Kata Tasya Farasya, Hindari Pasangan Hidup Macam Ini dalam Pernikahan

- Tasya Farasya mengingatkan perempuan untuk mewaspadai calon pasangan dengan tanda red flag, berdasarkan pengalaman pribadinya dalam memandang karakter yang berisiko memperburuk pernikahan.
- Gaslighting dinilai berbahaya karena melibatkan manipulasi psikologis, kebohongan, penyangkalan, dan upaya membuat pasangan meragukan ingatan, persepsi, serta realitasnya.
- Tipe yang disorot juga mencakup laki-laki bergantung tidak sehat pada ibu, menghindari tanggung jawab keluarga, atau tidak matang emosional dalam mengelola perasaan dan kebutuhan pasangan.
Selebgram Tasya Farasya mengungkap beberapa tipe laki-laki yang sepatutnya dihindari untuk menjadi pasangan hidup dalam pernikahan. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ada beberapa karakter yang sebaiknya tidak dimiliki oleh pasangan. Ia mengimbau agar perempuan lebih aware terhadap tanda-tanda tertentu.
Ternyata, beberapa karakter yang dibagikan oleh Tasya dapat dijelaskan secara ilmiah sebagai cowok dengan sikap red flag. Apa saja tipe laki-laki yang sebaiknya dihindari agar tidak membuat pernikahan menjadi lebih buruk?
1. Orang yang suka gaslighting

ilustrasi perlakuan gaslighting dalam hubungan sosial (unsplash.com/Vitaly Gariev) Gaslighting adalah taktik seseorang untuk mendapatkan lebih banyak kekuatan dengan membuat korban mempertanyakan realitas mereka. Laki-laki yang melakukan gaslighting melakukan manipulasi psikologis dengan sengaja kepada pasangannya untuk membuat ia ragu akan ingatan, persepsi, kenyataan, hingga kewarasannya. Melansir Psychology Today, ada beberapa tanda bahaya yang ditunjukkan oleh orang yang suka gaslighting dalam hubungan menurut konselor Stephanie Sarkis, Ph.D.
Gaslighters bersikap manipulatif dengan mengatakan kebohongan secara terang-terangan, lalu menyangkal bahwa mereka pernah mengatakan sesuatu meski korbannya memiliki bukti. Mereka menggunakan apa yang korbannya sayangi sebagai amunisi. Misalnya, anak-anak. Mereka juga membuat korbannya lelah secara mental karena banyak kebohongan dari waktu ke waktu. Salah satunya karena tindakan mereka tidak sesuai dengan kata-kata mereka. Pada dasarnya, gaslighters melemahkan orang. Tujuannya adalah membuat bingung.
2. Anak mami atau mama's boy

ilustrasi anak mami(pexels.com/Kindel Media) Anak mami adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan laki-laki yang bergantung atau terikat erat secara tidak sehat dengan ibunya. Hal ini mengganggu kemandirian dan hubungan dengan orang lain ketika dewasa, menurut psikoterapis Marni Feuerman dalam VeryWell Mind. Kondisi mama's boy sering kali menjadi tanda insecure attachment ketika berlanjut hingga dewasa. Laki-laki terus mengandalkan ibu untuk memenuhi kebutuhan praktis, finansial, emosional dan sosial.
Para peneliti dalam sumber serupa menyarankan agar anak laki-laki memiliki batasan dengan orangtua berkaitan dengan hubungan mereka. Contoh batasan yang sehat adalah merasa nyaman untuk mengatakan tidak, jujur tentang perasaan dan kebutuhan, serta memiliki kemandirian.
Sementara batas yang tidak sehat adalah kesulitan menolak sesuatu, ketidakjujuran tentang keinginan dan kebutuhan, serta ketergantungan satu sama lain. Dampaknya, sebuah penelitian yang dipaparkan dalam VeryWell Mind mencatat bahwa anak laki-laki menjadi lebih agresif dan tidak terbuka secara emosional.
3. Role avoidance dan menghindari tanggung jawab

ilustrasi menghindar membahas status hubungan (magnific.com/garetsvisual) Tasya menyampaikan bahwa tidak sebaiknya menikahi laki-laki yang lebih memilih untuk hangout dengan teman daripada menghabiskan waktu dengan keluarga. Selain itu, ia juga menggunakan istilah "stop the wedding" jika menikahi laki-laki yang tidak sadar akan tanggung jawabnya sebagai suami dan ayah.
Dalam istilah psikologi, laki-laki seperti ini mungkin dapat dikatakan memiliki ketidakmatangan emosional dan ketidakhadiran emosional. Diterangkan bahwa ketersediaan emosional adalah kemampuan dan kemauan untuk terlibat dengan perasaan pribadi dan pasangan, dikutip dari Times. Hal tersebut berarti terbuka terhadap kerentanan, mampu mengekspresikan apa yang dirasakan, dan responsif ketika seseorang membagikan sesuatu yang berarti baginya.
Ketidakmatangan emosional ini juga terindikasi sebagai ketidakmampuan seseorang dalam memahami dan menjalankan tanggung jawabnya dalam pernikahan. Dalam laman Marriage.com dijelaskan, seorang suami yang tidak bertanggung jawab adalah pasangan yang gagal memenuhi kewajibannya terhadap keluarga dengan mengabaikan kebutuhan emosional dan fisik. Seorang suami yang tidak menjalankan peran dengan baik, menunjukkan sikap pengabaian tanggung jawab keuangan, kurang komunikasi, tidak dapat diandalkan, serta perilaku egois.
4. Ketidakmatangan emosional

ilustrasi pria menghindar dari wanita (pexels.com/RDNE Stock project) Tipe laki-laki yang tidak disarankan oleh Tasya untuk dinikahi adalah mereka yang memiliki emotional immaturity. Menurut psikoterapis Kaytee Gillis dalam Psychology Today, ketidakdewasaan emosional adalah ketika seseorang tidak dapat mengenali atau mengendalikan emosi mereka dengan cara yang sesuai dengan usia. Laki-laki dengan sikap ini sulit untuk menempatkan kebutuhan keluarga di atas keinginan pribadi. Mereka juga menunjukkan sikap yang kurang mempertimbangkan dampak perilakunya terhadap pasangan dan anak, serta cenderung mengutamakan kesenangan sesaat.
Sikap tidak dewasa yang ditunjukkan oleh laki-laki dapat bermanifestasi dalam bentuk ledakan emosi, kurangnya kesadaran diri, dan kurangnya kedalaman emosi. Sebab, seorang laki-laki dengan sikap yang immature dapat berjalan dengan sikap toksik dan kasar.
Beberapa hal di atas dapat menjadi pembelajaran berharga bagi publik untuk bijak dalam mengambil keputusan. Terlebih, pernikahan membutuhkan komitmen yang besar dari kedua belah pihak.























