Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Kita Sering Membaca Pesan Berkali-kali Sebelum Dikirim?
Ilustrasi texting (pexels.com/Maksim Goncharenok)
  • Kebiasaan membaca ulang chat muncul karena pesan teks kehilangan nada suara, ekspresi, dan bahasa tubuh, sehingga pengirim berupaya mengurangi risiko salah paham.
  • Pengirim juga kerap mengedit pilihan kata, tanda baca, dan emoji untuk mengatur kesan diri, terutama saat berkomunikasi dengan orang yang pendapatnya dianggap penting.
  • Mengecek pesan sekali atau dua kali dinilai wajar untuk memperjelas maksud, tetapi pemeriksaan berulang tanpa kesalahan dapat mencerminkan pencarian rasa yakin.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernahkah kamu menulis pesan lalu membacanya lagi sebelum menekan tombol kirim? Hal ini bisa terjadi saat kita mengirim chat kepada teman, pasangan, rekan kerja, bahkan orang yang baru dikenal. Biasanya, kita ingin memastikan pesan yang dikirim sudah jelas dan tidak terdengar aneh. Kita pun mulai mengecek pilihan kata, tanda baca, emoji, hingga panjang pendeknya pesan.

Di era ketika sebagian besar komunikasi berlangsung lewat layar, pesan teks memang punya tantangan tersendiri. Kita tidak bisa langsung melihat ekspresi wajah atau mendengar nada suara orang yang menerima pesan. Karena itu, kita sering mencoba menebak bagaimana pesan tersebut akan dipahami oleh orang lain. Rasa khawatir ini bisa membuat proses mengirim chat sederhana terasa lebih serius dari seharusnya. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di balik kebiasaan membaca pesan berulang kali?

1. Takut pesan kita disalahpahami

ilustrasi chat tak dibalas (freepik.com/freepik)

Salah satu alasan kita membaca ulang pesan adalah ingin memastikan maksud yang disampaikan tidak berubah ketika dibaca orang lain. Apalagi, chat tidak punya nada suara, ekspresi wajah, atau bahasa tubuh yang biasanya membantu menjelaskan maksud seseorang. Kalimat sederhana seperti “oke” pun bisa terasa berbeda tergantung konteks dan hubungan dengan penerimanya.

Michel Horvat, Licensed Marriage and Family Therapist yang berspesialisasi dalam terapi pasangan, mengatakan, “Semua nuansa dan detail dalam prosodi, intonasi, emosi, serta penekanan pada bagian tertentu dari sebuah kalimat akan hilang ketika semuanya dipadatkan menjadi sebuah pesan teks. Hal terdekat yang bisa kita gunakan untuk menyampaikan emosi atau maksud hanyalah emoji dan tanda seru. Selain itu, seluruh unsur manusiawi dalam komunikasi ikut hilang. Dari kehilangan itulah asumsi dan salah tafsir muncul. Hal ini turut membuat hubungan terasa kurang manusiawi dan memberi ruang bagi asumsi serta maksud yang keliru,” dikutip dari Bustle.

Jadi, membaca ulang pesan sebenarnya bisa menjadi usaha kecil untuk mengurangi kemungkinan salah paham. Masalahnya, kalau setiap kalimat terus diperiksa meski tidak ada yang perlu diubah, kebiasaan ini justru bisa membuat kita makin ragu.

2. Ingin mengatur kesan yang diterima orang lain

ilustrasi chat (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Chat juga menjadi ruang untuk mengatur bagaimana kita ingin terlihat di mata orang lain. Kita bisa menghapus kata yang terasa terlalu kasar, mengganti “iya” menjadi “iyaa”, atau menambahkan emoji supaya terdengar lebih ramah. Hal ini makin terasa ketika pesan dikirim kepada seseorang yang pendapatnya kita anggap penting.

Psikolog Kia-Rai M. Prewitt, PhD, mengatakan, “Kalau kamu sudah khawatir tentang bagaimana orang memandangmu, apa yang kamu tulis bisa membuatmu cemas karena kamu tidak yakin bagaimana mereka akan menafsirkannya,” dikutip dari Cleveland Clinic.

Dengan kata lain, yang diperiksa sebenarnya bukan cuma isi pesan saja, tetapi juga kesan tentang diri kita. Kita ingin terdengar pintar, sopan, santai, perhatian, tetapi tidak berlebihan. Karena itu, satu pesan pendek bisa membutuhkan beberapa kali revisi sebelum akhirnya berani dikirim.

3. Pesan teks memang mudah kehilangan konteks

ilustrasi memahami chat (pexels.com/EKATERINA BOLOVTSOVA)

Saat berbicara langsung, kita mendapat banyak petunjuk selain kata-kata. Nada suara, ekspresi wajah, hingga gerakan tubuh dapat membantu orang memahami maksud sebenarnya. Sementara itu, chat hanya menyisakan kata, tanda baca, dan mungkin emoji sebagai petunjuk.

Jaya Jaya Myra, seorang lifestyle coach, mengatakan “Pesan teks sering kali disalahpahami karena kita tidak bisa melihat nada suara atau bahasa tubuh sebagai petunjuk,” dikutip dari Bustle.

Itulah kenapa membaca ulang sebenarnya tidak selalu berarti kita terlalu banyak berpikir. Mengecek pesan sekali untuk memastikan maksudnya jelas justru bisa membantu. Namun kalau sudah berkali-kali membaca tanpa menemukan kesalahan apa pun, mungkin yang sedang dicari bukan lagi kesalahan dalam pesan, melainkan rasa yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Tidak ada pesan yang bisa sepenuhnya mengontrol bagaimana orang lain akan menafsirkannya arti pesannya. Membaca ulang sekali atau dua kali tentu wajar, terutama untuk pesan penting. Namun kalau satu chat pendek saja membuat kita menghabiskan waktu lama untuk memilih kata, mungkin sudah waktunya berhenti mengedit dan mulai percaya pada apa yang sebenarnya ingin kita sampaikan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article