Di umurmu yang baru saja menginjak 18 tahun, kamu sudah mulai membayangkan kehidupan empat tahun ke depan dengan begitu jelas. Berbagai rencana sudah kamu tuliskan di buku catatan kesayanganmu. Lulus kuliah tepat waktu, mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, punya penghasilan sendiri, lalu perlahan membangun kehidupanmu sendiri. Saat itu, masa depan terasa seperti sesuatu yang tinggal diperjuangkan. Kamu tahu apa yang ingin dicapai dan merasa punya cukup waktu untuk mewujudkannya.
Sekarang, kamu baru saja membalas ucapan ulang tahunmu yang ke 22 tahun dari teman dan keluarga. Tab browser di layar laptop dipenuhi lowongan pekerjaan, kabar kelulusan dan pekerjaan baru dari teman-temanmu, sementara kamu masih berkutat dengan pertanyaan yang sama setiap malam, “Sebenarnya, aku mau ke mana?” Rencana yang dulu terasa begitu meyakinkan perlahan kehilangan bentuknya. Kamu mulai mempertanyakan pilihan sendiri, bahkan membandingkan dirimu dengan orang-orang yang tampaknya sudah menemukan jalan mereka.
