Peran sebagai caregiver sering kali dilekatkan pada perempuan seolah-olah merawat orang lain adalah sesuatu yang secara alami menjadi tanggung jawab mereka. Sejak kecil, perempuan lebih sering diarahkan untuk membantu pekerjaan rumah, menjaga adik, memperhatikan kebutuhan anggota keluarga, hingga belajar peka terhadap kondisi orang lain. Kebiasaan tersebut kemudian dapat terbawa ketika mereka dewasa.
Akibatnya, ketika keluarga membutuhkan seseorang untuk merawat orangtua, pasangan, anak, atau anggota keluarga yang sakit, perempuan sering dianggap sebagai pilihan yang paling “wajar”. Padahal, kemampuan merawat bukanlah sesuatu yang hanya dimiliki perempuan. Lantas, kenapa anggapan tersebut masih begitu kuat?
