Menurut Psikolog Susan Albers, PsyD, “Banyak orang merasa bersalah ketika harus meninggalkan sesuatu yang sudah menghabiskan waktu atau uang mereka, meskipun hal itu sebenarnya sudah gak lagi memberikan manfaat. Rasanya seperti menyerah atau menyia-nyiakan usaha yang sudah dilakukan, padahal melepaskannya justru bisa menjadi pilihan yang lebih baik bagi diri sendiri,” dikutip dari Cleveland Clinic.
Sudah Berusaha Keras, Kenapa Sulit Merelakan Target yang Gagal?

Kamu teringat betapa bersemangatnya dirimu ketika pertama kali menetapkan sebuah target. Kamu membayangkan akan melanjutkan pendidikan ke universitas incaran. Kamu mulai menyusun rencana, mengorbankan waktu istirahat, dan berusaha sebisa mungkin agar semuanya berjalan sesuai dengan harapanmu.
Namun, waktu berlalu dan kamu tersadar hasil yang tak kunjung datang. Kesempatan terlewat, penolakan datang berkali-kali, sementara teman-temanmu perlahan mencapai impian mereka. Kamu mulai lelah, tetapi memikirkan harus berhenti justru terasa lebih menyakitkan. Rasanya begitu sulit merelakan target yang gagal ketika kita sudah berusaha keras.
1. Merasa semua pengorbanan akan sia-sia jika berhenti

ilustrasi berusaha dengan maksimal (pexels.com/cottonbro studio) Akhir pekanmu banyak kamu habiskan untuk belajar. Waktu bersama teman banyak yang kamu lewatkan, hingga ada berbagai kesempatan lain yang kamu sengaja sisihkan. Rasanya, kalau kamu menyerah sekarang, terlalu banyak yang sudah terlanjur dikorbankan.
2. Menganggap kegagalan sebagai bukti bahwa diri sendiri gak cukup baik

ilustrasi kegagalan (pexels.com/Andrea Piacquadio) Awalnya, kamu hanya kecewa karena gagal mendapatkan pekerjaan impianmu. Namun, setelah berkali-kali menerima penolakan, muncul pertanyaan lain di kepala, “Apakah sebenarnya aku memang gak kompeten?” Tanpa kamu sadari, kegagalan mencapai satu target berubah menjadi penilaian terhadap diri sendiri. Kamu terus bertahan bukan hanya karena masih menginginkannya, melainkan juga karena kamu ingin membuktikan bahwa kamu mampu.
Dalam laman Psychology Today, dijelaskan bahwa setiap hambatan, kesalahan, atau kegagalan bisa terasa seperti bukti bahwa mereka memang gak akan berhasil dan ada sesuatu yang salah dengan diri mereka.
Padahal, kegagalan yang kamu alami gak menggambarkan seluruh kemampuanmu. Kamu masih bisa memperbaiki strategi, mengembangkan keterampilan, dan ada beberapa keadaan yang memang gak sepenuhnya berada dalam kendalimu.
3. Merasa tertinggal ketika melihat orang lain berhasil

ilustrasi merasa tertinggal (pexels.com/Pavel Danilyuk) Suatu malam, kamu membuka media sosial sebelum tidur. Seorang teman membagikan informasi tentang pekerjaan barunya, sementara teman yang lain ada yang membagikan kabar kelulusan. Kamu ikut senang, tetapi setelah menutup aplikasi, kamu mulai bertanya-tanya kapan giliranmu datang.
Setelah melihat pencapaian orang lain, target yang belum tercapai terasa semakin menyakitkan. Kamu kemudian mulai mengukur pencapaian hidup berdasarkan perjalanan orang lain, seolah-olah keberhasilan mereka menjadi pengingat bahwa kamu belum sampai ke mana-mana.
Menurut Ashley Rudolph, seorang pelatih kepemimpinan sekaligus pendiri The Operator’s Edge, “Perbandingan yang gak sehat bisa membuat kita memiliki pandangan yang keliru tentang kesuksesan dan mempertanyakan sejauh mana kita sudah berkembang. Hal ini bisa menguras emosi. Saya pernah melihat bagaimana kebiasaan tersebut membuat seseorang kehilangan rasa percaya diri, menyimpan rasa kesal dalam hubungan dengan orang lain, hingga kesulitan menyadari atau merasa puas dengan kemajuan yang sudah dicapainya sendiri,” dikutip dari Verywell Mind.
Padahal, kamu melihat setiap temanmu memiliki kesempatan dan perjalanan mereka masing-masing. Gak harus pada waktu yang sama dengan orang lain untuk mencapai sesuatu dan membuktikan bahwa hidupmu juga berkembang.
4. Takut kehilangan masa depan yang sudah dibayangkan

ilustrasi membayangkan masa depan (pexels.com/Andrea Piacquadio) Sudah lama kamu membayangkan bagaimana rasanya mencapai target tersebut. Kamu sudah terbayang siapa yang ingin diajak merayakannya, bagaimana kabar baik itu akan kamu sampaikan kepada keluarga, bahkan seperti apa kehidupanmu setelah berhasil mencapai target kehidupanmu tersebut.
Ketika kenyataan ternyata berbeda, yang terasa hilang bukan sekadar kesempatan, tetapi masa depan yang sudah lama kamu bayangkan. Kamu merasa sangat sedih karena rencanamu gak terwujud. Tetapi, kamu memilih untuk gak berlarut-larut dalam kesedihan dan memberi ruang bagi kemungkinan lain yang sebelumnya belum pernah kamu pertimbangkan.
5. Mengira berhenti berarti menyerah pada diri sendiri

ilustrasi menyerah (pexels.com/Nataliya Vaitkevich) Ketika kamu mulai mempertimbangkan untuk berhenti, ada pikiran lain yang muncul dalam kepalamu. Bagaimana kalau sebenarnya kamu tinggal selangkah lagi? Bagaimana jika percobaan berikutnya justru berhasil? Kemungkinan itu memang ada, tetapi bertahan dengan cara yang sama juga gak menjamin hasil berbeda.
Memperjuangkan target tetap masuk akal ketika memang masih ada peluang untuk berkembang dan strategi yang bisa dievaluasi. Namun, mengubah arah juga gak ada salahnya ketika perjuangan tersebut terus menguras energi tanpa perkembangan yang berarti.
Kamu gak lagi membuktikan kegigihan dengan bertahan selamanya. Kamu mulai menyadari meskipun satu target gak tercapai, hidupmu gak otomatis berhenti begitu saja. Kamu justru memilh untuk membawa pelajaran dari perjalanan itu, menyusun rencana baru, dan menemukan tujuan yang kamu sesuaikan dengan dirimu sekarang.






















