Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Spiritual Bypassing, 7 Tanda Spiritualitas Dipakai Menghindari Masalah
Meditasi (pexels.com/George)
  • Spiritual bypassing adalah penggunaan keyakinan atau praktik spiritual untuk menghindari, menekan, atau mengesampingkan emosi serta persoalan psikologis yang belum selesai.
  • Tandanya meliputi memaksa berpikir positif, pasrah tanpa langkah nyata, menekan emosi lewat praktik spiritual, menghindari konflik, dan menganggap penderitaan sebagai kurang spiritual.
  • Spiritualitas dapat berjalan bersama kesehatan mental: akui emosi, hadapi masalah dan konflik, tetapkan batasan, serta cari bantuan profesional bila diperlukan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Belakangan ini, pembicaraan tentang kesehatan mental semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kita jadi lebih familiar dengan istilah seperti healing, mindfulness, positive thinking, hingga self-love. Berbagai konsep tersebut memang bisa membantu seseorang memahami diri dan menghadapi masa sulit. Namun, ada kalanya praktik spiritual atau pola pikir positif justru digunakan untuk menghindari emosi dan masalah yang sebenarnya perlu dihadapi.

Fenomena ini dikenal sebagai spiritual bypassing. Istilah ini merujuk pada kecenderungan menggunakan keyakinan atau praktik spiritual untuk menghindari, menekan, atau mengesampingkan persoalan psikologis yang belum terselesaikan. Memahaminya bukan berarti menganggap spiritualitas sebagai sesuatu yang buruk, melainkan melihat bagaimana spiritualitas sebaiknya berjalan berdampingan dengan proses menghadapi realitas. Yuk, kenali polanya lebih dalam pada penjelasan berikut!

1. Terlalu cepat mencari sisi positif dari masalah

ilustrasi seorang wanita yang memejamkan mata sambil tersenyum (pexels.com/Yana Bulgak)

Ketika mengalami sesuatu yang menyakitkan, kita mungkin langsung mengatakan, “Pasti ada hikmahnya,” atau “Aku harus tetap positif.” Kalimat seperti ini sebenarnya tidak selalu salah. Melihat sisi positif dari pengalaman sulit bahkan bisa menjadi bagian dari proses seseorang untuk bangkit.

Masalahnya muncul ketika keinginan untuk selalu berpikir positif membuat emosi negatif dianggap tidak boleh ada. Perasaan sedih, kecewa, marah, atau takut kemudian buru-buru ditekan karena dianggap sebagai tanda kurang bersyukur. Padahal, menerima emosi tidak sama dengan menyerah pada emosi tersebut.

2. Menganggap semua masalah cukup diselesaikan dengan berdamai

ilustrasi sahabat yang memeluk temannya yang menangis (pexels.com/Liza Summer)

Konsep menerima keadaan memang dapat membantu kita menghadapi sesuatu yang berada di luar kendali. Namun, menerima realita bukan berarti berhenti melakukan sesuatu terhadap situasi yang sebenarnya masih bisa diubah.

Misalnya, seseorang sedang menghadapi konflik dalam hubungan, masalah pekerjaan, atau situasi yang membuatnya terus tertekan. Mengatakan “Aku harus menerima semuanya” mungkin terasa menenangkan untuk sementara, tetapi belum tentu menyelesaikan akar persoalannya. Ada kalanya menerima keadaan justru perlu diikuti dengan percakapan, membuat batasan, mengambil keputusan, atau mencari bantuan.

3. Menggunakan spiritualitas untuk menekan emosi

Ilustrasi meditasi (pexels.com/Mikhail Nilov)

Salah satu pola yang sering dikaitkan dengan spiritual bypassing adalah spiritualizing negative emotions, yaitu memandang emosi sulit sebagai sesuatu yang harus segera dihilangkan melalui praktik spiritual. Akibatnya, seseorang mungkin terus berusaha bermeditasi, berdoa, atau melakukan afirmasi positif bukan untuk memahami emosinya, tetapi agar tidak perlu merasakan emosi tersebut.

Padahal, praktik spiritual dan proses emosional tidak harus dipertentangkan. Seseorang bisa tetap bermeditasi sekaligus mengakui bahwa dirinya sedang marah atau sedih. Justru, memberi ruang pada emosi dapat membantu kita memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi sebelum menentukan langkah berikutnya.

4. Menganggap bantuan profesional tidak diperlukan

ilustrasi seorang wanita yang menangis (pexels.com/Polina Zimmerman)

Ada perbedaan antara menggunakan spiritualitas sebagai salah satu sumber dukungan dan menganggap spiritualitas sebagai pengganti seluruh bentuk bantuan. Ketika seseorang menghadapi masalah kesehatan mental yang mengganggu kehidupan sehari-hari, dukungan profesional seperti psikolog atau psikiater dapat menjadi bagian penting dari proses penanganan.

Karena itu, kalimat seperti “Coba lebih banyak bersyukur” atau “Semua ada di pikiranmu” tidak selalu cukup untuk membantu seseorang yang sedang mengalami masalah serius. Dukungan spiritual bisa tetap memiliki tempat, tetapi tidak seharusnya membuat seseorang merasa bersalah karena membutuhkan bantuan profesional.

5. Menganggap penderitaan sebagai tanda kurang spiritual

ilustrasi seorang wanita yang menatap ke depan (pexels.com/Nicky Manosalva)

Pernah mendengar anggapan bahwa seseorang masih merasa sedih karena belum cukup bersyukur atau belum cukup dekat dengan Tuhan? Cara pandang seperti ini bisa membuat orang yang sedang kesulitan justru merasa semakin bersalah.

Padahal, mengalami emosi sulit merupakan bagian dari pengalaman manusia. Seseorang bisa memiliki keyakinan spiritual yang kuat sekaligus merasa sedih, marah, cemas, atau kecewa. Kondisi emosional tidak selalu menjadi ukuran kualitas spiritual seseorang. Memisahkan keduanya dapat membantu kita lebih berempati terhadap diri sendiri maupun orang lain.

6. Menggunakan energi positif untuk menghindari konflik

ilustrasi pasangan yang saling berpelukan (unsplash.com/ Michael Walk)

Keinginan untuk menjaga kedamaian memang baik, tetapi tidak semua konflik harus dihindari. Ada situasi ketika kita perlu menyampaikan ketidaksetujuan, menetapkan batasan, atau membicarakan sesuatu yang tidak nyaman.

Kalimat seperti “Aku tidak mau energi negatif” bisa menjadi pilihan yang sehat jika maksudnya menjaga batas diri. Namun, jika digunakan setiap kali ada percakapan sulit agar masalah tidak perlu dibicarakan, spiritualitas justru bisa menjadi cara untuk menghindari realita. Kedamaian yang sehat tidak selalu berarti tidak adanya konflik; terkadang, kedamaian justru muncul setelah kita berani menghadapi percakapan yang sulit.

7. Memahami bahwa spiritualitas dan kesehatan mental bisa berjalan bersama

ilustrasi proses meditasi (unsplash.com/Sage Friedman)

Membahas spiritual bypassing bukan berarti kita harus meninggalkan spiritualitas, meditasi, doa, afirmasi, atau praktik refleksi diri. Semua itu dapat memiliki makna bagi seseorang. Yang perlu diperhatikan adalah fungsi dari praktik tersebut dalam menghadapi masalah.

Apakah praktik tersebut membantu kita memahami diri, menerima emosi, dan menghadapi kenyataan dengan lebih jernih? Atau justru digunakan agar kita tidak perlu memikirkan masalah yang menyakitkan? Pertanyaan sederhana ini bisa membantu membedakan antara menggunakan spiritualitas sebagai sumber dukungan dan menggunakannya untuk menghindari persoalan.

Menghadapi kehidupan tidak selalu berarti harus memilih antara spiritualitas atau kesehatan mental. Keduanya dapat berjalan berdampingan. Kita bisa mencari ketenangan melalui praktik spiritual sekaligus mengakui rasa sedih, mencari bantuan ketika diperlukan, menyelesaikan konflik, dan mengambil langkah nyata terhadap masalah yang sedang dihadapi.

Menjadi positif tidak berarti harus selalu merasa baik. Begitu pula menerima keadaan bukan berarti berhenti berusaha. Terkadang, bentuk penerimaan yang paling sehat justru dimulai dari keberanian untuk mengakui, “Ya, ini memang sedang sulit,” sebelum kemudian mencari tahu apa yang bisa dilakukan untuk menghadapinya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article