Ilustrasi merenung (pexels.com/Mert Coşkun)
Quarter life crisis bisa memengaruhi berbagai aspek kehidupan. Kamu mungkin jadi lebih mudah overthinking, merasa tidak percaya diri, atau kehilangan motivasi. Bahkan hal kecil bisa terasa lebih berat dari biasanya.
"Kamu merasa depresi. Kamu mungkin merasa sangat kewalahan oleh pertanyaan eksistensial dan merasa terputus dalam kehidupan sehari-hari, ketika kamu tidak tahu siapa dirimu atau apa yang kamu hargai, menyebabkan perasaan depresi," kata pekerja sosial Abby Wilson dikutip dari Project Healthy Minds.
Dalam beberapa kasus, kondisi ini juga bisa memengaruhi hubungan dengan orang lain. Kamu mungkin jadi menarik diri, merasa tidak dimengerti, atau sulit mengambil keputusan dalam hubungan.
"Kita lebih menyukai hasil yang bisa kita prediksi atau lihat, dan karena kekacauan dekade ini dan keputusan yang perlu kita buat, secara alami bisa memicu banyak stres dan ketidaknyamanan psikologis," kata Jemma.
Namun di balik itu, ada sisi positif yang bisa muncul. Fase ini sering kali menjadi titik awal perubahan. Banyak orang justru menemukan passion, tujuan hidup, atau jalan baru setelah melewati masa ini.
“Melihat (quarter life crisis) sebagai kesempatan untuk menemukan kembali vitalitas kamu, apa yang benar-benar membuatmu merasa hidup, bisa sangat mengasyikkan, meskipun prosesnya tidak mudah atau nyaman,” saran Wilson.