Bookthrifting memang punya kesenangan yang berbeda dari sekadar membeli buku di toko. Ada sensasi saat menemukan judul lama, sampul yang sudah tidak dicetak, buku dengan harga miring, atau novel yang tiba-tiba muncul di antara tumpukan judul yang tidak dikenal.
4 Tanda Kamu Book Thrifting Bukan karena Ingin Membaca

- Antusiasme membeli buku tidak berlanjut saat membaca; banyak buku hanya dibuka beberapa halaman lalu kembali disimpan karena sensasi menemukan lebih dominan.
- Fokus pada lokasi, harga, kondisi, dan penataan koleksi ketimbang isi buku menunjukkan kepuasan utama datang dari proses berburu serta memiliki buku.
- Perhatian yang cepat beralih ke judul baru membuat buku lama terasa kurang menarik, sehingga rasa penasaran terhadap temuan baru mengalahkan komitmen menyelesaikan bacaan.
Masalahnya, kesenangan mencari buku kadang bisa lebih besar daripada keinginan untuk membacanya. Kalau belakangan rak makin penuh tetapi waktu membaca tidak bertambah, mungkin ada beberapa kebiasaan yang patut diperhatikan. Berikut tanda kamu melakukan aktivitas book thrifting bukan karena ingin membaca.
1. Tidak punya rasa ingin lanjut baca setelah buku dibuka

ilustrasi membaca (unsplash.com/Clay Banks) Ada orang yang membeli buku dengan antusias, tetapi begitu sampai rumah, bukunya hanya dibuka sebentar lalu ditaruh kembali. Bukan karena sedang tidak punya waktu membaca, melainkan karena rasa penasaran terhadap isinya memang tidak pernah sebesar rasa senang ketika menemukan buku tersebut. Kalau hampir setiap buku hasil bookthrifting berakhir seperti ini, mungkin yang menarik perhatianmu sejak awal bukan bacaannya.
Coba ingat beberapa buku terakhir yang kamu beli, lalu pikirkan mana yang benar-benar membuatmu penasaran sampai ingin membalik halaman berikutnya. Kalau sebagian besar hanya sempat dibuka, dibaca beberapa halaman, kemudian kembali masuk rak, ada kemungkinan kamu lebih menikmati proses mendapatkan bukunya. Buku tersebut terasa istimewa ketika masih menjadi barang temuan, tetapi daya tariknya berkurang setelah berhasil menjadi milik sendiri.
2. Lebih hafal tempat membeli buku daripada isi bukunya

ilustrasi bookthrifting (pexels.com/Sami TÜRK) Kamu mungkin masih ingat toko mana yang punya rak buku bekas paling murah, lapak mana yang sering menjual novel lama, atau penjual mana yang koleksinya sering diperbarui. Bahkan, kamu bisa tahu kapan waktu terbaik untuk datang karena biasanya ada kiriman buku baru yang belum sempat dibongkar pembeli lain. Mengetahui hal-hal seperti ini tentu menyenangkan, tetapi coba lihat apakah perhatian yang sama juga kamu berikan pada buku yang sudah dibeli.
Bisa jadi kamu lebih sering bercerita tentang bagaimana menemukan sebuah buku daripada membicarakan cerita di dalamnya. Ketika ada teman bertanya sudah membaca atau belum, jawabannya malah masih seputar harga, kondisi buku, atau tempat membelinya. Kalau bagian paling berkesan dari sebuah buku selalu terjadi sebelum buku itu dibaca, mungkin kegiatan berburunya memang sudah menjadi kesenangan utama.
3. Lebih sibuk mengurus koleksi daripada menikmati isinya

ilustrasi rak buku (unsplash.com/Kamil Kalkan) Menata buku memang bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan, apalagi kalau koleksinya sudah mulai banyak. Kamu mungkin suka mengelompokkan buku berdasarkan penulis, genre, ukuran, atau bahkan warna sampul supaya rak terlihat lebih rapi. Tidak ada yang salah dengan menikmati buku sebagai bagian dari koleksi, tetapi masalahnya muncul kalau aktivitas tersebut hampir tidak pernah berlanjut menjadi kegiatan membaca.
Kamu lebih aktif menyusun rak, sedangkan bukunya sendiri jarang disentuh. Kamu bisa tahu buku mana yang sampulnya paling bagus atau mana yang paling sulit ditemukan, tetapi tidak tahu cerita mana yang paling kamu sukai karena belum sempat membacanya. Dalam kondisi seperti ini, buku lebih banyak memberikan kepuasan karena berhasil dimiliki daripada karena memberikan pengalaman sebagai bacaan.
4. Setiap menemukan buku baru, buku lama langsung terasa kurang menarik

ilustrasi membeli buku (pexels.com/Ali Khalil) Terakhir, tanda bahwa kegiatan book thrifting bukan karena ingin membaca adalah koleksi lamamu yang terlupakan. Kamu baru saja membeli satu buku dan mungkin belum sampai separuh halaman, tetapi begitu melihat judul lain yang lebih menarik, perhatian langsung pindah ke sana. Buku yang tadi membuatmu penasaran mendadak terasa biasa saja, seolah-olah ada sesuatu yang lebih seru hanya karena kamu menemukan pilihan baru. Akibatnya, kamu terus merasa buku yang sedang ada di tanganmu bukan pilihan yang tepat, padahal beberapa hari sebelumnya kamu sendiri yang begitu ingin memilikinya.
Kebiasaan ini bisa terlihat dari cara kamu menentukan bacaan. Setiap menemukan buku baru, kamu langsung merasa ingin mengganti buku yang sedang dibaca, bukan karena ceritanya memang tidak bagus, tetapi karena ada rasa penasaran terhadap sesuatu yang belum dimiliki. Kalau hal itu terjadi hampir setiap kali bookthrifting, bisa jadi yang membuatmu senang bukan proses membaca sampai selesai, melainkan perasaan bahwa selalu ada buku lain yang lebih menarik untuk ditemukan.
Suka berburu buku dan suka membaca bukan selalu hal yang sama. Ada orang yang memang menikmati mencari buku-buku lama, memperhatikan sampulnya, atau merasa puas setelah menemukan judul yang sulit dicari. Kalau kamu mulai menyadari bahwa bagian paling menyenangkan justru terjadi sebelum buku dibuka, mungkin yang sedang kamu sukai memang kegiatan bookthrifting itu sendiri.




















