Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Poin Penting dari Buku Rich Dad Poor Dad yang Perlu Dikritisi Gen Z

Poin Penting dari Buku Rich Dad Poor Dad yang Perlu Dikritisi Gen Z
Buku Rich Dad Poor Dad (pexels.com/Abdullah Alsaibaie)
Intinya Sih
  • Buku Rich Dad Poor Dad masih populer, tapi beberapa pandangannya dianggap kurang relevan bagi Gen Z karena konteks ekonomi dan sosial sudah banyak berubah.
  • Gen Z disarankan mengkritisi ajaran buku ini, terutama soal risiko finansial, pandangan terhadap pekerjaan tetap, serta realitas bisnis dan investasi yang tidak sesederhana teori.
  • Meskipun begitu, pesan tentang pentingnya literasi finansial dan memahami perbedaan aset serta liabilitas tetap relevan untuk membangun kesadaran keuangan generasi muda.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Meski dirilis bersamaan dengan lahirnya gen Z generasi pertama, buku Rich Dad Poor Dad tetap eksis berada di kolom “terlaris” di toko buku. Penyampaian Robert Kiyosaki mengenai finansial mudah diterima oleh semua umur. Sayangnya, beberapa pihak berpendapat pelajaran yang ada di buku tersebut sudah tidak relevan lagi, mengingat sudah hampir 3 dekade Rich Dad Poor Dad bersaing dengan buku nasihat finansial modern.

Situs Five Years to Financial Freedom tidak mengelak pendapat tersebut, tetapi di saat bersamaan mereka juga menyarankan untuk tetap menggunakan Rich Dad Poor Dad sebagai permulaan dengan beberapa poin yang perlu direnungkan dan dikritisi. Jadi, bagi gen Z yang sedang mencoba melek finansial menggunakan Rich Dad Poor Dad, berikut lima poin penting yang perlu kalian pertimbangkan!

1. Tidak semua orang punya privilege untuk mengambil risiko

Mempertimbangkan konsekuensi sebelum mengambil risiko
Mempertimbangkan konsekuensi sebelum mengambil risiko (pexels.com/Hanna Pad)

Rich Dad Poor Dad berulang kali mendorong pembaca untuk berani mengambil risiko finansial. Pernyataan tersebut memang terdengar inspiratif, tetapi tidak semua gen Z bisa mulai dari nol dengan aman.

Di ekonomi yang seperti ini, faktor seperti tanggungan keluarga, gaji pas-pasan, dan minimnya tabungan membuat risiko menjadi keputusan besar, bukan sekadar soal pola pikir. Jadi, jika kalian ingin mengambil risiko, pertimbangkan konsekuensi nyata yang mungkin terjadi, yang tidak dibahas di buku.

2. Pekerjaan bergaji tetap tidak selalu berarti jebakan

Menabung rutin dari gaji tetap
Menabung rutin dari gaji tetap (pexels.com/Karolina Grabowska www.kaboompics.com)

Narasi “kerja kantoran adalah jebakan” beberapa kali ditekankan dalam buku ini. Padahal, banyak gen Z yang menjadikan pekerjaan tetap sebagai pijakan awal untuk belajar, bertahan, dan mambangun stabilitas.

Bahkan, dari gaji tetap itu gen Z bisa menerapkan nasihat Robert untuk menabung. Di buku ini pula, Robert menekankan bahwa menyisihkan uang untuk ditabung adalah suatu kewajiban. Sisihkan dulu beberapa uang untuk ditabung, baru dibelanjakan sisanya. Bukan sebaliknya!

3. Bisnis dan investasi terlihat lebih mudah di buku

Perhitungan pemasukan dan pengeluaran
Perhitungan pemasukan dan pengeluaran (pexels.com/Pixabay)

Meski terdapat banyak perhitungan akuntansi di dalam buku Rich Dad Poor Dad yang menunjukkan bahwa bisnis dan investasi tidak hanya mendapatkan uang, terdapat satu variabel yang tidak disebutkan: waktu. Perhitungan investasi terasa tanpa risiko ketika jelas pemasukan dan pengeluarannya. Tetapi, bagaimana jika pemasukan itu tidak tentu? Bagaimana jika real estate itu tidak kunjung mendapatkan pembeli? Tanpa konteks ini, gen Z bisa merasa kurang berani, padahal sedang berpikir realistis.

4. Kebebasan finansial bukan satu-satunya tujuan

Financial freedom
Financial freedom (pexels.com/Karolina Grabowska www.kaboompics.com)

Buku ini menjadikan kebebasan finansial sebagai tujuan utama dari semua pembelajaran finansial yang telah disampaikan. Dan memang, kebebasan finansial adalah impian setiap generasi.

Tetapi bagi gen Z, kebebasan finansial bukanlah satu-satunya. Kesehatan mental, waktu untuk teman dan keluarga, rasa aman, serta pekerjaan yang sesuai dengan nilai pribadi juga menjadi tujuan. Bahkan, para gen Z tidak hanya mencari gaji dalam bekerja, tetapi juga relasi dan pengembangan diri.

5. Konteks ekonomi yang sudah berbeda jauh

Hasil belanja di ekonomi jaman sekarang
Hasil belanja di ekonomi jaman sekarang (pexels.com/Karolina Grabowska www.kaboompics.com)

Buku ini ditulis dalam kondisi ekonomi yang sangat berbeda dengan sekarang. Harga rumah, biaya hidup, dan peluang investasi tidak lagi sama. Gen Z berada dalam permainan yang aturannya sudah berubah.

Tetapi, ada satu nasihat dari Robert Kiyosaki yang bisa diambil, yaitu pentingnya literasi finansial. Pemahaman mengenai cara kerja uang, pajak, aset, dan liabilitas dapat mendukung kesadaran finansial yang akan mempermudah langkah jika ingin berbisnis atau berinvestasi di kemudian hari.

Meski banyak poin penting yang harus dipertimbangkan dan dikritisi dari buku Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki ada benarnya saat menyampaikan aset dan liabilitas adalah hal dasar yang sangat perlu dipelajari, terutama oleh gen Z. Di sinilah psikologi keuangan benar-benar berperan. Ini keinginan atau kebutuhan? Membeli atau menahan? Akankah gaji yang didapatkan setiap bulan itu ditabung, digunakan untuk membeli sesuatu yang bernilai jangka panjang, atau digunakan untuk membeli tumbler?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Muhammad Tarmizi Murdianto
EditorMuhammad Tarmizi Murdianto
Follow Us