Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tanda Belum Merdeka Secara Finansial, Bukan Sekadar Mandiri
ilustrasi pusing berpikir (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)
  • Belitan utang dan cicilan yang melebihi pendapatan, hingga kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, menjadi tanda kuat kondisi finansial belum merdeka.
  • Kebutuhan yang tercukupi belum cukup bila keinginan sederhana terus tertahan, atau seseorang hanya bekerja menghasilkan uang tanpa bisa menikmati hasilnya.
  • Kemerdekaan finansial juga terkait ketenangan psikologis dan otonomi: tidak dikuasai ketakutan masa depan, jatah uang minim dari orang lain, maupun FOMO gaya hidup.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Telah sejauh mana pencapaianmu terkait keuangan? Apakah kamu merasa hidupmu sudah sejahtera atau sebenarnya belum? Kalau dari segi finansial dirimu belum mencapai level merdeka, hidup menjadi tidak tenang.

Merdeka finansial bukan sekadar kamu dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Masih ada aspek-aspek lain yang kudu terpenuhi supaya dirimu bisa disebut merdeka dalam hal ekonomi. Tanpa kemerdekaan finansial, hidup tetap kurang bahagia.

Bahkan ketika kamu sebenarnya punya banyak uang. Oleh sebab itu, memiliki uang tetap penting, tetapi bukan segalanya. Dirimu masih di posisi terjajah dan terbelenggu jika situasi hidupmu seperti di bawah ini. Berikut adalah tanda belum merdeka secara finansial.

1. Belitan utang dan cicilan yang bikin pusing

ilustrasi melamun (pexels.com/Nguyễn Hùng)

Utang serta cicilan yang telah memberatkanmu sama seperti rantai kehidupan. Kamu terpasung, gak bisa ke mana-mana, dan harus terus membayar cicilan utang yang sudah tidak seimbang dengan pendapatanmu. Dirimu baru gajian pun, sebagian besar uang langsung terkuras untuk membayar cicilan tersebut.

Uang seperti air yang mengalir melewatimu begitu saja. Belum lagi, dirimu kerap tak mampu membayarnya tepat waktu. Penagih utang menerormu baik melalui telepon, chat, maupun langsung mendatangi rumah dan tempat kerjamu.

2. Kesulitan memenuhi kebutuhan

ilustrasi dompet kosong (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Bagaimana kamu dapat disebut merdeka secara finansial bila pemenuhan kebutuhan saja tidak lancar? Minyak goreng di rumah habis. Dirimu minta minyak tetangga, barang setengah gelas. Soalnya, duit buat beli minyak benar-benar tidak ada.

Bahkan makan nasi saja tak dapat 3 kali sehari. Padahal, kamu dan keluarga tidak lagi diet atau puasa. Sabun cuci pakaian habis, sabun cuci piring pun digunakan. Gak bisa mencukupi kebutuhan merupakan titik kritis dalam keuangan. Dirimu mencoba mengganti merek produk yang biasa dipakai dengan merek yang lebih murah pun tetap tidak terbeli.

3. Kebutuhan tercukupi, tapi banyak keinginan tertahan

ilustrasi takut melihat setruk (pexels.com/https://kaboompics.com/)

Kondisi hidupmu memang lebih baik daripada poin sebelumnya. Berbagai kebutuhan masih dapat dipenuhi. Namun, ini juga bukan jaminan dirimu pantas disebut merdeka secara finansial. Cek apakah selama ini keinginan-keinginanmu yang butuh biaya terpenuhi?

Bila tidak semuanya, minimal sebagian besarnya yang tak memerlukan biaya terlalu tinggi. Kalau kamu cuma ingin seminggu sekali makan di luar dengan harga menu yang gak mahal pun tidak terlaksana, artinya belum merdeka finansial. Kamu masih harus terus menahan diri demi pemenuhan kebutuhan utama yang tak terganggu.

4. Kamu gak lebih dari mesin uang yang tak bisa menikmati hasilnya

ilustrasi menghasilkan banyak uang (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Kamu jago menghasilkan uang. Dompetmu tebal. Saldo rekening gendut. Dirimu juga mampu membeli apa saja yang diinginkan. Akan tetapi, rasanya kamu gak bisa menikmati semua kelimpahan itu. Penyebabnya bermacam-macam.

Di antaranya, kesibukan kerja yang luar biasa sehingga dirimu tak pernah liburan. Atau, semua hasil kerjamu dipegang oleh pasangan. Misalnya, kamu adalah suami yang wajib menyetorkan seluruh pendapatan ke istri. Dirimu gak tahu caranya sedikit bersenang-senang dengan hasil tetesan keringatmu. Kamu hanya kerja, kerja, kerja, lalu menyetor duit ke pasangan.

5. Harta berlebih, tapi hidup dalam berbagai ketakutan

ilustrasi stres soal uang (pexels.com/Alex Dos Santos)

Membahas psikis manusia dalam kaitannya dengan finansial memang unik. Ada orang yang hidupnya pas-pasan, tapi tetap santai. Tertawa-tawa setiap hari tanpa beban.

Mereka tidak membiarkan diri mereka tidak bahagia karena mencemaskan berbagai hal di masa depan. Sementara itu, dirimu secara finansial sebetulnya sangat aman. Namun, kamu tetap terlalu mengkhawatirkan hal-hal yang belum tentu terjadi di masa depan.

Seperti khawatir investasimu ternyata tak menghasilkan apa pun. Padahal, pilihan instrumennya sudah sangat aman. Bukan investasi berisiko tinggi. Juga cemas uangmu tidak cukup buat membayar kuliah anak beberapa tahun lagi dan sebagainya.

6. Hidup dengan jatah uang dari orang lain yang sangat mepet

ilustrasi murung (pexels.com/Kari Alfonso)

Mungkin ini kurang nyaman dibaca oleh sebagian orang. Terutama ibu rumah tangga yang diberi jatah uang belanja sangat minim oleh suaminya. Padahal, harga kebutuhan naik dan jumlah anggota keluarga lumayan banyak. Pokoknya, kelebihan belanja 1000 rupiah pun gak boleh atau bakal jadi masalah besar.

Situasi ini sangat jauh dari kata kamu merdeka secara finansial. Baik penyebab jatah duit belanja imut karena pendapatan pasangan memang kecil atau sifatnya pelit. Bagimu, setiap hari ialah perjuangan mencukupkan jatah uang itu sampai kepala mau meledak saking pusing memikirkannya.

7. Masih terjebak FOMO finansial

ilustrasi duduk melamun (pexels.com/HONG SON)

Tanda belum merdeka secara finansial yang terakhir adalah dirimu merasa harus nongkrong di tempat yang keren dan biayanya gede. Jika tempatnya lebih sederhana, apalagi hampir tak pernah nongkrong, dirimu takut dianggap miskin oleh orang-orang. Orang memposting foto liburan, kamu pun langsung iri dan gak mau kalah.

Baik dirimu punya uang atau tidak, sikap FOMO terkait uang dan gaya hidup sudah menjadi tanda kamu belum merdeka finansial. Sama halnya ketika dirimu nongkrong atau pergi berlibur bila merdeka finansial, maka keputusan tidak ditentukan oleh pilihan dan pendapat orang lain. Teman-teman nongkrong di kafe mahal, misalnya.

Sementara dirimu lebih suka nongkrong di warkop murah meriah, pun tak lantas malu. Orang-orang berlibur melulu. Kamu mengisi waktu dengan hobi menanam bunga di rumah tanpa takut disangka lagi bokek.

Merdeka finansial lebih kompleks daripada sekadar mandiri secara keuangan. Bukan cuma harus ada uang yang cukup untuk hidup layak. Namun, secara psikis juga mesti matang terkait berbagai keputusan keuangan. Kamu pun tidak terjajah oleh pekerjaan demi uang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article