Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Polemik Lomba Cerdas Cermat di Kalbar, Pelajaran Berharga dari Peserta

Polemik Lomba Cerdas Cermat di Kalbar, Pelajaran Berharga dari Peserta
Lomba cerdas cermat MPR di Kalbar viral di medsos. (Dok. Youtube MPR RI).
Intinya Sih
  • Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI di Kalbar menuai sorotan karena perbedaan penilaian juri terhadap jawaban serupa dari dua sekolah peserta.
  • Peserta SMAN 1 Pontianak menunjukkan keberanian dan kesantunan saat menyampaikan protes atas keputusan juri yang dianggap tidak adil tanpa menyinggung pihak lain.
  • Sikap bijak peserta dalam menerima hasil lomba mencerminkan pola pikir tumbuh, menjadikannya contoh penting tentang keteguhan moral dan pembelajaran dari kegagalan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI Provinsi Kalimantan Barat tengah menjadi sorotan setelah penilaian juri yang berbeda terhadap jawaban yang sama. Kronologinya, dalam kompetisi antarsekolah tersebut, terdapat 3 grup dari sekolah yang berbeda. Dalam sesi pertanyaan rebutan, soal yang diajukan adalah proses pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), khususnya lembaga yang pertimbangannya wajib diperhatikan DPR dalam memilih anggota BPK.

Grup C dari SMAN 1 Pontianak menjadi peserta pertama yang menjawab bahwa anggota BPK dipilih DPR dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) serta diresmikan oleh presiden. Namun, salah satu juri memutuskan jawaban tersebut keliru dan memberikan nilai minus lima.

Kemudian, Grup B dari SMAN 1 Sambas menjawab pertanyaan yang sama dengan redaksi yang serupa. Masalahnya, juri membenarkan jawaban tersebut dan mendapatkan nilai 10. Keputusan tersebut diprotes oleh peserta dari grup C karena merasa dirinya telah menyebutkan jawaban benar. Sayangnya, bukan mendapat penilaian objektif, siswa SMAN 1 Pontianak tersebut justru diperingatkan terkait dengan artikulasi bicara.

Dari pengalaman yang diterima oleh siswa SMAN 1 Pontianak, masyarakat dan pelajar Indonesia dapat belajar beberapa hal, terutama soal keberanian dan sopan santun. Berikut beberapa di antaranya.

1. Memiliki keberanian untuk ungkap kekeliruan

Ilustrasi lomba cerdas cermat (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
Ilustrasi lomba cerdas cermat (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Tindakan yang paling disorot dari salah satu peserta Grup C adalah keberaniannya mengatakan kebenaran meski hal itu di ruang publik. Tentu keberanian ini tidak dilakukan secara impulsif dan emosional, namun dengan sikap yang santun dan menghormati forum.

Melansir Psychology Today, Psikolog Shauna H Springer Ph.D. mengungkap, keberanian merupakan kualitas pribadi yang mendorong orang untuk maju ke situasi 'berbahaya'. Memiliki sikap berani bukan berarti tak punya rasa takut, justru keberanian adalah sikap yang tetap dilakukan meski merasa takut.

Berani berarti menunda hak pribadi dan mengambil risiko untuk kepentingan orang lain atau nilai yang dipegang teguh. Sebab, pada dasarnya keberanian berasal dari bahasa Prancis coeur yang berarti hati. Oleh karenanya, memiliki keberanian artinya menunjukkan apa yang ada di hati. Sebab, menjadi pribadi yang berani membutuhkan keteguhan moral yang mendorong seseorang untuk mengambil risiko.

2. M⁠enyampaikan keberatan dengan sopan, tidak menghina secara personal

Ilustrasi anak ikut lomba cerdas cermat (pexels.com/Pavel Danilyuk)
Ilustrasi anak ikut lomba cerdas cermat (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Sikap positif lain dari peserta Grup C adalah sopan santun yang ditunjukkannya meski merasa keberatan atas suatu keputusan. Siswa tersebut menyanggah keputusan dengan sopan ketika membela hak dirinya. Ia tidak menghina orang lain maupun menilai keputusan orang lain secara emosional sehingga menimbulkan kemarahan.

Dan Kristen Monroe, Direktur Pusat Interdisipliner Universitas California Irvine untuk Studi Ilmiah Etika dan Moralitas, menyampaikan bahwa sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan manusia memiliki naluri alami tentang keadilan dan rasa hormat. Menurutnya, individu cenderung bertindak sebagaimana dia ingin diperlakukan, mencerminkan naluri moral tersebut.

Jadi, jika rasa hormat dan keadilan telah tertanam dalam diri seseorang, ia cenderung menghargai orang lain dalam tindakan besar maupun berbagai hal kecil. Dan menegaskan, menghargai sesama bukan hanya memberi manfaat bagi orang lain, akan tetapi membantu diri sendiri untuk menjadi pribadi bijak dan humanis.

3. Bijak dalam menghadapi kekalahan

ilustrasi lomba cerdas cermat untuk anak-anak (pexels.com/Arthur Krijgsman)
ilustrasi lomba cerdas cermat untuk anak-anak (pexels.com/Arthur Krijgsman)

Psikolog Universitas Stanford Carol Dweck (2015) pernah menulis tentang fix mindset dan growth mindset. Pola pikir ini kerap kali membedakan cara seorang anak dalam menghadapi kekalahan.

Anak-anak dengan growth mindset tak melihat kegagalan sebagai akhir segalanya. Pola pikir tumbuh cenderung mengarah pada keinginan untuk belajar dan cenderung bertahan meski mengalami kesulitan. Anak dengan growth mindset akan belajar dari kritik, menerima tantangan, dan terinspirasi untuk mengikuti jejak kesuksesan orang lain.

Sementara fixed mindset mneunjukkan kecenderungan yang bertolak belakang. Seorang anak dengan pola pikir tetap, akan melihat suatu kegagalan sebagai rintangan yang sebaiknya dihindari. Jika tak sukses, ia melihat tindakan tersebut sebagai usaha yang sia-sia dan menyerah karena merasa upayanya tak berguna. Baginya, kesuksesan orang lain adalah ancaman.

Sikap growth mindset ditunjukkan oleh peserta Grup C dari SMAN 1 Pontianak. Bukannya menghindari tantangan, ia berusaha bertahan dengan adanya hambatan. Ia juga menunjukkan kebijaksanaan saat menghadapi kegagalan.

Sejumlah pelajaran di atas bisa kita terapkan dalam kehidupan pribadi. Bersikap bijaksana dan tenang menjadi kuncinya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriyanti Revitasari
EditorFebriyanti Revitasari
Follow Us

Related Articles

See More