Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi jengkel (pexels.com/Mikhail Nilov)
  • Seiring dewasa, seseorang bisa mulai memahami sikap protektif orangtua saat khawatir terhadap pasangan adik, kepulangan anggota keluarga yang larut, atau perjalanan tanpa persiapan.
  • Pemahaman soal tanggung jawab finansial membuat kebiasaan mengomentari pengeluaran orang terdekat muncul, karena pengeluaran berulang dapat mengganggu anggaran bulanan.
  • Dorongan memberi nasihat saat melihat kesalahan mencerminkan keinginan melindungi, tetapi perhatian perlu tetap menghargai pilihan, batasan, dan kebutuhan orang lain untuk didengarkan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah merasa heran dengan sikap orangtua yang dulu dianggap terlalu banyak mengatur? Misalnya, mereka selalu ingin tahu dengan siapa kita pergi, sering mengingatkan soal jam pulang, atau tiba-tiba punya banyak pertanyaan ketika kita mulai dekat dengan seseorang. Saat masih kecil, kebiasaan seperti itu mungkin terasa menyebalkan dan dianggap berlebihan. Namun, setelah bertambah dewasa, beberapa sikap yang dulu sering dikeluhkan justru mulai dilakukan sendiri.

Perubahan tersebut terkadang baru disadari ketika kita berada dalam situasi yang mirip dengan pengalaman orangtua. Rasanya agak lucu ketika menyadari bahwa kita mulai memahami alasan di balik sikap mereka, bahkan tanpa pernah berniat menirunya. Yuk, cari tahu sama-sama apa saja momen tersebut!

1. Ikut khawatir ketika adik punya pasangan yang tidak sesuai ekspektasi

ilustrasi khawatir adik pacaran (pexels.com/Liliana Drew)

Saat adik mulai bercerita tentang pasangan barunya, rasa penasaran biasanya akan muncul dengan sendirinya. Kamu mungkin ingin tahu siapa orangnya, bagaimana mereka bertemu, apa pekerjaannya, hingga seperti apa latar belakang keluarganya. Perasaan tersebut bisa semakin kuat ketika pilihan pasangan adik terasa jauh dari bayanganmu, misalnya adik yang sedang kuliah ternyata menjalin hubungan dengan seseorang yang dikenalnya melalui media sosial dan bekerja sebagai kuli bangunan. Bukan berarti pekerjaan tersebut membuat seseorang tidak pantas menjadi pasangan, tetapi perbedaan latar belakang dan minimnya informasi tentang orang yang baru dikenal bisa membuatmu ikut bertanya-tanya.

Kamu pun mungkin mulai mengingatkan adik agar tidak terburu-buru mengambil keputusan, meminta mereka lebih mengenal satu sama lain, atau sesekali menanyakan perkembangan hubungannya. Tanpa sadar, cara bicaramu mulai mirip orangtua yang dulu sering mempertanyakan pilihan pasangan anaknya. Posisi sebagai kakak memang berbeda, tetapi rasa ingin melindungi anggota keluarga terkadang membuat kekhawatiran serupa muncul. Apalagi jika kamu belum pernah bertemu langsung dengan pasangannya dan hanya mengenal sosok tersebut dari cerita adik.

2. Mulai cerewet ketika anggota keluarga pulang terlalu malam

ilustrasi pulang malam (pexels.com/cottonbro studio)

Dulu, pertanyaan orangtua seperti "Jam berapa pulang?" atau "Sudah sampai mana?" mungkin sering dianggap sebagai bentuk pengawasan yang berlebihan. Namun, ketika kamu mulai tinggal terpisah atau memiliki kesibukan sendiri, kebiasaan serupa bisa muncul saat adik atau anggota keluarga lain belum pulang. Kamu mulai sering mengirim pesan singkat untuk memastikan mereka masih berada di mana, apakah sudah makan, dan kapan kira-kira sampai di rumah.

Kekhawatiran itu terkadang tetap muncul meskipun orang yang ditunggu sebenarnya sudah cukup dewasa untuk mengurus dirinya sendiri. Kamu bisa merasa gelisah ketika pesan tidak segera dibalas, terlebih jika perjalanan pulang harus ditempuh pada malam hari. Kalimat yang dulu sering membuatmu kesal pun mulai terucap, seperti meminta mereka tidak pulang terlalu larut atau memberi kabar sebelum berangkat. Rupanya, menunggu seseorang sampai rumah dengan selamat bisa membuat kita memahami kebiasaan orangtua yang dulu sering kita anggap merepotkan.

3. Ikut mengomentari pengeluaran orang lain

ilustrasi pesan makanan online (unsplash.com/JESHOOTS.COM)

Ketika masih bergantung pada uang saku, teguran orangtua soal kebiasaan jajan atau membeli barang mungkin terdengar membosankan. Namun, setelah mulai memiliki penghasilan dan memahami bahwa kebutuhan hidup harus dibayar sendiri, cara pandang terhadap pengeluaran bisa berubah. Kamu mungkin mulai memperhatikan kebiasaan adik yang terlalu sering membeli makanan lewat aplikasi, mengganti ponsel meskipun ponsel lamanya masih berfungsi, atau menghabiskan uang untuk barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Komentar seperti "Memangnya barang yang lama sudah rusak?" atau "Uangnya ditabung dulu, jangan dihabiskan semua" bisa terlontar begitu saja. Kalimat tersebut mungkin terdengar sama dengan nasihat orangtua yang dulu sering kamu abaikan. Perbedaannya, sekarang kamu sudah lebih memahami bahwa uang tidak selalu mudah diperoleh dan pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali bisa membuat anggaran bulanan berantakan. Meski begitu, kebiasaan mengingatkan tetap perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing agar tidak berubah menjadi kebiasaan mengatur hidup orang lain.

4. Merasa tidak tenang ketika orang lain pergi tanpa persiapan

ilustrasi servis motor (unsplash.com/Angry Kat)

Orangtua biasanya punya banyak pertanyaan sebelum seseorang bepergian, mulai dari tujuan, kendaraan yang digunakan, tempat menginap, sampai siapa saja yang ikut. Dulu, pertanyaan sebanyak itu mungkin dianggap tidak perlu, terutama ketika perjalanan yang dilakukan hanya untuk berlibur atau mengunjungi teman. Setelah dewasa, kamu bisa saja mulai melakukan hal serupa ketika teman dekat atau anggota keluarga berencana bepergian tanpa persiapan yang jelas.

Misalnya, seorang teman ingin melakukan perjalanan jauh menggunakan sepeda motor, tetapi belum memeriksa kondisi kendaraan dan belum menentukan tempat beristirahat. Kamu mungkin langsung mengingatkan agar ia memeriksa rem, membawa perlengkapan keselamatan, dan memastikan rute yang akan dilewati. Perhatian yang diberikan bukan semata-mata karena ingin mengatur rencana perjalanan, melainkan karena risiko yang mungkin terjadi mulai terasa lebih nyata. Pada momen seperti ini, kebiasaan orangtua yang selalu memastikan segala sesuatu sebelum bepergian akhirnya bisa dipahami.

5. Spontan memberikan nasihat ketika melihat orang lain melakukan kesalahan

ilustrasi memberi nasihat (pexels.com/SHVETS production)

Ada kalanya kita merasa gemas ketika melihat seseorang mengulangi kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari. Teman yang terus bertahan dalam hubungan tidak sehat, adik yang mengabaikan tugas kuliah, atau saudara yang mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan konsekuensinya bisa membuatmu terdorong untuk memberikan nasihat. Bahkan, belum tentu nasihat tersebut diminta. Kamu bisa langsung menjelaskan apa yang sebaiknya dilakukan karena merasa pengalaman yang sudah dimiliki dapat membantu mereka menghindari masalah serupa.

Kebiasaan itu mungkin mengingatkanmu pada orangtua yang dulu sering memberikan petuah, bahkan ketika kamu hanya ingin bercerita. Bedanya, setelah berada di posisi tersebut, kamu mulai memahami bahwa nasihat biasanya muncul dari keinginan agar orang terdekat tidak mengalami kesulitan yang sama. Meski begitu, tidak semua orang membutuhkan solusi setiap kali bercerita. Belajar mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi juga penting agar perhatian yang diberikan tidak terasa seperti ceramah.

Menjadi mirip orangtua bukan berarti seluruh kebiasaan mereka harus ditiru begitu saja. Beberapa sikap mereka kini baru terasa masuk akal setelah kita mengalami sendiri situasi yang sebelumnya hanya dilihat dari sudut pandang anak. Kekhawatiran, keinginan melindungi, dan kebiasaan mengingatkan bisa muncul sebagai bentuk perhatian, selama tetap disertai tetap menghargai pilihan serta batasan orang lain. Kalau kamu pernah merasa di fase ini gak?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article