Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Novel Romansa Era Pujangga Baru, Antara Adat dan Modernitas

5 Novel Romansa Era Pujangga Baru, Antara Adat dan Modernitas
sampul novel-novel era Pujangga Baru (gramedia.com)
Intinya Sih
  • Periode Pujangga Baru muncul pada 1930-an dengan semangat individualisme dan penggunaan bahasa Indonesia yang lebih luas dibandingkan era Balai Pustaka.
  • Novel-novel seperti Layar Terkembang, Belenggu, dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijk menyoroti benturan antara adat tradisional dan nilai modern, terutama dalam konteks cinta dan peran perempuan.
  • Karya-karya seperti Anak Perawan di Sarang Penyamun dan Di Bawah Lindungan Ka’bah menggambarkan konflik sosial serta moral, menjadikan romansa sebagai medium kritik terhadap norma lama.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Dalam sejarah sastra, periode sastra Pujangga Baru lahir setelah periode Balai Pustaka. Periode Pujangga Baru dimulai sekitar 1930-an dengan perubahan ide yang lebih menonjolkan individualisme. Ciri khas dari sastra era Pujangga Baru adalah penulisan dengan gaya yang baru, yang lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dibandingkan dengan Balai Pustaka.

Novel-novel Pujangga Baru banyak mengangkat konflik antara nilai-nilai tradisional dan modern. Pertentangan individual dengan adat sering muncul pada karya sastra tersebut. Berikut daftar novel periode Pujangga Baru yang menyuguhkan pertentangan antara adat dan modernitas.

1. Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana (1936)

sampul novel Layar Terkembang
sampul novel Layar Terkembang (gramedia.com)

Layar Terkembang mengisahkan dua kakak beradik, yaitu Maria dan Tuti. Tuti adalah gambaran dari perempuan modern yang kritis, lebih suka menjadi aktivis, dan cerdas. Sementara, Maria dianggap perempuan tradisional yang lembut dan menganut nilai-nilai konservatif.

Tuti dan Maria terlibat cinta segitiga dengan Yusuf, seorang mahasiswa kedokteran. Awalnya, Maria dan Yusuf saling mencintai dan akan menikah. Namun, Maria jatuh sakit dan meminta Tuti untuk menjadi mempelai perempuan.

Layar Terkembang tak menceritakan secara langsung konflik antara adat dan modernitas, tetapi menggambarkan emansipasi perempuan lewat tokoh Tuti. Semangat Tuti mewakili perempuan-perempuan yang memperjuangkan kesetaraan hak dan meninggalkan nilai-nilai adat yang sering kali membelenggu perempuan.

2. Belenggu karya Armijn Pane (1940)

sampul novel Belenggu
sampul novel Belenggu (wikipedia.org/Crisco 1492)

Sukartono adalah seorang dokter yang sudah menikah dengan Sumartini. Namun, Sukartono terlibat hubungan gelap dengan mantan kekasihnya dulu, Rohayah yang merupakan seorang penyanyi. Meskipun seorang dokter, Sukartono sangat menyukai seni dan musik.

Awalnya, Sukartono dan Sumartini saling mencintai. Namun karena komunikasi mereka yang buruk, membuat masing-masing terasingkan secara batin.

Pada era itu, novel Belenggu dianggap kontroversial akibat menampilkan konflik batin dari tokoh Sukartono. Belenggu adalah novel bertema psikologis pertama yang terbit di Indonesia. Walaupun alurnya tentang romansa, tetapi menceritakan realitas kehidupan kota yang kontras dengan nilai-nilai adat.

3. Tenggelamnya Kapal Van der Wijk Karya Hamka (1939)

sampul novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck
sampul novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (gramedia.com)

Tenggelamnya Kapal Van der Wijk adalah karya paling fenomenal dari periode Pujangga Baru. Novel ini menyuguhkan cinta tragis antara Zainuddin dan Hayati. Lamaran pernikahn Zainuddin untuk Hayati ditolak oleh keluarga Hayati karena perbedaan suku. Zainuddin adalah laki-laki campuran minang dan bugis, sementara Hayati adalah perempuan minang tulen.

Zainuddin pun mengasingkan dirinya setelah patah hati. Ia kemudian berjuang dan menjadi penulis terkenal. Setelah sukses, Zainuddin bertemu kembali dengan Hayati. Namun, Hayati sudah menikah dengan Aziz.

Novel ini menampilkan sosok Zainuddin yang berjuang melawan tradisi dengan memantaskan diri melalui menjadi penulis. Zainuddin dianggap orang luar oleh keluarga hayati karena bukan orang minang tulen. Sementara, sosok Hayati ditampilkan sebagai sosok yang tak mau melawan nilai adat.

4. Anak Perawan di Sarang Penyamun Karya Sutan Takdir Alisjahbana (1940)

sampul novel Anak Perawan di Sarang Penyamun
sampul novel Anak Perawan di Sarang Penyamun (goodreads.com)

Menceritakan tentang Sayu yang dirampok oleh gerombolan perampok yang dipimpin oleh Medasing. Sayu kemudian menjadi tawanan oleh para perampok. Medasing memang dikenal sebagai perampok dan penjahat.

Suatu hari, Medasing pulang sendirian dengan perampokan yang gagal dan anak buahnya tewas. Medasing terluka parah dan dirawat oleh Sayu. Perhatian dan pertolongan Sayu membuat Medasing luluh dan ingin berubah menjadi manusia lebih baik.

Novel ini tak menggambarkan para tokoh dengan hitam dan putih. Tokoh Medasing tak selalu digambarkan jahat seperti novel-novel klasik di sepanjang cerita. Namun, Medasing juga punya sisi baik yang mau untuk berubah dan menebus dosa-dosanya.

5. Di Bawah Lindungan Ka’bah Karya Hamka (1938)

sampul novel Di Bawah Lindungan Ka'bah
sampul novel Di Bawah Lindungan Ka'bah (gramedia.com)

Novel Di Bawah Lindungan Ka’bah memiliki kemiripan dengan Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, yaitu menggambarkan tokoh Hamid dan Zainab yang jatuh cinta. Bedanya, Zainab berasal dari keluarga kaya, sementara Hamid berasal dari keluarga miskin yang tinggal bersama Zainab.

Hubungan Hamid dan Zainab yang dekat sedari kecil membuat benih-benih cinta muncul di antara mereka. Sayangnya, orang tua Zainab tak merestui hubungan mereka karena perbedaan status sosial.

Novel ini mengisyaratkan kisah klasik cinta tak sampai. Kisah seperti ini banyak disukai karena menguras emosi dan mengangkat isu yang lebih besar. Dahulu, perbedaan status sosial menjadi hambatan dua orang untuk saling mencintai. Namun, sekarang norma itu makin longgar.

Sebagian besar novel-novel era Pujangga Baru menyelipkan nilai-nilai modernitas di dalam kisah romantisme. Romansa menjadi alat untuk mengkritik nilai-nilai yang dianggap usang dan tak relevan. Konflik cinta dan batin juga banyak dialami individu yang banyak diusung oleh periode Pujangga Baru.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More