Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Weaponized Incompetence: 4 Tanda Pasangan Sengaja Lepas Tangan

Weaponized Incompetence: 4 Tanda Pasangan Sengaja Lepas Tangan
ilustrasi pasangan sedang bertengkar (pexels.com/Timur Weber)
Intinya Sih
  • Weaponized incompetence adalah perilaku sengaja berpura-pura tidak mampu agar tugas dan tanggung jawab akhirnya diambil alih orang lain.
  • Tandanya meliputi mengerjakan tugas asal-asalan, mengaku tak bisa melakukan keterampilan dasar, serta memakai kesalahan masa lalu untuk menghindari tanggung jawab.
  • Pelaku juga bisa terus mengeluh dan membesar-besarkan beban saat dimintai bantuan, hingga pasangan lelah, berhenti meminta tolong, dan mengerjakan semuanya sendiri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kamu pernah gak merasa capek sendiri karena mengerjakan banyak pekerjaan yang sebenarnya bukan selalu tanggung jawab kamu? Dengan kata lain, kamu sebenarnya bisa membagi pekerjaan itu dengan pasanganmu? Hal itu bukan karena pasanganmu gak mampu, tetapi lebih karena setiap kali dimintai tolong, ia selalu berkata gak bisa dan hasilnya pun berantakan. Kalau iya, bisa jadi kamu terjebak dalam weaponized incompetence.

Weaponized incompetence mengacu pada perilaku seseorang yang sengaja pura-pura gak mampu mengerjakan tugas tertentu agar nantinya tanggung jawab itu diambil oleh orang lain. Terdengar menyebalkan, ya. Nah, supaya kamu bisa berhati-hati dengan orang seperti ini, berikut tanda kalau seseorang mengalami weaponized incompetence!

1. Sengaja mengerjakan sesuatu dengan asal-asalan agar terlihat gak kompeten

ilustrasi pasangan sedang bertengkar
ilustrasi pasangan sedang bertengkar (pexels.com/Timur Weber)

Ini adalah tanda paling jelas dari weaponized incompetence. Saat kamu meminta tolong pasanganmu untuk membantu pekerjaan rumah, ia mungkin memang menyanggupinya di awal, bahkan dengan senang hati. Namun, saat mengerjakan pekerjaan itu, ia tampak mengerjakannya secara asal-asalan dengan hasil yang malah berantakan. Misalnya, meminta tolong untuk mencuci piring, tetapi hasilnya piring yang dicuci masih berlemak.

Orang dengan weaponized incompetence punya pola pikir bahwa kalau hasil pekerjaannya jelek, ia tidak akan dimintai tolong di kemudian hari. Oleh karena itu, ia terhindar dari pekerjaan itu, padahal sebenarnya ia mampu.

2. Sering mendadak gak mampu mengerjakan hal-hal yang sebenarnya sepele dan merupakan skill dasar manusia

ilustrasi orang sedang bermalas-malasan
ilustrasi orang sedang bermalas-malasan (pexels.com/Kampus Production)

Pekerjaan domestik itu sejatinya gak mengenal gender, gak hanya untuk perempuan atau laki-laki. Bahkan, hal tersebut merupakan skill dasar manusia yang perlu dikuasai, seperti memasak, mencuci, menyapu, atau sekadar merapikan barang-barang. Namun, pasangan yang weaponized incompetence akan mendadak bersikap seolah hal-hal dasar itu sangat rumit untuk dikerjakan.

Kalau kamu minta tolong ke mereka untuk melakukannya, mereka sering bilang gak mampu dan gak kompeten untuk itu. Mereka sering pura-pura bingung atau gak tahu. Dengan begitu, kamu akan malas untuk menyuruhnya lagi dan pada akhirnya mengerjakan semua sendiri.

3. Menjadikan kesalahan masa lalu sebagai alasan lepas tangan dan menghindari tanggung jawab

ilustrasi orang sedang merapikan ruangan
ilustrasi orang sedang merapikan ruangan (pexels.com/Blue Bird)

Pernah kamu menyuruh pasanganmu mengerjakan sesuatu hal, tetapi dia langsung menolaknya secara harus dengan mengungkit kejadian masa lalu? Misalnya, dengan berkata, “Kan waktu itu aku salah beli, jadi mending kamu aja yang belanja. Kamu pandai lho soal ini”.

Pernyataan semacam itu kalau diucapkan berkali-kali menyebalkan, bukan. Awalnya, memang tampak seperti pujian. Namun, itu adalah bentuk manipulasi yang halus agar seseorang terbebas dari tugas maupun tanggung jawabnya. Nah, kalau pasanganmu sering berperilaku seperti ini, mungungkit kesalahan masa lalu, lantas melayangkan tanggung jawabnya padamu, berarti dia adalah seorang weaponized incompetence.

4. Kerap kali mengeluh ketika dimintai melakukan sesuatu supaya kamu capek sendiri

ilustrasi pasangan sedang bertengkar
ilustrasi pasangan sedang bertengkar (pexels.com/Polina Zimmerman)

Selain tipe yang langsung menyanggupi tapi asal-asalan, ada juga tipe yang menolak dengan cara mengeluh. Tiap kali kamu meminta bantuannya, ia pasti akan langsung melontarkan ribuan alasan dan keluhan. Nada bicaranya pun berat seolah-olah pekerjaan itu adalah beban yang luar biasa.

Nah, keluhan yang berulang-ulang dan sikap dramatis ini lantas membuat kamu jadi capek sendiri. Hasilnya, kamu akan menyerah untuk meminta tolong padanya dan menormalisasikan hal itu.

Weaponized incompetence sering digunakan seseorang sebagai taktik untuk mendikte orang lain dalam situasi tertentu. Kalau kamu menyadari tanda-tanda itu ada di pasanganmu, saatnya kamu berhenti untuk jadi korban. Selalu tetapkan batasanmu kepada siapa saja, ya. Jangan langsung mengambil alih dan komunikasikan secara jujur.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More