen Z dan milenial di 44 negara menemukan bahwa lebih dari 80 persen responden menyebut masa depan keuangan jangka panjang dan keuangan sehari-hari sebagai faktor penyebab kecemasan atau stres.

"Kekhawatiran ini tampaknya justru memburuk, bukan membaik: 48 persen generasi Z dan 46 persen milenial menyatakan tidak merasa aman secara finansial untuk tahun 2025, dibandingkan dengan 30 persen generasi Z dan 32 persen milenial pada tahun 2024," dikutip dalam Deloitte Insights.

"Lebih dari separuh generasi Z maupun milenial hidup dengan mengandalkan gaji bulanan semata (paycheck to paycheck), dan lebih dari sepertiganya kesulitan memenuhi biaya hidup setiap bulannya," lanjutnya.

Kondisi tersebut membuat berhemat tidak lagi selalu dipandang sebagai sesuatu yang membatasi kebebasan. Justru, frugal living bisa memberikan rasa kontrol ketika kondisi ekonomi sulit diprediksi. Daripada memaksakan gaya hidup yang sebenarnya tidak sesuai kemampuan, sebagian Gen Z memilih memasak sendiri, mencari hiburan murah atau gratis, membatasi impulse buying, menggunakan promo secara strategis, dan mengurangi pengeluaran yang dianggap tidak terlalu penting.

2. Gen Z mulai melihat hemat sebagai cara mendapatkan kebebasan finansial

ilustrasi gaya hidup frugal living (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Menariknya, frugal living tidak selalu berarti Gen Z ingin hidup serba kekurangan. Banyak yang justru menggunakannya sebagai strategi untuk mendapatkan ruang finansial. Uang yang berhasil dihemat dapat dialihkan untuk dana darurat, pendidikan, investasi, perjalanan, membayar utang, atau sekadar memiliki tabungan sehingga tidak panik ketika muncul kebutuhan mendadak.

Penelitian mengenai Gen Z di Indonesia yang diterbitkan dalam Jurnal Sains Sosio Humaniora menemukan bahwa frugal living memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap financial well-being. Studi tersebut melibatkan 125 responden Gen Z dan menemukan bahwa kondisi kesejahteraan finansial juga berpengaruh terhadap keputusan pembelian.

"Mengingat Gen Z semakin terpapar pada tren konsumsi digital dan tantangan finansial, memahami mekanisme yang memengaruhi perilaku pembelian mereka menjadi semakin penting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup hemat memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap kesejahteraan finansial, sementara kesejahteraan finansial secara signifikan memengaruhi keputusan pembelian," dikutip dalam studi The Effect of Frugal Living on Purchase Decisions among Generation Z: The Mediating Role of Financial Well-Being dalam UNJA Online Journal.

3. Media sosial mengubah cara Gen Z memandang gaya hidup

ilustrasi bermain media sosial (freepik.com/freepik)

Alasan lainnya adalah perubahan cara Gen Z melihat konsumsi. Media sosial memang bisa mendorong FOMO dan keinginan membeli barang yang sedang viral. Namun, platform yang sama juga membuat informasi tentang menabung, budgeting, thrifting, no-spend challenge, side hustle, hingga financial independence semakin mudah ditemukan.

"Frugal spending dalam berbelanja telah mengalami pergeseran makna menjadi bagian dari identitas diri. Praktik-praktik seperti mengonsumsi makanan sehat (clean eating), menghindari makanan yang diproses secara berlebihan (ultra-processed food), atau memasak secara sederhana dengan metode merebus dan mengukus memberikan legitimasi moral pada sikap hemat," dikutip dari laporan IDN Research Institute dalam Indonesia Millennial and Gen Z Report 2027.

"Pola ini terkonfirmasi dalam temuan survei: alasan yang paling banyak dipilih responden untuk mengonsumsi makanan rebus atau kukus adalah 'agar lebih sehat (dengan bonus penghematan biaya)' (56,3 persen). Pada saat yang sama, alasan ekonomi tetap berperan kuat melalui pilihan seperti 'harga lebih murah' (34,4 persen) dan 'bisa makan sampai kenyang dengan biaya lebih rendah' (34 persen)," lanjutnya.

Data tersebut memperlihatkan bahwa gaya hidup hemat mulai diposisikan sebagai bagian dari strategi menghadapi meningkatnya biaya hidup, bukan sekadar kebiasaan mengurangi pengeluaran. Hal ini juga menunjukkan bahwa sikap hemat dan gaya hidup sehat kini berjalan beriringan dalam satu kerangka nilai yang utuh.

4. Frugal living memberi ruang untuk menikmati hidup tanpa berlebihan

Ilustrasi bersantai (pexels.com/Photo by Visionair Media)

Menariknya, hidup hemat tidak selalu berarti Gen Z ingin menghilangkan semua bentuk konsumsi. Justru, konsep frugal living semakin berkembang ke arah intentional spending, yaitu memilih dengan sadar barang atau pengalaman mana yang memang layak dibayar. Seseorang bisa saja rela mengeluarkan uang lebih banyak untuk konser, traveling, hobi, atau makan bersama orang terdekat, tetapi mengurangi pengeluaran untuk hal-hal yang dianggap tidak terlalu penting.

Karena itu, Gen Z yang menerapkan frugal living tidak harus selalu mencari harga paling murah. Mereka bisa memilih mengurangi pembelian pakaian yang jarang dipakai, memasak sendiri pada hari kerja, atau menghindari belanja impulsif agar memiliki uang lebih untuk sesuatu yang benar-benar dinikmati. Prinsipnya adalah mengurangi pengeluaran yang kurang bermakna supaya memiliki ruang untuk pengeluaran yang lebih berarti.

Popularitas frugal living di kalangan Gen Z menunjukkan bahwa cara memandang uang sedang berubah. Di tengah biaya hidup yang tinggi dan masa depan yang terasa tidak pasti, hidup hemat menjadi salah satu cara untuk mendapatkan kembali kendali atas keuangan. Intinya adalah menggunakan uang dengan lebih sadar, mengutamakan kebutuhan dan tujuan jangka panjang, serta menghindari pengeluaran yang sebenarnya tidak memberikan nilai berarti.

Curated For You

Editorial Team

Related Article