ilustrasi memberi nasihat (pexels.com/SHVETS production)
Ada kalanya kita merasa gemas ketika melihat seseorang mengulangi kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari. Teman yang terus bertahan dalam hubungan tidak sehat, adik yang mengabaikan tugas kuliah, atau saudara yang mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan konsekuensinya bisa membuatmu terdorong untuk memberikan nasihat. Bahkan, belum tentu nasihat tersebut diminta. Kamu bisa langsung menjelaskan apa yang sebaiknya dilakukan karena merasa pengalaman yang sudah dimiliki dapat membantu mereka menghindari masalah serupa.
Kebiasaan itu mungkin mengingatkanmu pada orangtua yang dulu sering memberikan petuah, bahkan ketika kamu hanya ingin bercerita. Bedanya, setelah berada di posisi tersebut, kamu mulai memahami bahwa nasihat biasanya muncul dari keinginan agar orang terdekat tidak mengalami kesulitan yang sama. Meski begitu, tidak semua orang membutuhkan solusi setiap kali bercerita. Belajar mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi juga penting agar perhatian yang diberikan tidak terasa seperti ceramah.
Menjadi mirip orangtua bukan berarti seluruh kebiasaan mereka harus ditiru begitu saja. Beberapa sikap mereka kini baru terasa masuk akal setelah kita mengalami sendiri situasi yang sebelumnya hanya dilihat dari sudut pandang anak. Kekhawatiran, keinginan melindungi, dan kebiasaan mengingatkan bisa muncul sebagai bentuk perhatian, selama tetap disertai tetap menghargai pilihan serta batasan orang lain. Kalau kamu pernah merasa di fase ini gak?