ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/Timun Weber)
Ketika komunikasi mulai dibuka kembali, hindari memulai pembicaraan dengan kalimat seperti, "Kamu memang selalu begini," atau "Kamu sengaja bikin aku stres." Kalimat yang bernada menuduh dapat membuat lawan bicara semakin defensif. Fokuskan pembicaraan pada apa yang kamu rasakan, situasi yang terjadi, serta kebutuhanmu.
Salah satu teknik yang bisa digunakan adalah I-statements. Conflict Management Program dari University of Iowa menjelaskan bahwa teknik ini membantu seseorang menyampaikan perasaan, alasan, dan keinginan secara langsung tanpa membuat lawan bicara merasa disalahkan. Format sederhananya adalah menyampaikan "I feel", situasi yang memicu perasaan tersebut, dampaknya, lalu tindakan yang diharapkan.
"I-statements adalah keterampilan komunikasi penting dalam manajemen konflik. I-statements dimulai dengan kata "aku" dan menyatakan secara langsung kepada seseorang bagaimana perasaan kamu tentang sesuatu, mengapa kamu merasa seperti itu, dan apa yang kamu inginkan," dikutip dalam Conflict Management at Iowa.
Dalam praktiknya, kamu bisa mengatakan, "Aku merasa sedih dan bingung ketika kita tidak berbicara setelah ada masalah. Aku butuh tahu apakah kamu sedang butuh waktu atau memang belum siap membahasnya. Kalau kamu butuh ruang, tolong beri tahu aku kapan kita bisa membicarakannya lagi." Cara seperti ini lebih jelas daripada mengatakan, "Kamu selalu mendiamkanku."