"Ingatlah, mengatakan 'tidak' adalah cara yang ampuh untuk mengendalikan hidup kamu serta menunjukkan rasa hormat terhadap diri sendiri dan kebutuhanmu," kata psikolog Jeffrey Bernstein, Ph.D. dalam Psychology Today.
Belajar Punya Boundaries Tanpa Merasa Bersalah, Gak Semua Diiyakan

Dalam pertemanan, menolak ajakan sering kali terasa lebih sulit daripada mengiyakan. Ada rasa takut dianggap tidak solid, khawatir teman kecewa, atau muncul pikiran bahwa kita sedang menjadi orang yang egois. Akhirnya, meski sebenarnya sedang capek, punya pekerjaan lain, atau memang tidak ingin ikut, kita tetap mengatakan "iya" demi menjaga perasaan orang lain.
Padahal, punya boundaries bukan berarti menjauh dari teman atau menjadi pribadi yang tidak peduli. Boundaries justru membantu seseorang memahami batas kemampuan, waktu, energi, dan kenyamanannya sendiri.
1. Mengiyakan semua ajakan bukan syarat jadi teman yang baik

Ilustrasi pertemanan (Pexels.com/cottonbro studio) Teman yang baik bukan berarti seseorang harus selalu tersedia kapan pun temannya mengajak. Kamu tetap boleh memiliki kesibukan, kebutuhan pribadi, waktu istirahat, atau sekadar keinginan untuk menghabiskan waktu sendirian.
Pertemanan yang sehat seharusnya tidak membuat seseorang merasa harus terus-menerus membuktikan rasa sayangnya dengan mengorbankan dirinya. Masalah bisa muncul ketika kebiasaan mengatakan "iya" dilakukan hanya karena takut mengecewakan orang lain.
Jadi, menolak ajakan yang memang tidak sesuai dengan kebutuhanmu bukan otomatis berarti kamu teman yang buruk. Justru, kamu sedang belajar menghargai dirimu sendiri dan kebutuhanmu.
2. Rasa bersalah setelah bilang "tidak" itu wajar, tapi bukan berarti kamu salah

Ilustrasi pertemanan (Pexels.com/Alexander Suhorucov) Banyak orang mengira bahwa kalau setelah menolak muncul rasa bersalah, berarti keputusan mereka keliru. Padahal, rasa bersalah dapat muncul karena kita terbiasa mengutamakan keinginan orang lain. Ketika mulai membuat batas, perubahan pola tersebut bisa terasa tidak nyaman karena berbeda dari kebiasaan sebelumnya.
Contohnya, seorang teman mengajak pergi pada akhir pekan, tetapi kamu menolak karena ingin menyelesaikan pekerjaan atau beristirahat. Setelah mengirim pesan "maaf, aku gak bisa ikut", kamu mungkin langsung merasa tidak enak. Pikiran seperti "Jangan-jangan dia tersinggung" atau "Aku egois gak, ya?" pun muncul. Perasaan tersebut tidak selalu berarti kamu harus mengubah jawaban.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Emotion oleh Daniel Lim dan David DeSteno dari Northeastern University menunjukkan bahwa rasa bersalah dapat berhubungan dengan dorongan untuk menunjukkan kepedulian kepada orang lain. Studi tersebut menemukan bahwa rasa bersalah dapat menjadi mekanisme yang mendorong perilaku penuh kasih kepada orang lain. Artinya, rasa bersalah memang bisa menunjukkan bahwa kamu peduli, tetapi bukan berarti setiap rasa bersalah harus diikuti dengan mengorbankan batas pribadi.
"Meskipun rasa bersalah kerap dikaitkan dengan disfungsi psikologis, temuan-temuan terkini mengindikasikan bahwa rasa bersalah juga dapat berperan sebagai kekuatan moral yang kuat dalam mendorong munculnya rasa welas asih," jelasnya dikutip dalam studi PubMed.
3. Boundaries bukan berarti harus menolak semua ajakan

Ilustrasi pertemanan (unsplash.com/Trinity Kubassek) Setelah mengetahui pentingnya boundaries, jangan sampai muncul pemahaman baru bahwa menjaga batas berarti harus sering mengatakan "tidak". Boundaries bukan tentang seberapa banyak ajakan yang kamu tolak, tetapi tentang kemampuan menentukan mana yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhanmu.
Kamu tetap bisa mengatakan "iya" ketika memang ingin ikut. Bedanya, keputusan tersebut dibuat karena kamu memang punya waktu, energi, dan keinginan untuk melakukannya, bukan karena takut hubungan pertemanan rusak jika menolak. Dengan begitu, persetujuan yang kamu berikan terasa lebih tulus dan tidak meninggalkan rasa kesal karena terpaksa.
4. Belajar mengatakan "tidak" tanpa harus memberikan banyak alasan

Ilustrasi pertemanan (unsplash.com/Olga Serjantu) Kesulitan berikutnya adalah merasa harus memberikan alasan panjang ketika menolak ajakan. Padahal, kamu tidak selalu harus menjelaskan seluruh kondisi pribadi agar penolakanmu dianggap valid. "Aku gak bisa ikut malam ini" sebenarnya sudah cukup untuk menyampaikan keputusan.
Terlalu banyak memberikan alasan terkadang justru membuat kita membuka ruang untuk dinegosiasikan. Oleh karena itu, jawaban yang jelas tetapi tetap sopan bisa membantu menjaga batasan.
Psikolog Catherine McMahon menjelaskan bahwa komunikasi asertif dapat menggunakan "I-statements" untuk menyampaikan kebutuhan dengan jelas. Menurutnya, gaya komunikasi ini melibatkan penetapan boundaries menggunakan bahasa yang "clear, decisive, and succinct."
"Dalam komunikasi asertif, penggunaan kalimat yang berpusat pada diri sendiri (I-statements) berfungsi untuk menyampaikan niat dan kebutuhanmu. Gaya komunikasi ini melibatkan penetapan batasan dengan menggunakan bahasa yang jelas, tegas, dan ringkas," ujarnya dalam Psychology Today.
5. Hubungan pertemanan yang sehat tidak membuatmu takut menetapkan batas

Ilustrasi pertemanan ( unspalash.com / Samsung UK) Salah satu tanda penting dalam pertemanan adalah bagaimana seseorang merespons batas yang kamu buat. Teman mungkin kecewa ketika kamu menolak ajakannya, dan itu manusiawi. Namun, kecewa berbeda dengan memaksa, menyindir, membuatmu merasa bersalah, atau terus mendesak sampai akhirnya kamu menyerah.
Hubungan yang sehat memberikan ruang bagi kedua pihak untuk memiliki kebutuhan masing-masing. Kamu boleh berkata tidak, sementara temanmu juga boleh merasa kecewa. Yang penting, rasa kecewa tersebut tidak digunakan sebagai alat untuk mengontrol keputusanmu. Sebaliknya, kamu juga perlu belajar menerima ketika teman menolak ajakanmu tanpa langsung menganggap mereka tidak peduli.
Kamu tidak harus selalu mengatakan "iya" untuk mempertahankan sebuah pertemanan. Menolak ajakan karena sedang lelah, punya prioritas lain, tidak punya uang, membutuhkan waktu sendiri, atau memang tidak tertarik adalah hal yang wajar. Boundaries bukan tembok untuk menjauh dari orang lain, melainkan batas yang membantu kamu tetap nyaman berada dalam sebuah hubungan.





![[QUIZ] Kamu Tipe Sahabat yang Seperti Apa dari Tinker Bell and Friends](https://image.idntimes.com/post/20220622/open-uri20150608-27674-xogirf-d170c40e-4a7ef61efd98ab80008fc6183155c764-1969e3b21bdd72a8ed712c22b19e4c54.jpeg)
![[QUIZ] Film Favoritmu Ungkap Hubungan Ibu dan Anak yang Kamu Impikan](https://image.idntimes.com/post/20240810/pexels-cottonbro-5493783-000251c4b6f52040ebb6807f5eed97f7-31726b6b00c6b6ec62cec5676be02362.jpg)














