Ilustrasi pertemanan (Pexels.com/Alexander Suhorucov)
Banyak orang mengira bahwa kalau setelah menolak muncul rasa bersalah, berarti keputusan mereka keliru. Padahal, rasa bersalah dapat muncul karena kita terbiasa mengutamakan keinginan orang lain. Ketika mulai membuat batas, perubahan pola tersebut bisa terasa tidak nyaman karena berbeda dari kebiasaan sebelumnya.
Contohnya, seorang teman mengajak pergi pada akhir pekan, tetapi kamu menolak karena ingin menyelesaikan pekerjaan atau beristirahat. Setelah mengirim pesan "maaf, aku gak bisa ikut", kamu mungkin langsung merasa tidak enak. Pikiran seperti "Jangan-jangan dia tersinggung" atau "Aku egois gak, ya?" pun muncul. Perasaan tersebut tidak selalu berarti kamu harus mengubah jawaban.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Emotion oleh Daniel Lim dan David DeSteno dari Northeastern University menunjukkan bahwa rasa bersalah dapat berhubungan dengan dorongan untuk menunjukkan kepedulian kepada orang lain. Studi tersebut menemukan bahwa rasa bersalah dapat menjadi mekanisme yang mendorong perilaku penuh kasih kepada orang lain. Artinya, rasa bersalah memang bisa menunjukkan bahwa kamu peduli, tetapi bukan berarti setiap rasa bersalah harus diikuti dengan mengorbankan batas pribadi.
"Meskipun rasa bersalah kerap dikaitkan dengan disfungsi psikologis, temuan-temuan terkini mengindikasikan bahwa rasa bersalah juga dapat berperan sebagai kekuatan moral yang kuat dalam mendorong munculnya rasa welas asih," jelasnya dikutip dalam studi PubMed.