Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Kita Lebih Berani Mencoba Sesuatu ketika Sedang Liburan?
ilustrasi liburan (pexels.com/Alexandr Podvalny)
  • Liburan memutus rutinitas harian, sehingga kita lebih terbuka mempertimbangkan pilihan baru dan membangun pola pikir yang lebih fleksibel.
  • Berada di lingkungan anonim membuat tekanan sosial berkurang, sehingga memulai percakapan dan bersikap lebih terbuka dengan orang asing terasa lebih mudah.
  • Rasa penasaran saat liburan dapat mendorong kita menghadapi ketidaknyamanan dan kemungkinan gagal demi mencoba pengalaman baru.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kamu sedang berjalan menyusuri gang kecil di kota yang belum pernah dikunjungi ketika aroma makanan dari sebuah kedai membuat langkahmu terhenti. Menu di depannya dipenuhi nama-nama yang asing di telinga. Biasanya, kamu akan memilih makanan yang sudah dikenal daripada mengambil risiko kecewa dengan pesanan sendiri. Namun, sore itu kamu justru menunjuk salah satu menu secara acak. Di liburanmu kali ini, mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan terasa lebih menarik.

Kamu kemudian memberanikan diri mengobrol dengan wisatawan lain, masuk ke toko kecil tanpa tahu apa yang ingin dibeli, hingga mengikuti aktivitas yang sebelumnya hanya berani kamu lihat dari layar ponsel. Seolah-olah, berada jauh dari rumah memberimu izin untuk menjadi sedikit berbeda dari dirimu sehari-hari.

1. Keluar dari rutinitas membuat kita lebih terbuka pada hal baru

ilustrasi liburan (pexels.com/Haley Black)

Biasanya, pukul tujuh pagi alarm berbunyi dan kamu sudah bisa menebak bagaimana hari akan berjalan. Mandi, sarapan seadanya, berangkat beraktivitas, lalu pulang dengan tenaga yang tersisa. Semuanya terasa monoton dan tidak membutuhkan banyak pertimbangan.

Sekarang keadaannya berbeda, kamu sedang berada di Yogyakarta untuk liburan. Kamu keluar dari rutinitasmu biasanya. Kali ini, kamu bangun lebih pagi untuk mencari sarapan di luar penginapanmu. Dilanjutkan dengan agenda mengunjungi destinasi yang sudah kamu simpan di ponselmu. Hingga malam hari, rutinitasmu yang biasanya segera pulang dan istirahat, kini kamu isi dengan menyusuri jalanan di kota Yogyakarta. Ketika liburan, kamu jadi lebih terbuka untuk keluar dari rutinitas yang biasanya.

Dalam artikel Psychology Today, Karyn Hall, Ph.D., menjelaskan bahwa melakukan sesuatu yang baru membantu membangun pola pikir yang lebih fleksibel. Saat liburan, rutinitasmu tidak lagi menjadi pegangan utama, kamu punya lebih banyak kesempatan untuk mempertimbangkan pilihan yang sebelumnya diabaikan.

2. Bertemu orang asing terasa lebih ringan karena mereka tidak mengenal kita

ilustrasi liburan (pexels.com/cottonbro studio)

Kamu melihat seorang wisatawan sedang duduk sendirian di sebelahmu. Ada banyak hal yang ingin ditanyakan tentang tempat yang sedang dikunjungi. Kamu kemudian memberanikan diri bertanya tentang rekomendasi tempat makan.

Percakapan bersama orang asing itu ternyata berjalan lebih lancar daripada yang kamu perkirakan. Kalian bertukar cerita soal perjalanan, tertawa karena sempat tersesat, bahkan saling merekomendasikan tempat yang belum masuk daftar kunjungan. 

Dalam laman Condé Nast Traveler, sebuah studi oleh Joinson pada 1999 menemukan bahwa orang cenderung lebih terbuka mengungkapkan diri dan bertindak lebih bebas ketika berada dalam lingkungan anonim. Ketika orang-orang di sekitar tidak mengenal kebiasaan kita, tekanan untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan tersebut pun menjadi lebih kecil.

Setelah berpisah, kamu baru menyadari bahwa biasanya kamu membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk memulai percakapan dengan orang lain. Tetapi kali ini, menjadi lebih mudah karena situasimu yang berada di lingkungan yang berbeda dari keseharian. Kamu pun tidak perlu terlalu khawatir bahwa satu percakapan canggung akan terus diingat oleh orang-orang yang setiap hari kamu temui.

3. Rasa penasaran mengalahkan ketakutan untuk gagal

Ilustrasi liburan (Pexels.com/ Andre Furtado)

Di tepi pantai, kamu melihat beberapa wisatawan sedang mencoba berselancar. Berkali-kali mereka terjatuh, tertawa, lalu kembali naik ke papan. Kamu sebenarnya penasaran, tetapi pikiran pertama yang muncul justru, “Kalau aku jatuh terus, bagaimana?”. Namun semakin lama memperhatikan, justru semakin besar rasa penasaranmu. 

Menurut Maggie Jackson, seorang jurnalis dan penulis buku, “Orang-orang yang memiliki rasa ingin tahu tinggi cenderung bersedia menghadapi ketidaknyamanan demi menjelajahi hal-hal yang belum mereka ketahui,” dilansir Greater Good Magazine.

Kamu akhirnya menyewa papan dan mengikuti instruktur. Percobaan pertama berakhir dengan tubuh tercebur ke air. Percobaan berikutnya belum jauh berbeda. Meski begitu, kamu justru tertawa ketika berhasil berdiri selama beberapa detik, sesuatu yang sebelumnya terasa mustahil.

Saat liburan, kamu jadi lebih mudah menerima kemungkinan gagal. Kamu hanya ingin merasakan sebuah pengalaman baru. Kamu gak peduli jika hasilnya berantakan, karena yang ingin kamu bawa sepulang liburan gak selalu tentang keberhasilan, tetapi juga tentang keberanianmu untuk mencoba.

Saat koper kembali dibongkar dan foto-foto liburan mulai memenuhi galeri, kamu mungkin sudah kembali ke rutinitas yang sama. Namun, ada sedikit perubahan dalam dirimu. Kamu yang kemarin berani mencoba makanan asing atau menyapa orang yang baru dikenal, kini tahu bahwa hal-hal di luar kebiasaan tidak selalu semenakutkan bayanganmu. Barangkali, petualangan terbesarmu bukan soal seberapa jauh kamu pergi, melainkan seberapa berani kamu mencoba hal baru.

Curated For You

Editorial Team

Related Article