Perumahan sekarang menjadi pilihan untuk anak muda yang baru akan memiliki rumah pertama. Hunian yang tampak baru, rapi, seragam, serta dilengkapi sejumlah fasilitas menjadi daya tarik tersendiri. Pun cara pembayarannya memungkinkan untuk dicicil dalam waktu panjang.
Tips Jaga Privasi saat Tinggal di Perumahan, buat Boundaries

- Perumahan terjangkau sering memiliki rumah berdempetan dan minim pembatas, sehingga penghuni perlu menata batas fisik untuk menjaga kenyamanan serta privasi keluarga.
- Tembok pembatas, pagar sesuai aturan, tirai, gorden, atau kaca film membantu membatasi pandangan dari luar; kaca film tetap memerlukan penutup tambahan saat lampu menyala.
- Privasi antarwarga dijaga dengan tidak menyebarkan masalah tetangga, menghindari gosip, dan memelankan suara saat membahas urusan keluarga yang penting.
Ini terasa sangat meringankan buat generasi muda. Namun, perumahan juga ada sisi minusnya. Lahan yang ada dioptimalkan sedemikian rupa agar bisa digunakan untuk membangun sebanyak mungkin unit rumah.
Apalagi perumahan dengan harga terjangkau. Dinding antara rumah satu dengan lainnya saling menempel. Sekalipun temboknya ganda, suara di rumah sebelah, bahkan jeda beberapa rumah pun masih terdengar dengan jelas. Jaga privasi saat tinggal di perumahan, baik untuk keluargamu maupun tetangga, dengan cara berikut ini.
1. Bikin tembok pembatas dengan rumah sebelah

ilustrasi perumahan (pexels.com/Efrem Efre) Salah satu ciri khas perumahan, apalagi dengan jumlah unit mencapai puluhan sampai ratusan, biasanya gak ada tembok pembatas halaman. Halaman rumahmu dan halaman rumah tetangga di kanan dan kiri bisa dilewati begitu saja. Ini selain menghemat biaya pembangunan juga berfungsi untuk memberikan kesan lebih lapang.
Akan tetapi, privasimu dan keluarga menjadi sangat kurang. Terlebih dirimu merasa malu bila setiap keluar rumah langsung bertatap muka dengan tetangga di kanan dan kiri. Kamu mau menyapu teras, menyiram tanaman, atau mencuci mobil menjadi gak leluasa. Buat tembok pembatas setidaknya untuk menghindari tetangga dapat langsung melihat ke arahmu.
2. Pagar juga perlu meski gak terlalu tinggi atau rapat

ilustrasi orang-orang di halaman (pexels.com/HONG SON) Selain sekat dengan rumah tetangga di kanan dan kiri, kamu sebaiknya juga membuat pagar untuk bagian depan. Pagar tak hanya meningkatkan keamanan rumah, tetapi juga penting untuk melindungi privasi. Orang menjadi lebih menghargai area pribadimu.
Namun, biasanya di perumahan terdapat aturan ketinggian pagar. Pagar yang terlalu tinggi atau rapat kurang sesuai kalau rumahmu termasuk kecil. Pagar setinggi ulu hati atau dada sudah cukup untuk menambah keleluasaanmu dan keluarga ketika bersantai di halaman.
3. Jendela wajib dipasangi tirai atau kaca film

ilustrasi memegang tirai (pexels.com/cottonbro studio) Kamu pasti gak mau semua aktivitasmu di dalam rumah terpantau dari luar. Bukan berarti dirimu ingin menyembunyikan sesuatu. Namun, memang tidak perlu setiap hal dalam hidupmu diketahui oleh orang lain.
Sekalipun kompleks perumahanmu aman karena dijaga satpam, setiap orang yang lewat akan menengok ke dalam rumah. Apalagi di seberangmu juga ada rumah. Tanpa tirai atau kaca film, kamu dan tetangga seberang serasa saling mengamati setiap saat.
Namun, ingat bahwa kaca film cuma melindungi privasi di siang hari saat lampu di dalam rumah mati. Bila lampu dinyalakan, rumah langsung seperti akuarium. Maka gorden atau roller blind tetap dibutuhkan.
4. Pura-pura tidak tahu masalah tetangga yang sensitif

ilustrasi di rumah (pexels.com/cottonbro studio) Kamu bukan cuma harus menjaga privasi diri dan keluarga. Urusan pribadi tetangga di kanan dan kirimu juga perlu dijaga. Bahkan saat mereka sendiri yang ceroboh atau gak peduli soal itu.
Misalnya, tetangga gak bisa meredam suara pertengkaran mereka. Lantaran rumah kalian cuma terpisah tembok, dirimu sebenarnya mendengar cukup banyak kalimat yang dilontarkan oleh keduanya. Namun, ketika keesokannya kamu bertemu mereka, bersikaplah seolah-olah kemarin dirimu tak mendengar apa-apa.
Begitu pun saat tetangga lain bertanya padamu tentang persoalan mereka. Mending kamu tidak banyak bicara. Jangan memenuhi rasa penasaran mereka sekalipun dirimu tahu lebih banyak. Bukan soal kamu pelit, tapi jangan sampai tetangga yang dibicarakan gak suka kalau mengetahuinya.
5. Jauhi pergunjingan

ilustrasi orang-orang melintas (pexels.com/Min An) Biasanya di lingkungan apa pun tetap ada pergunjingan. Apalagi di lingkungan perumahan, orang-orang bertemu dalam kondisi tidak sedang terburu-buru. Beda dengan lingkungan kerja yang pengawasannya ketat dan tugas selalu menumpuk.
Kamu harus sangat berhati-hati supaya tak ikut-ikutan bergunjing. Kenali orang-orang yang biasanya suka bergosip. Kalau ada mereka di luar rumah, mending dirimu gak mendekat. Andai pun kamu tak bisa menghindarinya, bicaralah sesedikit mungkin.
Lain halnya kalau topiknya jauh dari pergunjingan. Seperti mereka hanya mengajakmu mengobrol santai dan bercanda. Kamu dapat bertahan lebih lama supaya tak terkesan gak mau bergaul.
6. Sekeluarga memelankan suara saat diskusi penting

ilustrasi keluarga (pexels.com/Annushka Ahuja) Kamu juga bisa lupa bahwa suara dari dalam rumahmu dapat dengan mudah terdengar oleh tetangga di kanan dan kiri. Untukmu yang tinggal bersama keluarga, mesti kompak mengatur volume suara. Jika kalian tak sedang membahas hal-hal yang pribadi atau sangat penting, suara normal gak apa-apa.
Namun, ketika kalian membicarakan masalah-masalah tertentu, wajib memelankan suara. Contohnya, kamu sedang membicarakan persoalan keuangan keluarga. Jangan sampai suaranya menembus dinding rumah tetangga.
Kontrol suara begini memang gak mudah bagi orang yang belum terbiasa. Akan tetapi, manfaatnya banyak. Selain privasi tetap terjaga, emosi juga lebih terkendali. Apa pun persoalannya, kalian terhindar dari pertengkaran.
Desain perumahan yang membuat rumah saling menempel perlu disiasati agar privasi tiap orang tetap terjaga. Jaga privasi saat tinggal di perumahan amatlah penting demi meningkatkan kenyamanan dalam keseharian. Bedakan usaha melindungi dan menghargai privasi dengan sikap masa bodoh yang keterlaluan.























