Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Tanda FOMO mulai Memengaruhi Cara Kamu Memakai Uang

5 Tanda FOMO mulai Memengaruhi Cara Kamu Memakai Uang
ilustrasi perempuan menghitung uang (pexels.com/Karola G)
  • Paparan berulang terhadap produk di media sosial dapat memicu pembelian impulsif, meski barang awalnya tidak dibutuhkan.
  • FOMO terlihat saat promo terbatas atau tren lingkungan mendorong pengeluaran di luar rencana demi menghindari rasa tertinggal.
  • Penyesalan setelah membeli barang viral dan perubahan anggaran dari kebutuhan atau tabungan menjadi tanda tren mulai mengganggu prioritas keuangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah membeli sesuatu hanya karena barang tersebut sedang ramai dibicarakan, lalu beberapa hari kemudian malah bertanya untuk apa membelinya? FOMO bukan cuma membuat seseorang ingin tahu atau ikut mencoba sesuatu yang sedang tren. Tanpa disadari, rasa takut ketinggalan juga bisa memengaruhi keputusan dalam menggunakan uang.

Permasalahannya adalah pengeluaran karena FOMO sering terasa wajar karena nominalnya tidak selalu besar. Namun, kalau terus berulang, kebiasaan tersebut bisa membuat uang lebih banyak digunakan untuk mengejar tren daripada memenuhi kebutuhan sendiri. Yuk, kenali beberapa tanda FOMO mulai memengaruhi cara kamu memakai uang biar dirimu tak terjebak lagi!

  1. 1. Sering membeli barang setelah melihatnya berulang kali di media sosial

    ilustrasi belanja online
    ilustrasi belanja online (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

    Awalnya mungkin kamu sama sekali tidak terpikir untuk membeli suatu barang. Namun, setelah berkali-kali melihat orang mengulas, memakai, atau merekomendasikannya, muncul rasa penasaran untuk ikut memilikinya. Barang yang sebelumnya terasa biasa saja perlahan berubah menjadi sesuatu yang seolah perlu segera dibeli.

    Keputusan seperti ini belum tentu selalu buruk, apalagi kalau barang tersebut memang berguna. Namun, coba beri sedikit waktu sebelum menekan tombol checkout agar kamu bisa mempertimbangkannya dengan lebih tenang. Jangan sampai keinginan membeli sebenarnya muncul hanya karena kamu terlalu sering melihat barang yang sama di media sosial.

  2. 2. Sulit melewatkan promo karena takut kesempatan keburu hilang

    ilustrasi orang memainkan ponsel
    ilustrasi orang memainkan ponsel (pexels.com/SHVETS production)

    Tulisan 'tinggal hari ini', hitung mundur promo, atau pemberitahuan stok terbatas bisa membuat keputusan belanja terasa mendesak. Kamu akhirnya membeli sesuatu lebih cepat karena khawatir harga akan kembali normal atau barang keburu habis. Padahal, sebelumnya barang tersebut mungkin tidak masuk dalam daftar belanja.

    Promo memang bisa membantu menghemat uang ketika digunakan untuk membeli sesuatu yang dibutuhkan. Sebaliknya, diskon justru menambah pengeluaran jika membuatmu membeli barang yang sebenarnya tidak direncanakan. Sebelum tergoda, coba pikirkan apakah kamu tetap menginginkan barang tersebut seandainya tidak sedang mendapat potongan harga.

  3. 3. Ikut membeli agar tidak merasa berbeda dari lingkungan sekitar

    ilustrasi perempuan berbelanja
    ilustrasi perempuan berbelanja (pexels.com/Ron Lach)

    Ketika teman-teman mulai menggunakan barang tertentu, mencoba tempat baru, atau mengikuti suatu tren, kamu mungkin merasa ingin melakukan hal yang sama. Bukan karena benar-benar membutuhkannya, tetapi ada kekhawatiran akan merasa tertinggal jika tidak ikut. Akhirnya, pengeluaran pun menyesuaikan dengan apa yang sedang dilakukan lingkungan sekitar.

    Sesekali mengikuti keseruan bersama tentu bukan masalah selama masih sesuai kemampuan. Namun, kondisi finansial setiap orang berbeda sehingga standar pengeluaran orang lain tidak selalu cocok diterapkan pada diri sendiri. Penting untuk diingat bahwa kamu tetap bisa menikmati pertemanan tanpa harus memiliki atau mencoba semua hal yang temanmu lakukan.

  4. 4. Sering menyesal setelah membeli sesuatu yang sedang viral

    wanita sedang merenung
    wanita sedang merenung (pexels.com/Alena Darmel)

    Rasa senang ketika berhasil mendapatkan barang viral terkadang hanya bertahan sebentar. Setelah tren mulai mereda, barang tersebut malah jarang digunakan dan kamu mulai mempertanyakan alasan membelinya. Penyesalan biasanya muncul ketika sadar bahwa uang sebenarnya bisa digunakan untuk sesuatu yang lebih diperlukan.

    Pengalaman seperti ini dapat menjadi petunjuk untuk mengenali pola belanjamu sendiri. Coba perhatikan jenis pembelian apa yang paling sering berakhir dengan penyesalan dan apa yang biasanya memicunya. Lewat cara tersebut, kamu bisa lebih mudah berhenti sejenak ketika menghadapi godaan serupa di kemudian hari.

  5. 5. Anggaran sering berubah demi mengikuti sesuatu yang sedang tren

    ilustrasi menghitung uang
    ilustrasi menghitung uang (pexels.com/Karolina Grabowska)

    Kamu mungkin sudah mempunyai rencana penggunaan uang untuk satu bulan, tetapi kemudian muncul tren yang terasa sayang untuk dilewatkan. Uang yang awalnya dialokasikan untuk kebutuhan atau tabungan akhirnya dipindahkan agar kamu bisa ikut membeli atau mencoba sesuatu. Jika terus terjadi, rencana keuangan pun menjadi sulit berjalan sesuai tujuan.

    Fleksibilitas terhadap anggaran memang diperlukan karena kebutuhan tidak selalu dapat diprediksi. Namun, tren yang terus berganti sebaiknya tidak selalu menjadi alasan untuk mengorbankan prioritas yang sudah dibuat. Menentukan batas khusus untuk pengeluaran hiburan bisa membantumu tetap menikmati hal yang disukai tanpa mengganggu kebutuhan yang lebih penting.

    FOMO memang mudah muncul ketika setiap hari kita melihat apa yang sedang dibeli, dicoba, dan dinikmati orang lain. Namun, tidak semua hal yang sedang ramai harus masuk ke keranjang belanja atau menjadi bagian dari gaya hidupmu. Mengenali tanda FOMO mulai memengaruhi cara kamu memakai uang dapat membantumu tetap menikmati tren tanpa membuat kondisi finansial ikut kewalahan. Yuk, dikuatkan lagi niat nabungnya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More