Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
⁠The Wednesday Effect, saat Kita Sulit Menikmati Hari Biasa
ilustrasi kesulitan menikmati hari (pexels.com/Anna Tarazevich)

Senin terasa melelahkan, Selasa masih disibukkan pekerjaan, sementara Rabu jadi pengingat bahwa akhir pekan masih cukup jauh. Hari-hari terasa berjalan lebih lambat ketika kita hanya menunggu waktu untuk beristirahat atau melakukan sesuatu yang menyenangkan. Jumat pun seolah menjadi garis finish setelah lima hari menjalani rutinitas. Fenomena ini bisa dikaitkan dengan The Wednesday Effect, istilah yang menggambarkan bagaimana rutinitas sehari-hari terasa kurang berarti dibandingkan momen istimewa lainnya. 

Kecenderungan tersebut bisa muncul ketika perhatian kita terlalu terarah pada hal-hal yang belum terjadi. Kita sibuk memikirkan rencana akhir pekan, liburan berikutnya, atau pencapaian yang ingin diraih. Sementara itu, rutinitas yang sedang dijalani hanya dianggap sebagai pengisi waktu. Padahal, sebagian besar kehidupan justru berlangsung dalam hari-hari yang sederhana. Ada beberapa alasan mengapa kita sulit menikmati keseharian.

1. Sibuk menunggu momen yang menyenangkan

Ilustrasi menunggu waktu (pexels.com/BOOM 💥)

Ketika pekerjaan terasa monoton, akhir pekan sering menjadi satu-satunya hal yang membuat kita bersemangat. Kita membayangkan bisa tidur lebih lama, bertemu teman, atau melakukan sesuatu yang sudah lama direncanakan. Masalahnya, kebiasaan menunggu sebuah momen menyenangkan dapat membuat pengalaman hari ini terasa kurang penting. Akibatnya, waktu yang sedang kita jalani hanya dianggap sebagai hitung mundur menuju sesuatu yang lebih menarik.

Dalam Psychology Today, Monica Vermani, C., psikolog klinis menjelaskan bahwa kita terbiasa menunda kesenangan sampai nanti, sampai akhirnya lupa bagaimana menikmati hal-hal kecil dalam hidup. Perlahan, kita pun kehilangan kebiasaan untuk merasakan bahagia dalam keseharian.

Kita tidak harus berhenti membuat rencana atau menantikan hal menyenangkan. Namun, ada baiknya kita tetap memberi perhatian pada momen yang sedang berlangsung. Menikmati makan siang, mengobrol sebentar dengan teman, atau pulang kerja tanpa terburu-buru mungkin terdengar sederhana. Tetapi, dari pengalaman kecil seperti itulah kita bisa menemukan sesuatu yang menyenangkan tanpa harus menunggu tanggal di kalender berganti.

2. Menganggap rutinitas terlalu biasa untuk dinikmati

Ilustrasi rutinitas sederhana (unsplash.com/Kelly Sikkema)

Rutinitas bisa membuat hidup terasa monoton. Bangun pagi, berangkat kuliah atau kerja, menyelesaikan tugas, lalu pulang dan beristirahat menjadi pola yang terus berulang. Karena sudah terbiasa, kita cenderung gak lagi memperhatikan hal-hal kecil yang sebenarnya menyenangkan. Kita bahkan bisa menganggap hari yang tidak memiliki kejadian istimewa sebagai hari yang terbuang.

Menurut Sabrina Romanoff, PsyD, seorang psikolog klinis, “Melihat kehidupan dengan cara yang lebih positif mengubah perspektif kita dan memberi kesempatan untuk menghargai keindahan dalam hal-hal yang biasanya kita abaikan karena dianggap sebagai bagian biasa dari rutinitas,” dikutip dari Verywell Mind.

Konsep ini mengingatkan kita bahwa menikmati hidup bukan sekadar menunggu sesuatu yang menyenangkan datang. Kita juga bisa belajar memperhatikan pengalaman positif yang sudah ada. Kebiasaan ini membantu kita lebih menghargai pengalaman sehari-hari, daripada membiarkannya berlalu begitu saja.

3. Merasa hari biasa tidak cukup produktif

ilustrasi tidak produktif (pexels.com/ANTONI SHKRABA production)

Selain menunggu kesenangan, kita juga sering menilai hari berdasarkan seberapa banyak hal yang berhasil kita selesaikan. Jika tidak ada pencapaian besar, rasanya seperti belum melakukan sesuatu yang berarti. Bahkan, waktu istirahat pun terkadang memunculkan rasa bersalah karena terasa tidak produktif. Keseharian jadi terasa seperti daftar tugas yang harus segera dicentang, bukan pengalaman yang harusnya dinikmati.

Seperti yang dijelaskan dalam laman Psychology Today, kita terus dibebani berbagai tuntutan tentang apa yang seharusnya kita lakukan dan merasa gagal ketika tidak mampu memenuhi standar produktivitas yang kita tetapkan sendiri.

Hari biasa tetap memiliki arti meskipun tidak menghasilkan pencapaian yang langsung terlihat. Membaca beberapa halaman buku, beristirahat ketika kamu lelah, atau menyelesaikan satu tugas kecil tetap menjadi bagian dari kehidupan yang berjalan. Sesekali, menjalani hari dengan tenang tanpa merasa tertinggal juga merupakan sesuatu yang layak dihargai.

Menikmati hidup gak harus menunggu akhir pekan, liburan, atau sebuah pencapaian besar. Hari biasa juga bisa terasa menyenangkan kalau kita gak terus-menerus menganggapnya sebagai jeda menuju sesuatu yang lebih menyenangkan. Mulailah dengan menikmati hal-hal kecil yang ada di sekitar, tanpa merasa harus selalu produktif atau melakukan sesuatu yang istimewa. Kita gak bisa membuat setiap hari terasa menyenangkan, tetapi kita bisa belajar untuk gak melewatkan sebuah momen begitu saja. Jadi, jangan sampai terlalu sibuk menunggu hari esok sampai lupa menikmati hari ini.

Curated For You

Editorial Team

Related Article