6 Mindset Konsumtif yang Mendorong Perilaku Impulsive Buying

- Mindset "duit bisa dicari" membuat orang impulsif dalam berbelanja, perlu diubah menjadi "mencari duit susah"
- Pepatah "buy now and cry later" mendorong perilaku impulsif, ubah mindset menjadi "rethink before you buy"
- Ungkapan "lebih baik nyesel beli" dan promo/diskon memicu perilaku impulsif belanja yang perlu diwaspadai
Dalam dunia yang serba hedon dan konsumtif ini, tak jarang kita menemukan orang-orang yang berbelanja secara impulsif alias berbelanja secara tiba-tiba karena dorongan emosi tanpa memikirkan konsekuensinya. Perilaku impulsif dalam berbelanja tersebut sering disebabkan karena munculnya beberapa mindset yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. Nah berikut ini beberapa mindset yang harus diwaspadai agar kita tidak terjebak dalam perilaku impulsif dalam berbelanja.
1."Duit bisa dicari"

Mindset ini cukup familiar dalam kehidupan sehari-hari, “duit bisa dicari” merupakan mindset yang cukup efektif membuat seseorang menjadi cukup impulsif dalam berbelanja. Terutama jika finansial dan pekerjaannya sudah cukup mapan, mereka jarang berpikir dua kali untuk membeli sesuatu. Rubah saja mindset ini menjadi “duit bisa dicari, tetapi mencarinya sangatlah susah”. Merubah mindset dan merasa bahwa duit sangat susah dicari akan membantu kita untuk merubah perilaku impulsif kita dalam berbelanja.
2."Buy now and cry later"

"Buy now and cry later" merupakan sebuah pepatah dalam bahasa inggris yang artinya beli sekarang dan menangis urusan nanti. Ungkapan atau pepatah ini sering diartikan sebuah mindset yang menyebakan munculnya perilaku impulsif berbelanja yang kemudian akan menghidupkan jiwa konsumtif. Ubahkah mindset ini menjadi "rethink before you buy", tujuannya agar kita berpikir ulang beberapa kali sebelum membeli sesuatu, apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau tidak. Sayang sekali kalau ternyata barang yang kita beli ternyata tidak berguna.
3."Lebih baik nyesel beli, dibanding nyesel nggak beli"

Ada ungkapan viral yang mengatakan "lebih baik kamu nyesel karena beli barang daripada nyesel karena nggak jadi beli barang". Saat lingkungan di sekitar banyak yang setuju dengan ungkapan tersebut, mau tak mau kita akan ikut menyetujui dan bahkan menerapkannya. Padahal banyak yang malah terperangkap karena ungkapan ini, bukannya merasa lebih baik setelah membeli sesuatu, akan tetapi malah muncul rasa menyesal yang berkepanjangan akibat membelinya. Tidak hanya itu, rata-rata mereka malah akan merasa lebih baik jika tidak membeli barang yang sudan terlanjur dibeli.
4."Mumpung ada promo atau diskon"

Promo atau diskon tidak jarang membuat konsumen yang awalnya tidak berminat membeli merubah pikirannya. Bagaimana tidak? Jka promo atau diskon yang diberikan sangat menarik, seperti buy one get one free atau diskon 50%. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa promo atau diskon memiliki pengaruh signifikan terhadap minat beli konsumen karena menciptakan persepsi nilai tambah. Padahal sebenarnya dua hal ini sangat mendorong sikap atau perilaku impulsif.
5."Beli storage baru"

Tak jarang rasa ragu yang muncul ketika akan membeli sebuah benda adalah karena kita tidak memiliki tempat penyimpanan atau storage yang memadai. Akan tetapi saat ini sebuah istilah baru muncul dan menjadi viral, yaitu “beli dulu, storage baru segera menyusul”. Istilah tersebut tak jarang membuat banyak orang pada akhirnya tetap membeli barang yang diinginkannya. Padahal mindset ini tidak hanya menumbuhkan jiwa konsumtif melainkan juga melupakan prinsip minimalis, karena kita menambah storage atau ruang penyimpanan baru .
6.“Jangan seperti orang susah”

Mindset ini yang cukup efektif membuat orang menjadi impulsif belanja, karena tidak ingin dianggap sebagai orang susah, terutama saat di depan orang lain. Jalan terbaik ketika ada yang berkata seperti ini adalah dengan manganggapnya angin lalu, jangan masukkan ke hati. Rasa cuek akan membantu menyelamatkan kantong kita dari berbelanja secara impusif.
Enam mindset diatas bukan lagi sebuah ungkapan atau istilah, melainkan sudah bertransformasi menjadi tanda bahaya untuk mulai waspada akan tindakan konsumsi kita. Dunia belanja saat ini selalu dibayangi oleh promo-promo yang bersliweran dan ajakan untuk berbelanja, alangkah lebih baik kita merubah mindset di atas menjadi sebuah mindset positif yang dapat mengerem tindakan impulsif kita dalam berbelanja. Hal tersebut secara otomatis juga akan merubah kita menjadi lebih bijak dalam mengatur finansial.



















