Serba-Serbi Adat Jawa di Pernikahan Anak Soimah, Ada Topi Kuluk Biru

- Pernikahan Aksa Uyun dan Yosika Ayumi digelar meriah dengan adat Jawa, menampilkan busana paes ageng kanigaran serta berbagai simbol budaya yang sarat makna.
- Kuluk biru yang dikenakan Aksa melambangkan kewibawaan dan kejayaan, sementara riasan paes ageng Yosika dengan lis emas menunjukkan keanggunan khas tradisi Yogyakarta.
- Prosesi balangan gantal hingga hiasan melati di sanggul menggambarkan filosofi kasih sayang, kesucian, dan peran perempuan dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.
Pernikahan Aksa Uyun, putra sulung Soimah, dengan Yosika Ayumi yang kental adat Jawa, sukses menyita perhatian banyak orang. Ngunduh Mantu pada Sabtu (9/5/2026) yang jadi puncak acara, berlangsung meriah. Acaranya tak hanya menunjukkan kebahagiaan kedua mempelai dan keluarga, tapi juga menambah wawasan tentang kekayaan budaya Jawa.
Detail busana pengantin dan riasan paes ageng yang dikenakan Aksa dan Yosika, menyimpan filosofi mendalam. Berikut ini serba-serbi adat Jawa di pernikahan anak Soimah.
1. Topi biru yang dikenakan Aksa Uyun bernama kuluk

Ngunduh Mantu anak Soimah dibagi menjadi dua sesi. Pada sesi pertama di pagi hari, Aksa dan Yosika mengenakan busana pengantin paes ageng kanigaran. Topi biru yang dikenakan Aksa menyita perhatian. Topi atau penutup kepala ini bernama kuluk.
Dalam budaya Jawa, ada dua warna kuluk, yaitu hitam dan biru muda. Dalam tradisi Kesultanan Yogyakarta, kuluk hitam biasanya dikenakan oleh raja, sedangkan kuluk biru muda untuk pangeran. Kuluk bukan hanya sekadar penutup kepala, tapi juga dianggap sebagai simbol kewibawaan, kebijaksanaan, dan kejayaan.
2. Paes ageng kanigaran yang dikenakan Yosika punya ciri khas ujung runcing dan lis emas

Riasan paes ageng kanigaran membuat Yosika tampil ayu sekaligus anggun di acara Ngunduh Mantu. Secara umum, ada dua jenis riasan paes adat Yogyakarta, yaitu paes ageng dan paes Jogja putri. Ciri khas paes adat Yogyakarta adalah lengkungannya yang cenderung lancip dengan ujung runcing, berbeda dengan paes Solo yang lebih lebar dengan ujung tumpul.
Lis atau garis tepi warna emas jadi pembeda antara paes ageng dengan paes Jogja putri. Lis emas tersebut disebut prada, bisa berbentuk serbuk, cair, atau lapisan tipis yang sudah disesuaikan bentuk dan ukurannya dengan kebutuhan pengantin perempuan. Untuk bagian hitamnya, menggunakan pidih yang terbuat dari campuran lilin berwarna hitam.
3. Alis menjangan menyimpan makna mendalam tentang peran perempuan dalam keluarga

Alis pada riasan paes ageng juga punya bentuk yang unik. Bentuk alis ini disebut menjangan ranggah yang memiliki bentuk bercabang seperti tanduk rusa dan memang terinspirasi dari rusa yang menjadi simbol peran perempuan dalam rumah tangga.
Ada tiga sifat atau peran perempuan yang digambarkan lewat alis menjangan ranggah, yaitu kecerdikan, keanggunan, dan kelincahan. Dalam budaya Jawa, perempuan sebagai istri dan ibu diharapkan mampu berpikir tajam dan bijaksana, menjaga keindahan penampilan, serta tangkas menjalankan perannya.
4. Melati hiasan sanggul menyimpan filosofi indah

Hiasan roncean melati pada sanggul ibu kedua mempelai turut menyita perhatian. Soimah dan ibunda Yosika mengenakan sanggul besar dengan hiasan pinthi keket melati di bagian atas, juga ceplok melati di belakang telinga.
Penggunaan hiasan ronce melati ini juga menyimpan makna mendalam, yaitu simbol kesucian, ketulusan, dan keanggunan perempuan. Bunga melati yang digunakan berbentuk kuncup sehingga lebih mudah dan awet saat dirangkai.
5. Prosesi balangan gantal sebagai simbol kasih sayang dalam rumah tangga

Acara Ngunduh Mantu Aksa dan Yosika diawali dengan prosesi panggih yang sarat makna. Salah satu tahapan dalam prosesi panggih yang menarik perhatian adalah momen balangan gantal, di mana mempelai laki-laki dan perempuan saling melempar lintingan daun sirih dalam posisi berhadapan.
Prosesi balangan gantal ini ternyata punya filosofi mendalam yang melambangkan penyatuan dua hati, saling melempar kasih sayang yang disimbolkan lewat lemparan lintingan sirih. Prosesi ini juga dianggap sebagai penanda awal pertemuan pasangan setelah sah menjadi suami istri.
Itu tadi serba-serbi adat Jawa di pernikahan Aksa Uyun anak Soimah. Setiap detail busana, riasan, hingga prosesinya menyimpan makna yang mendalam dan menggambarkan kekayaan budaya Jawa.
![[QUIZ] Cek Kematangan Emosional dan Seberapa Dewasa Kamu dalam Hubungan](https://image.idntimes.com/post/20250515/screenshot-2025-05-15-152550-729cf6c4f291ffce1d7960e8c2669322-64b75117b966b8f09a2a65dddd2c3731.png)
![[QUIZ] Kuis Ini Menebak Kamu Tipe Cewek Value atau Bukan](https://image.idntimes.com/post/20250527/24452-94e6cc185ec1d10df67af56587621edc-2f1c5f8f427125243287bcfc21e47c82.jpg)

![[QUIZ] Dari Kuis Ini, Kami Tahu Kamu Tipe Emosional Seperti Apa dalam Hubungan](https://image.idntimes.com/post/20230926/pexels-antoni-shkraba-4498918-647b8f4b1a93640f2a3edd6c78fe640e-5ff0d34dd2d0c3a4fb363d21fe92e1a2.jpg)
![[QUIZ] Apakah Kamu Termasuk Penggiat Silent Treatment dalam Hubungan?](https://image.idntimes.com/post/20250527/pexels-budgeron-bach-6532746-1-396924769c40eb0d4b9804bf338d2e84-bdddddd190a51af166f687eee20e485a.jpg)













