Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

⁠Umur 18 Merasa Tahu Segalanya, Kenapa di Usia 22 Malah Bingung?

4 min read
⁠Umur 18 Merasa Tahu Segalanya, Kenapa di Usia 22 Malah Bingung?
ilustrasi anak muda berlari (unsplash.com/Jed Vilejo)

Di umurmu yang baru saja menginjak 18 tahun, kamu sudah mulai membayangkan kehidupan empat tahun ke depan dengan begitu jelas. Berbagai rencana sudah kamu tuliskan di buku catatan kesayanganmu. Lulus kuliah tepat waktu, mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, punya penghasilan sendiri, lalu perlahan membangun kehidupanmu sendiri. Saat itu, masa depan terasa seperti sesuatu yang tinggal diperjuangkan. Kamu tahu apa yang ingin dicapai dan merasa punya cukup waktu untuk mewujudkannya.

Sekarang, kamu baru saja membalas ucapan ulang tahunmu yang ke 22 tahun dari teman dan keluarga. Tab browser di layar laptop dipenuhi lowongan pekerjaan, kabar kelulusan dan pekerjaan baru dari teman-temanmu, sementara kamu masih berkutat dengan pertanyaan yang sama setiap malam, “Sebenarnya, aku mau ke mana?” Rencana yang dulu terasa begitu meyakinkan perlahan kehilangan bentuknya. Kamu mulai mempertanyakan pilihan sendiri, bahkan membandingkan dirimu dengan orang-orang yang tampaknya sudah menemukan jalan mereka.

  1. 1. Timeline bukanlah deadline

    Ilustrasi anak muda stres karena investasi gagal (Pexels.com/Andrea Piacquadio)
    Ilustrasi anak muda stres karena sulit mencari pekerjaan (Pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Pagi itu, kamu membuka kembali rencana yang pernah kamu tulis di usia 18 tahun itu. Ada beberapa rencana yang belum tercapai sesuai waktunya. Lalu perhatianmu kembali kepada layar laptopmu, kamu membuka portal pekerjaan dengan niat mencari lowongan pekerjaan. Baru beberapa menit menggulir layar, muncul sebuah unggahan dari temanmu yang baru saja diterima di perusahaan terkenal. Kamu ikut senang membacanya, bahkan meninggalkan ucapan selamat di kolom komentar. Namun, setelah menutup aplikasi, ada perasaan aneh yang tertinggal. 

    Awalnya, kamu hanya ingin mencari pekerjaan. Sekarang, kamu malah sibuk menghitung seberapa jauh tertinggal dari orang lain. Kamu merasa harus mencapai sesuatu di usiamu yang ke 22 tahun ini. Padahal, kamu tahu temanmu yang sudah bekerja mungkin memiliki pengalaman, kesempatan, dan kondisi yang berbeda darimu. Kamu tidak mengetahui seluruh perjalanan mereka, sebagaimana mereka juga tidak mengetahui semua hal yang sedang kamu perjuangkan.

    Kamu mulai tersadar sebelum membandingkan pencapaianmu dengan orang lain. Kamu mengingat kembali alasanmu memulai perjalanan ini. Target yang kamu goreskan bukan lagi suatu hukuman jika kamu belum mencapainya. “Tidak ada yang salah jika hidup berjalan lebih lambat daripada yang direncanakan,” pikirmu.

  2. 2. Mimpimu masih boleh untuk berubah

    ilustrasi anak muda membuat planning (pexels.com/Ketut Subiyanto)
    ilustrasi anak muda membuat planning (pexels.com/Ketut Subiyanto)

    Dulu, kamu bisa dengan mudah menjawab pertanyaan tentang cita-citamu tanpa perlu berpikir panjang. Setelah beberapa pengalaman kamu lalui, gambaran itu perlahan berubah. Kamu termenung, menyadari pekerjaan yang kamu impikan dahulu, ternyata tidak cocok dengan kepribadianmu. Kemudian, kamu memutuskan untuk mencoba bidang baru dan kamu sangat menikmatinya. Dalam situasi ini, ada bagian dari dirimu yang masih merasa bersalah karena ingin beralih ke impian lain.

    Kamu menatap kembali impian yang kamu rencanakan di masa lampau. Kemudian, baru memahami apa yang benar-benar kamu inginkan setelah kamu berhadapan langsung dengan kenyataan yang sudah kamu lewati. Sesuatu yang terlihat menarik sebelumnya belum tentu terasa sama ketika dijalani setiap hari.

    Sebagaimana Carrie Howard, LCSW, CCATP, seorang anxiety coach sekaligus pendiri Thrive Anxiety Solutions, mengatakan, “Tidak masalah jika kamu ingin mengubah jalur karier, memutuskan untuk kembali bersekolah, atau menyadari bahwa kamu belum siap untuk menetap dan membangun keluarga,” dikutip dari Verywell Mind.

    Kamu tersenyum, dan berpikir kembali. Selama empat tahun ini, kamu sudah bertemu orang baru, mengalami kegagalan, dan mempelajari banyak hal-hal yang tidak kamu ketahui sebelumnya. Ternyata wajar jika keinginanmu berubah. Kamu memutuskan untuk tidak lagi mengejar impian lama hanya demi membuktikan bahwa dirimu konsisten.

  3. 3. Tidak harus memahami semuanya sekarang

    ilustrasi anak muda (unsplash.com/Simon Maage)
    ilustrasi anak muda (unsplash.com/Simon Maage)

    Malam semakin larut. Kamu sudah mematikan laptop, tetapi pikiran tentang masa depan justru mulai ramai. Bagaimana kalau pekerjaan yang kamu pilih ternyata tidak sesuai? Bagaimana kalau teman-teman sudah melangkah jauh sementara kamu masih mencari arah? Bagaimana kalau keputusan yang diambil sekarang justru membuatmu menyesal beberapa tahun lagi?

    Kamu membaca pengalaman orang lain, berharap mendapatkan sebuah jawaban. Namun, pertanyaan-pertanyaan itu masih menunggu di kepala. Kamu mulai merasa bingung dan lelah. Bukan karena belum menemukan jawabannya, tetapi juga kamu merasa harus menemukan jawaban itu secepat mungkin.

    Dalam laman Psychology Today, Carrie Howard, LCSW, CCATP, seorang anxiety coach sekaligus pendiri Thrive Anxiety Solutions, menuliskan bahwa penting untuk menyadari bahwa kamu gak harus punya semua jawaban sekarang. Sebagai orang dewasa muda, kamu masih dalam proses mengenali apa yang kamu sukai, inginkan, dan bisa membuatmu merasa puas dalam menjalani hidup. 

    Padahal, ada hal-hal yang baru bisa kamu pahami setelah kamu mencobanya. Kamu akan melalui pengalaman yang akan mengubah cara pandangmu melihat kehidupan. Lalu, kamu sadar bahwa tidak semua ketidakpastian bisa diselesaikan hanya dengan memikirkannya berulang kali.

    Sebelum tidur, kamu kembali menatap langit-langit kamar, memikirkan hal-hal yang belum berhasil tercapai. Bedanya, kali ini kamu gak buru-buru menyalahkan diri sendiri. Kamu menyadari hidup bukanlah tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang berani untuk terus melangkah meski kamu belum tahu persis arah mana yang akan dituju.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More