Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Profil Singkat Taridonolobo, Sanggar Rias Prewed Jennifer Coppen

Profil Singkat Taridonolobo, Sanggar Rias Prewed Jennifer Coppen
Profil Singkat Taridonolobo, Sanggar Rias Prewed Jennifer Coppen (instagram.com/jennifercoppen | sianugerah.jogjaprov.go.id)
Intinya Sih
  • Taridonolobo, sanggar rias adat Jawa yang menangani prewedding Jennifer Coppen, berakar dari warisan Keraton Yogyakarta dan dikenal menjaga pakem tradisi turun-temurun.
  • Siti Lestari Donolobo atau Tari, pendiri Taridonolobo, mewarisi keahlian rias dari ibunya Raden Ayu Siti Rochaya Donolobo, tokoh penting di organisasi Hastanata sejak 1978.
  • Dari Yogyakarta hingga Jakarta, Taridonolobo berkembang pesat melayani tokoh nasional dan selebritas ternama sambil terus mengusung misi pelestarian budaya rias pengantin keraton.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Nama Taridonolobo mungkin belum terlalu familier di telinga banyak orang. Namun, di dunia pernikahan adat Jawa, sanggar rias ini sudah lama jadi salah satu nama yang paling dipercaya. Baru-baru ini, sanggar tersebut kembali mencuri perhatian setelah menangani sesi prewedding Jennifer Coppen dalam balutan busana adat Jawa gaya Solo Putri.

Di balik nama besar Taridonolobo, ada sosok dan perjalanan panjang yang menarik untuk dikenal lebih dalam. Bukan sekadar sanggar rias biasa, Taridonolobo menyimpan warisan tradisi Keraton Yogyakarta yang dijaga turun-temurun hingga hari ini.

1. Nama di balik Taridonolobo

Profil Singkat Taridonolobo, Sanggar Rias Prewed Jennifer Coppen (sianugerah.jogjaprov.go.id)
Profil Singkat Taridonolobo, Sanggar Rias Prewed Jennifer Coppen (sianugerah.jogjaprov.go.id)

Di balik nama Taridonolobo, ada sosok bernama lengkap Siti Lestari Donolobo atau akrab disapa Tari. Lahir pada 10 April 1947 di Yogyakarta, ia adalah putri dari Raden Ayu Siti Rochaya Donolobo, seorang dukun manten keraton yang namanya sangat dihormati di dunia rias pengantin Jawa. Sang ibu bukan sosok sembarangan. Ia merupakan salah satu dari empat tokoh pendiri Hastanata pada 1978, organisasi yang mewadahi ahli seni tata rias dan busana daerah Yogyakarta.

Dari jalur ayahnya, Tari merupakan cucu dari K.R.T. Dirdjokusumo, Bupati Bantul. Sementara dari jalur ibu, ia masih memiliki garis keturunan dari R.M. Hatmodanuseputro yang merupakan keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono VI.

Sejak kecil, Tari sudah akrab dengan dunia rias pengantin karena tumbuh di tengah keseharian ibunya yang berprofesi sebagai dukun manten. Ia aktif membantu, mulai dari meruncingkan pensil alis, menyiapkan perlengkapan makeup, hingga merangkai bunga pengantin. Sebelum serius terjun ke dunia rias, ia sempat menjalani karier sebagai pramugari di Bali. Namun setelah berkeluarga, atas dorongan ibunya, Tari mulai mendalami ilmu rias pengantin secara lebih serius. Ia belajar langsung dari para empu rias ternama Yogyakarta seperti Marmien Sardjono dan Sri Supadmi. Dari situlah, perjalanan panjangnya sebagai maestro rias pengantin adat Jawa benar-benar dimulai.

2. Warisan keraton di balik Taridonolobo

Profil Singkat Taridonolobo, Sanggar Rias Prewed Jennifer Coppen (sianugerah.jogjaprov.go.id)
Profil Singkat Taridonolobo, Sanggar Rias Prewed Jennifer Coppen (sianugerah.jogjaprov.go.id)

Salah satu momen paling bersejarah dalam perjalanan Taridonolobo adalah ketika para pendiri Hastanata memberanikan diri mendekati Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk meminta izin memopulerkan tradisi rias dan busana pengantin keraton ke masyarakat luas. Pendekatan tersebut dilakukan melalui garwo dalem KRAy. Pinko Purnomo dan hasilnya luar biasa. Sri Sultan memberikan restu dengan satu syarat tegas: tradisi tersebut tidak boleh diubah, hanya boleh ditiru persis seperti apa yang dikenakan pengantin keraton. Dari sinilah, legitimasi Hastanata sebagai penjaga tradisi rias keraton Yogyakarta benar-benar menguat.

Raden Ayu Siti Rochaya Donolobo, ibunda dari Tari, adalah salah satu tokoh kunci di balik keberanian tersebut. Sebagai salah satu pendiri Hastanata bersama tiga empu rias lainnya, yaitu Chandani Wiyati Sosronegoro, Sukirap Amanah Prajoko Halpito, dan Marmien Sardjono, ia turut berjasa membuka jalan agar masyarakat di luar tembok keraton bisa menikmati keindahan tradisi rias pengantin Jawa yang selama itu hanya ada di lingkungan istana. Warisan inilah yang kemudian diteruskan oleh Tari hingga era modern, menjaga pakem tanpa kompromi.

3. Dari Yogyakarta ke Jakarta

potret Al Ghazali di acara pengajian dan siraman (instagram.com/alghazali7)
potret Al Ghazali di acara pengajian dan siraman (instagram.com/alghazali7)

Perjalanan Taridonolobo tidak berhenti di Yogyakarta. Bersama kakaknya, Donatirin Siswadi, Tari mendirikan Sanggar Sri Renggo Sadono pada tahun 1990 dan perlahan merambah ke Jakarta. Nama sanggar ini secara harfiah berarti perhiasan yang cemerlang dan memang begitulah reputasi yang berhasil mereka bangun selama puluhan tahun. Berawal dari melayani kalangan pejabat tinggi TNI/POLRI dan tokoh negara, nama Taridonolobo pelan-pelan dikenal luas oleh masyarakat dari berbagai kalangan.

Kini, kepercayaan terhadap Taridonolobo sudah terbukti di momen-momen pernikahan paling bergengsi di Indonesia. Beberapa nama besar yang pernah memercayakan rias pengantin adat Jawa mereka kepada sanggar ini antara lain Alyssa Daguise saat menikah dengan Al Ghazali, Erina Gudono saat melangsungkan pernikahan dengan Kaesang Pangarep, hingga kini Jennifer Coppen saat momen prewedding.

Bagi Taridonolobo, setiap pengantin yang mereka dandani bukan sekadar klien. Pengantin juga bagian dari misi panjang melestarikan tradisi rias keraton Yogyakarta agar tetap hidup dari generasi ke generasi.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriyanti Revitasari
EditorFebriyanti Revitasari
Follow Us