Seseorang bisa dengan mudah melihat kesalahan orang lain ketika tidak terlibat langsung dalam persoalannya. Namun, penilaian tersebut terkadang berubah ketika orang yang melakukan kesalahan ternyata merupakan teman dekat, pasangan, anggota keluarga, atau seseorang yang sudah lama dikenal. Perilakunya tetap menyakitkan, tetapi berbagai alasan mulai dicari agar tindakannya terlihat lebih bisa dimaklumi.
Situasi ini sering membuat seseorang bertahan membela orang yang justru telah merugikannya. Bahkan, kesalahan yang sebenarnya sudah terlihat jelas bisa dianggap sebagai kekhilafan biasa, sementara orang yang berani mengkritik malah dipandang terlalu ikut campur. Mengapa hal seperti ini bisa terjadi, dan apa yang membuat seseorang sulit mengakui bahwa orang yang disayanginya juga bisa berbuat salah?