Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengapa Seseorang Lebih Menyukai Negativity Bias? Ini Alasannya!
ilustrasi pikiran negatif (pexels.com/SHVETS production)
  • Negativity bias adalah kecenderungan otak memprioritaskan pengalaman negatif, sehingga kritik, kegagalan, dan kekecewaan lebih mudah diingat daripada pujian atau keberhasilan.
  • Secara evolusioner, otak memberi perhatian besar pada sinyal risiko dan bahaya; rangsangan negatif juga diproses lebih dalam serta memakai lebih banyak sumber daya kognitif.
  • Amigdala merespons rangsangan negatif lebih cepat dan intens, sementara peristiwa buruk dalam kehidupan sosial cenderung berdampak psikologis lebih kuat daripada pengalaman positif.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernahkah kamu merasa satu komentar negatif bisa terus teringat, sementara puluhan pujian justru mudah terlupakan? Atau, ketika satu hal buruk terjadi, rasanya seluruh hari terasa berantakan meski sebenarnya banyak hal baik yang juga terjadi? Kondisi seperti ini ternyata cukup umum dialami oleh banyak orang.

Dalam psikologi, kecenderungan tersebut dikenal sebagai negativity bias, yaitu kondisi ketika otak lebih memprioritaskan informasi atau pengalaman negatif dibandingkan pengalaman positif. Hal ini membuat seseorang lebih mudah mengingat kegagalan, kritik, atau rasa kecewa daripada keberhasilan dan hal-hal menyenangkan. Lantas, mengapa seseorang cenderung mengalami negativity bias? Berikut penjelasannya.

1. Otak menganggap hal negatif sebagai sesuatu yang penting

ilustrasi memahami pikiran negatif (pexels.com/RDNE Stock project)

Dari perspektif evolusi, mengabaikan ancaman memiliki konsekuensi yang lebih besar dibandingkan mengabaikan pujian atau hal-hal yang menyenangkan. Rasa takut terhadap konsekuensi tersebut membuat seseorang lebih berfokus pada hal-hal negatif hingga tanpa sadar mengesampingkan pengalaman positif yang terjadi di sekitarnya.

Akibatnya, otak mengembangkan kecenderungan untuk memprioritaskan sinyal yang menunjukkan risiko atau bahaya. Saat dihadapkan pada situasi yang membuat diri merasa terancam, seseorang akan terus memikirkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi sehingga lebih sulit menyadari hal-hal positif yang berlangsung pada waktu yang sama.

"Melewatkan ancaman nyata membawa konsekuensi yang lebih besar daripada melewatkan hadiah. Akibatnya, otak mengembangkan kecenderungan untuk memprioritaskan sinyal yang menunjukkan risiko atau bahaya. Hal ini membantu menjelaskan mengapa isyarat negatif sering kali menarik perhatian lebih cepat dan lebih kuat daripada isyarat netral atau positif," demikian dikutip dari platform kesehatan mental berbasis AI Theryo dalam artikel berjudul Why Your Brain's "Negativity Bias" Isn't Your Fault.

2. Informasi negatif lebih menarik perhatian

ilustrasi terpapar informasi negatif (pexels.com/Karolina Grabowska)

Masih dilansir Theryo, penelitian dalam ilmu kognitif dan afektif menemukan bahwa rangsangan negatif lebih menarik perhatian dan memungkinkan otak memprosesnya lebih dalam atau lebih lama dibandingkan rangsangan positif dengan intensitas yang serupa. Informasi negatif juga berpotensi memunculkan rasa ingin tahu yang lebih besar sehingga membuat seseorang terdorong untuk terus mencari tahu.

Sebuah studi juga menjelaskan adanya gangguan emosional, di mana materi yang sarat emosi, terutama konten negatif, dapat memperlambat kinerja pada tugas yang membutuhkan fokus dan kontrol mental. Hal ini menunjukkan bahwa informasi negatif dapat menggunakan lebih banyak sumber daya kognitif selama proses pemrosesan.

3. Merupakan dasar dari neurologis

Ilustrasi sisi emosinal dan psikologis (pexels.com/Yusuf Rendecioglu art)

Dikutip dari Early Years TV, ilmu saraf modern mengungkapkan mekanisme otak spesifik yang mendasari negativity bias, khususnya peran amigdala dalam mendeteksi ancaman dan pemrosesan emosi. Amigdala, yang juga sering disebut sebagai "suara alarm" otak, merespons rangsangan negatif lebih cepat dan lebih intens dibandingkan rangsangan positif.

"Studi pencitraan otak menunjukkan bahwa gambar negatif mengaktifkan amigdala dalam hitungan detik, sementara gambar positif membutuhkan lebih banyak waktu dan pemrosesan sadar untuk menghasilkan respons serupa," tulis Kathy Brodie, profesional di bidang pendidikan anak usia dini, pelatih, serta penulis sejumlah buku mengenai pendidikan anak usia dini dan perkembangan anak, dalam Early Years TV.

Sistem saraf otak secara alami memberikan perhatian lebih besar terhadap hal-hal negatif dibandingkan hal-hal positif. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa seseorang cenderung lebih mengingat pengalaman negatif dibandingkan pengalaman positif.

4. Hal negatif cenderung memberikan dampak yang lebih besar dalam kehidupan sosial

Ilustrasi saat dikritik (Pexels.com/Yan Krukau)

Banyak orang mungkin pernah mengalami situasi ketika satu komentar kritis atau menyakitkan lebih mudah diingat dibandingkan puluhan komentar yang mendukung. Akibatnya, rasa percaya dan kepuasan sering kali membutuhkan waktu lebih lama untuk dibangun, tetapi dapat hilang hanya karena satu pengalaman buruk.

Dilansir Theryo, penelitian yang dilakukan oleh Baumeister dan rekan-rekannya selama beberapa dekade menyimpulkan bahwa dalam berbagai aspek kehidupan, peristiwa negatif cenderung memberikan dampak psikologis yang lebih kuat dibandingkan peristiwa positif dengan tingkat kekuatan yang serupa. Oleh karena itu, banyak orang lebih mudah mengingat bagaimana peristiwa negatif terjadi dibandingkan pengalaman positif.

Meskipun negativity bias membuat seseorang lebih mudah mengingat hal-hal negatif, kondisi ini sebenarnya merupakan bagian dari cara kerja alami otak dalam membantu manusia mengenali ancaman dan bertahan hidup. Dengan memahami alasan di balik negativity bias, kita dapat lebih menyadari bahwa tidak semua situasi dalam hidup didominasi oleh hal-hal buruk, sehingga dapat mulai memberikan ruang bagi pengalaman positif untuk turut dihargai.

Curated For You

Editorial Team

Related Article