ilustrasi merasa bersalah (pexels.com/www.kaboompics.com)
Ada kalanya seseorang merasa tertinggal ketika melihat orang lain menjalani kehidupan yang tampak lebih menyenangkan. Perasaan itu manusiawi, tetapi menjadi masalah ketika rasa iri dilampiaskan dengan membuat orang lain merasa bersalah. Misalnya, kamu menyindir teman yang sedang berlibur karena dianggap tidak peduli dengan orang-orang yang sedang kesulitan, padahal kamu tidak mengetahui bagaimana ia mengatur keuangan atau apa yang sudah dilakukannya untuk membantu orang lain.
Perilaku ini membuat seseorang merasa harus menyembunyikan kebahagiaannya agar tidak dianggap egois atau tidak peka. Ia mungkin berhenti membagikan kabar baik, merasa tidak enak ketika menikmati waktu luang, atau terus membenarkan keputusan pribadi yang sebenarnya tidak merugikan siapa pun. Empati memang berarti peduli terhadap kesulitan orang lain, tetapi bukan berarti setiap orang harus merasa bersalah ketika hidupnya sedang berjalan dengan baik. Kamu boleh merasa sedih atas keadaan sendiri tanpa harus menjadikan kebahagiaan orang lain sebagai sesuatu yang patut disalahkan.
Kita tidak selalu bisa mengetahui apa yang dirasakan orang lain setelah berinteraksi dengan kita. Meski begitu, bukan berarti perilaku yang tanpa sadar membunuh kebahagiaan orang lain tidak kamu pedulikan. Terlebih jika perilaku yang sama terus berulang hingga membuat orang lain enggan berbagi cerita. Belajar menghargai kebahagiaan orang lain bukan berarti harus selalu setuju dengan pilihan mereka, melainkan memahami bahwa tidak semua hal perlu dibandingkan, dikritik, atau dijadikan bahan sindiran. Menurutmu, perilaku apa yang paling sering dianggap sepele, padahal bisa membuat seseorang kehilangan kebahagiaannya?