Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pentingnya Kerja Sama Suami Istri pada Awal Anak Sekolah

Pentingnya Kerja Sama Suami Istri pada Awal Anak Sekolah
ilustrasi keluarga (pexels.com/Pavel Danilyuk)
Intinya Sih
  • Kerja sama suami istri penting agar anak merasa aman dan semangat di awal masuk sekolah, terutama saat menghadapi rutinitas baru yang menuntut kesiapan bersama setiap pagi.
  • Pembagian peran antara ayah dan ibu membantu mengatasi tantangan seperti arah sekolah berbeda, mood swing anak, hingga tugas MPLS yang membutuhkan pendampingan aktif dari kedua orangtua.
  • Dengan kekompakan pasangan, tidak ada pihak yang merasa paling berkorban; suasana rumah jadi lebih tenang dan anak lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan serta jadwal sekolah barunya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Kerja sama antara pasangan suami istri penting mengingat tugas rumah tangga tak terhitung banyaknya. Apalagi terkait pengasuhan anak. Tanggung jawabnya sangat besar. Tugas ini tidak boleh hanya dibebankan pada ibu, misalnya.

Pun baik ayah maupun ibu sama-sama butuh membangun kedekatan dengan anak. Utamanya di awal anak masuk sekolah. Kalau cuma ibu yang repot, minggu-minggu pertama anak bersekolah bisa kacau.

Semangatnya dapat menurun. Anak mungkin sering tiba di sekolah terlambat, menolak belajar, hingga mogok sekolah. Pentingnya kerja sama suami istri pada awal anak sekolah agar si kecil merasa aman untuk pergi ke sekolah. Pokoknya baik kamu maupun pasangan kudu siap sama-sama bangun pagi.

1. Anak lebih dari satu sekolahnya beda arah

keluarga
ilustrasi keluarga (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Hanya ada satu anak saja, awal sekolah kadang penuh drama. Apalagi ada dua anak dan keduanya sama-sama baru mulai bersekolah. Misal, anak pertama masuk sekolah dasar. Anak kedua masuk TK.

Jika arah sekolah keduanya sama, tentu bisa diantar oleh ayah atau ibu saja. Apabila arahnya beda dan makan banyak waktu untuk ke sana ke mari, artinya harus ada pemecahan tim. Satu anak diantar ayah dan satu lagi diantar ibu.

Keputusan siapa yang mengantar siapa pun kadang gak mudah. Kedua anak ingin diantar oleh ayah atau ibunya saja. Situasi begini harus diantisipasi dengan penjelasan jauh-jauh hari serta kesepakatan.

Misal, anak sulung diantar ayah karena jarak sekolahnya cukup dekat dengan kantornya. Anak kedua ikut ibu. Sama sekali tidak berarti ayah lebih sayang pada kakak, sementara ibu sayangnya ke adik.

2. Mengantisipasi mood swing pada anak

mood swing
ilustrasi mood swing (pexels.com/Nicola Barts)

Mood swing atau perubahan suasana hati pada anak yang baru mulai bersekolah dapat terjadi. Penyebabnya, anak belum punya pengalaman bersekolah. Bila pun dia sudah menjalani 2 tahun di taman kanak-kanak, ia belum pernah menjadi murid SD.

Anak menjadi kesulitan membayangkan suasananya. Apakah bersekolah di tingkat SD lebih menyenangkan daripada TK atau justru sebaliknya? Ini bisa membuatnya masih bersemangat bersekolah tadi malam.

Namun, paginya tahu-tahu bad mood dan takut ke sekolah. Kalau hanya salah satu orangtua yang menghadapinya, pasti sulit bersabar. Ada banyak kesibukan di pagi hari, seperti menyiapkan sarapan. Pasangannya wajib ikut turun tangan.

3. MPLS kadang ada tugas

keluarga
ilustrasi keluarga (pexels.com/Werner Pfennig)

MPLS atau Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah bertujuan untuk membantu adaptasi siswa baru. Baik dengan lingkungan sekolah maupun cara belajar di jenjang pendidikan yang baru. Kegiatannya bermacam-macam.

Seperti aktivitas seru bersama teman-teman baru, mendengarkan arahan wali kelas dan guru-guru, sampai tugas untuk dikerjakan di rumah. Tugasnya tentu bukan langsung tugas pelajaran. Akan tetapi, seperti keterampilan membuat sesuatu.

Contohnya, kerajinan tangan berupa gambar atau aneka hiasan. Dengan kerja sama suami istri, tugas-tugas apa pun lebih mudah diselesaikan. Kamu dan pasangan bisa membagi tugas. Siapa yang belanja bahan dan peralatan serta mengajari anak membuatnya. Atau, satu orang fokus mendampingi anak mengerjakan tugasnya dan satu lagi membereskan urusan rumah lainnya.

4. Bikin anak lebih mantap pergi ke sekolah

keluarga
ilustrasi keluarga (pexels.com/August de Richelieu)

Buat orang dewasa, urusannya sesimpel berangkat ke sekolah. Tidak ada yang perlu ditakutkan oleh anak. Di mana-mana guru kelas 1 sudah berpengalaman menyambut murid baru.

Pihak sekolah pasti akan membuat lingkungannya senyaman mungkin untuk anak. Akan tetapi, bagi anak, urusannya bisa gak sesederhana itu. Anak yang baru bersekolah sering merasa ragu untuk berangkat. Rasanya jauh lebih nyaman tetap di rumah.

Terlebih kalau anak baru masuk SD. Jam masuknya ketika TK lebih siang. Begitu anak masuk SD dan kudu berangkat lebih pagi, kesadarannya seperti belum penuh. Ditambah, ia belum memiliki teman dekat di sekolah. Kedua orangtua wajib kompak kasih dukungan pada anak.

5. Gak ada yang merasa paling berkorban waktu, tenaga, dan pekerjaan

berangkat sekolah
ilustrasi berangkat sekolah (pexels.com/ujangubed hidayat)

Mengurus anak dalam situasi apa pun tidak pernah mudah. Utamanya ketika kamu juga harus bekerja. Tanpa keterlibatan pasangan, dirimu pasti capek dan kesal. Seolah-olah anak cuma menjadi tanggung jawabmu.

Kamu sampai tidak bisa fokus pada pekerjaan karena mesti mengurus segala keperluan anak sebelum berangkat ke sekolah. Belum lagi nanti soal menjemputnya dan mendampinginya mengerjakan tugas buat besok. Anak yang masuk sekolah, tapi dirimu yang paling stres.

Ajak pasangan untuk bareng-bareng membersamai anak yang akan masuk sekolah. Kehadirannya secara fisik maupun emosional di sisimu tidak hanya meringankan tugas. Akan tetapi, juga membuatmu lebih tenang serta terhindar dari perasaan tertekan.

Ketika anak mulai masuk sekolah, kesibukan di rumah bertambah. Khususnya di pagi buta serta malamnya. Bukan masanya menaruh tanggung jawab sebesar ini ke pundak satu orang saja. Oleh sebab itu, pentingnya kerja sama suami istri pada awal anak sekolah begitu berarti. Baik ayah maupun ibu mesti bahu-membahu supaya anak lebih mudah menyesuaikan diri dengan rutinitas barunya dan kalian gak kelelahan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo

Related Articles

See More