Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cara Menolak Flamingo Era Tanpa Rasa Bersalah ala Gen Z
Ilustrasi teman (magnific.com/magnific)
  • Flamingo era menggambarkan kebiasaan terus berkata “iya” karena tidak enak menolak, yang dapat menguras energi, mengurangi waktu istirahat, dan membuat kebutuhan diri terabaikan.
  • Menetapkan batas serta berkata “tidak” bukan tindakan egois, melainkan cara melindungi kesehatan emosional dan membangun hubungan yang saling menghargai.
  • Penolakan tidak memerlukan alasan panjang; sampaikan secara sopan, jelas, dan konsisten untuk memprioritaskan energi, istirahat, serta kesehatan mental.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menjadi pribadi yang selalu siap membantu memang bukan hal yang salah. Namun ketika terlalu sering mengutamakan orang lain hingga mengabaikan kebutuhan diri sendiri, kebiasaan itu justru bisa melelahkan. Fenomena inilah yang belakangan dikenal sebagai flamingo era, yaitu kecenderungan untuk terus mengatakan "iya" karena merasa tidak enak menolak.

Sekilas, sikap seperti ini terlihat sebagai bentuk kepedulian. Padahal, di baliknya banyak orang yang diam-diam merasa kewalahan karena sulit menetapkan batasan. Waktu istirahat berkurang, pekerjaan menumpuk, hingga energi terkuras demi memenuhi harapan orang lain.

Karena itu, semakin banyak anak muda mulai menyadari bahwa mengatakan "tidak" bukan berarti bersikap egois. Sebaliknya, berani menetapkan batas justru menjadi bagian dari self-care dan cara menjaga hubungan agar tetap sehat. Lalu, bagaimana cara menolak tanpa terus dihantui rasa bersalah?

1. Berani berkata "tidak" bukan berarti egois

Ilustrasi teman (magnific.com/ prostooleh)

Banyak orang tumbuh dengan anggapan bahwa menolak permintaan orang lain adalah sikap yang tidak sopan. Akibatnya, mereka lebih memilih mengiyakan semuanya meski sebenarnya sudah lelah atau tidak sanggup. Padahal, terus-menerus mengorbankan diri demi menyenangkan orang lain justru bisa membuatmu kehilangan waktu untuk memenuhi kebutuhan sendiri.

Menetapkan batas bukan berarti menutup diri dari orang lain. Justru dengan mengetahui batas kemampuan, kamu bisa membantu dengan lebih tulus tanpa merasa terpaksa atau menyimpan rasa kesal. Hubungan yang sehat lahir dari rasa saling menghargai, bukan dari kebiasaan selalu berkata "iya".

"Batasan adalah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Menjaga batasan merupakan cara untuk melindungi kesehatan emosional sekaligus membangun hubungan yang lebih sehat," tutur Dr. Thema Bryant, psikolog klinis, profesor psikologi di Pepperdine University, dikutip dari Good Life Project.

2. Tidak perlu selalu memberikan alasan panjang

Ilustrasi perempuan (pexels.com/MART PRODUCTION)

Rasa tidak enak sering membuat seseorang merasa harus menjelaskan panjang lebar setiap kali menolak. Padahal, semakin banyak alasan yang diberikan, semakin besar pula dorongan untuk merasa bersalah atau bahkan mengubah keputusan sendiri. Menolak dengan sopan sudah cukup tanpa harus meminta maaf berkali-kali.

Kalimat sederhana seperti, "Terima kasih sudah mengajak, tetapi kali ini saya belum bisa," atau "Maaf, saya harus memprioritaskan hal lain", tetap menunjukkan rasa hormat kepada lawan bicara. Yang terpenting adalah menyampaikannya dengan jelas dan konsisten.

"Tidak ada menetapkan batasan tanpa rasa bersalah. Berhentilah menganggap batasan sebagai sesuatu yang jahat atau salah, karena batasan adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari hubungan yang sehat," tutur Nedra Glover Tawwab, licensed clinical social worker (LCSW), dikutip dari buku Set Boundaries, Find Peace.

3. Utamakan eenergi dan kesehatan mentalmu

Ilustrasi istirahat (pexels.com/Una Laurencic)

Mengatakan "tidak" sebenarnya bukan tentang menolak orang lain, melainkan memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat. Tidak semua ajakan harus diterima, tidak semua pekerjaan harus diambil, dan tidak semua pesan harus langsung dibalas. Sesekali memilih berhenti sejenak juga merupakan bentuk self-care yang penting.

Saat energi terjaga, kamu justru bisa hadir dengan versi terbaik untuk pekerjaan, keluarga, maupun pertemanan. Sebaliknya, terus memaksakan diri demi memenuhi ekspektasi semua orang hanya akan membuatmu kelelahan secara fisik maupun emosional.

Pada akhirnya, kamu tidak harus selalu menyenangkan semua orang. Yang terpenting, tetap menjadi versi terbaik dari diri sendiri tanpa mengorbankan ketenanganmu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article