Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Kalimat Validasi untuk Teman Down, Sederhana tapi Bermakna
ilustrasi bersama teman (pexels.com/MART PRODUCTION)
  • Saat teman sedang down, sikap peduli dan kalimat validasi membantu mereka merasa didengar, diterima, serta tidak sendirian tanpa perlu terlalu banyak bicara.
  • Ungkapan seperti memahami perasaannya, menegaskan emosinya wajar, atau berbagi pengalaman serupa dapat menunjukkan empati dan mengurangi keraguan terhadap diri sendiri.
  • Validasi bukan untuk membenarkan semua persepsi, melainkan mencegah teman makin terpuruk; koreksi terhadap pemikiran yang kurang tepat dilakukan setelah ia lebih tenang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Apa yang biasa dilakukan olehmu ketika ada teman yang mentalnya lagi down? Baik dia sahabat dekat atau cuma teman biasa, dirimu mesti bisa bersikap secara tepat. Kamu jangan terlalu cuek.

Sikapmu yang gak peduli dapat membuatnya merasa sangat kesepian. Kamu perlu belajar menjadi teman bicara yang cukup menyenangkan baginya. Caranya dengan dirimu mengucapkan kalimat-kalimat sederhana untuk memvalidasi perasaannya.

Validasi terhadap emosinya penting agar dia tahu bahwa perasaannya dapat diterima oleh orang lain. Emosinya manusiawi dan bukan semata-mata karena ia gampang baper. Kamu tak perlu terlalu banyak bicara sebab itu justru membuatmu lebih rentan melakukan salah ucap. Cukup kalimat-kalimat seperti di bawah ini.

1. Aku mengerti perasaanmu

ilustrasi bersedih (pexels.com/liu zhenao)

Apakah kalimat seperti di atas hanya boleh diucapkan jika kamu benar-benar memahami perasaan seseorang? Sebaiknya memang begitu sehingga perkataanmu tidak palsu. Teman yang mendengarnya juga akan cepat merasa lebih baik.

Namun, andai kamu sebenarnya kurang memahami perasaan kawan pun tetap boleh menyampaikannya. Contoh, temanmu baru saja putus cinta. Dirimu boro-boro putus cinta, punya pacar saja belum pernah.

Akan tetapi, bukan artinya kamu sama sekali tak memahami perasaannya. Banyak orang di sekitarmu pernah patah hati dan mereka tampak terpukul untuk beberapa waktu. Oleh sebab itu, kamu cukup paham bahwa suasana hati kawanmu juga pasti sangat buruk.

2. Perasaan kamu sangat wajar

ilustrasi bersama teman (pexels.com/cottonbro studio)

Orang yang sedang terpuruk kerap kali bingung dengan dirinya. Satu sisi, perasaan negatif tidak bisa dielakkan. Kesedihannya terlalu nyata. Di sisi lain, perlahan-lahan dia justru meragukan emosinya.

Pertanyaan-pertanyaan seperti berikut bakal muncul. Kenapa dia sampai merasa seperti ini? Apakah emosinya wajar atau sudah berlebihan? Jangan-jangan cuma dia yang lebai? Ketika pemikiran seperti di atas muncul perasaannya akan bertambah buruk.

Kamu bisa membantunya mencegah hal tersebut dengan mengatakan bahwa emosinya lumrah. Tidak ada keanehan terkait perasaannya. Masih dengan contoh dia baru putus cinta. Rasa terluka yang amat dalam muncul lantaran mereka pernah begitu saling mencintai.

3. Aku juga pernah merasakan hal yang sama

ilustrasi bersama teman (pexels.com/wilson montoya)

Bila dirimu pernah mengalami kejadian yang mirip dengannya, inilah waktu yang tepat untuk sedikit menceritakannya. Kamu sedang berusaha menjadi teman bercerita yang baik tidak bermakna cuma boleh pasif mendengarkannya. Kalau dirimu pernah merasakan emosi sejenis juga dapat diungkapkan.

Kejadian pemicu emosi tersebut bisa mirip dengan apa yang dialami olehnya atau berbeda. Apa pun itu tetap pantas diceritakan pada kawan. Kamu tidak sedang berusaha gantian mendominasi percakapan.

Cukup dirimu memberitahunya agar ia lebih yakin bahwa emosinya dapat dipahami dengan baik olehmu. Syukur-syukur pengalaman kalian serupa sehingga percakapan lebih nyambung. Jika pun peristiwanya berbeda, setidaknya dia menjadi sadar.

Kesedihan atau perasaan buruk dapat dialami semua orang. Perasaannya sebagai orang yang paling menderita jauh berkurang. Ketabahannya menghadapi ujian akan meningkat.

4. Kalau aku di posisimu mungkin juga begitu bahkan lebih buruk lagi

ilustrasi bersedih (pexels.com/JUNLIN ZOU)

Kamu masih bisa berempati pada orang lain dengan cara membayangkan dirimu berada di posisinya. Lalu kamu perlu mengatakan bahwa seandainya hal serupa terjadi padamu, perasaanmu pasti juga sama. Dirimu bahkan bisa merasa lebih buruk lagi dibandingkan dia.

Ini dapat berarti dua hal. Pertama, kamu memang gak pernah mengalami hal yang sama dengan teman. Dirimu hanya bisa membayangkan rasanya bila ada di posisinya. Kedua, kamu sebenarnya memiliki pengalaman yang mirip dan cuma ada sedikit perbedaan.

Misal, dirimu juga pernah putus cinta sama seperti teman. Hanya saja kamu putus secara baik-baik, sedangkan kawanmu diselingkuhi. Perpisahan karena kesepakatan bersama saja menyakitkan, apalagi andai dirimu menjadi korban perselingkuhan.

5. Gak perlu merasa bersalah atas perasaanmu

ilustrasi bersama teman (pexels.com/Mâide Arslan)

Contoh kasusnya masih sama, yaitu hubungan berakhir karena perselingkuhan. Mental temanmu hancur akibat kesedihan bercampur kemarahan dan perasaan bodoh. Ia telah memercayai orang yang salah. Kebenciannya menjadi bercabang dua.

Pertama, dia benci mantan dan selingkuhannya. Kedua, ia juga membenci diri sendiri akibat emosi-emosi yang muncul. Kalau ini dibiarkan, kondisi mentalnya makin gak keruan. Bantu dia untuk menyingkirkan rasa bersalah yang tidak tepat.

Mantannya memang bukan tipe kekasih yang baik. Akan tetapi, semua perasaan negatif teman pasca putus juga bukan sesuatu yang salah atau tidak pantas. Emosinya yang bercampur aduk dapat dimaklumi dan memiliki pemicu yang jelas.

Kalimat validasi untuk teman yang sedang down bukan dimaksudkan untuk selalu memenangkan egonya. Akan tetapi, ini cara supaya dia tidak makin terpuruk dulu. Nanti setelah ia lebih tenang dan siap bangkit baru kamu membantu mengoreksi persepsi kurang tepat yang kemarin membuatnya merasa begitu buruk.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article