"Kita harus paham dinamika tubuh perempuan. Perubahan hormon estrogen sangat berpengaruh pada menstruasi. Karena mood yang berantakan berkaitan dengan serotonin dan dophamine. Ketika menstruasi di awal-awal, biasanya juga lebih sensitif terhadap ekspresi orang," dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ, Psikiatris dan Medical Expert.
Bukan 'Minum Air Hangat', Ini Cara Menghadapi Perempuan Menstruasi!

Jakarta, IDN Times - Saat seorang teman bilang ia sedang menstruasi, respons pertama yang muncul sering kali terasa otomatis "istirahat ya," atau "minum air hangat." Niatnya mungkin baik, tapi kalau dipikir lagi, apakah itu benar-benar cukup? Apakah kita sudah benar-benar hadir, atau sekadar memberi respons agar situasi terasa lebih ringan?
Faktanya, menstruasi bukan sekadar kram perut yang bisa reda dengan segelas air hangat. Seperti yang disampaikan expert dan narasumber dalam peluncuran kampanye Comfort Made Together oleh Laurier pada Selasa (21/4/2026) di Silk Bistro Menteng, Jakarta Pusat. Perubahan hormon estrogen saat menstruasi berdampak langsung pada kadar serotonin dan dopamin, yang mana keduanya memang memengaruhi suasana hati. Lantas, bagaimana merespons perempuan yang tengah menstruasi?
1. Pahami dulu bahwa menstruasi bukan sekadar nyeri fisik

Selama ini, menstruasi sering kali hanya diasosiasikan dengan nyeri perut atau kram yang bisa diatasi dengan obat pereda nyeri dan istirahat. Padahal, yang dialami perempuan setiap bulannya jauh lebih kompleks dari itu. Selain ketidaknyamanan fisik seperti kram, sakit kepala, hingga masalah tidur. Ada juga dimensi emosional yang sama nyatanya, dan justru sering kali diabaikan oleh orang-orang di sekitar mereka.
Perubahan suasana hati yang terjadi saat menstruasi bukan sekadar 'perasaan' yang bisa dikontrol begitu saja. Ada proses biologis yang sedang berjalan di baliknya. Ketika hormon dalam tubuh berfluktuasi, respons emosional pun ikut terpengaruh.
2. Hindari respons template yang terasa gak nyampe

'Istirahat aja,' 'minum air hangat,' 'jangan kebanyakan pikiran,' kalimat-kalimat ini pasti sudah sangat familiar. Diucapkan dengan niat baik, didengar berkali-kali, tapi kadang rasanya tak pernah benar-benar sampai. Bukan karena orang yang mengatakannya gak peduli. Mungkin justru sebaliknya, mereka peduli, hanya saja belum tahu cara mengekspresikannya dengan cara yang benar-benar terasa.
Pengalaman menstruasi setiap perempuan berbeda-beda. Ada yang nyeri fisiknya yang dominan, ada yang lebih berat secara emosional. Lalu, ada yang butuh ditemani, ada yang butuh ruang. Satu respons yang sama untuk semua situasi jelas tidak akan cukup. Daripada langsung merespons dengan solusi yang terasa generik, coba berhenti sejenak dan perhatikan dulu kondisi mereka. Karena kepedulian yang nyata dimulai dari kesadaran, bukan kebiasaan.
"Aku merasa bahwa kita semua punya intentions untuk peduli. Tentu niatnya baik, tapi sampai ke kita kadang kayak template banget. Bukan berarti niatnya salah, tapi responsnya terlalu sederhana untuk pengalaman menstruasi yang kompleks," kata Maudy Ayunda, New Brand Ambassador Laurier.
3. Sebaiknya bertanya dulu, jangan langsung kasih statement atau solusi

Saat melihat seseorang sedang tidak nyaman karena menstruasi, reaksi pertama yang muncul biasanya adalah langsung menawarkan solusi. Padahal, belum tentu itu yang mereka butuhkan saat itu. Asumsi bahwa seseorang pasti butuh saran atau solusi justru bisa membuat mereka merasa tidak benar-benar didengar.
Bertanya sederhana seperti 'kamu lagi butuh apa?' atau 'ada yang bisa aku bantu?' ternyata bisa jauh lebih bermakna. Pertanyaan memberi ruang bagi perempuan untuk mengekspresikan apa yang sebenarnya mereka rasakan dan butuhkan. Ini juga bentuk empati yang konkret, menunjukkan bahwa kamu benar-benar ingin tahu, bukan sekadar ingin memberi solusi.
"Aku suka banget sama kekuatan dari bertanya. Itu juga bisa menjadi bentuk dari empati. Kalau lagi pengin respons, kita cenderung mikir mereka butuh solusi, jadi yang keluar dari mulut biasanya statement. Padahal mungkin yang diperlukan lebih ke pertanyaan, itu justru terasa lebih nyaman dan sampai," lanjut Maudy.
4. Jangan validasi stigma atau label pada perempuan menstruasi

Kalimat seperti 'kamu sensitif, lagi mens ya?' atau 'coba dikontrol dulu mood-nya' mungkin terasa sepele bagi yang mengatakannya. Tapi bagi perempuan yang sedang menstruasi, kalimat-kalimat seperti itu justru bisa terasa menyudutkan. Alih-alih merasa didukung, mereka malah merasa ekspresi dan perasaannya tidak valid. Seolah apa yang mereka rasakan hanyalah efek samping yang perlu dikendalikan, bukan sesuatu yang perlu dipahami.
Stigma seputar menstruasi yang sudah lama berkembang di masyarakat, bahwa perempuan yang mens jadi lebay atau gak stabil, justru memperburuk kondisi mereka. Padahal seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, perubahan emosi saat menstruasi adalah respons biologis yang nyata.
"Kalau aku pribadi, kurang nyaman kalau langsung dilabelin terlalu sensitif karena menstruasi. Kayak, dibilang 'coba dikontrol lagi mood-nya'. Di situ kadang aku merasa kecil. Dan yang bikin gak nyaman bukan rasa sakitnya secara fisik, tapi ketika perasaan dan ekspresi kita gak valid apabila sedang menstruasi," ujar Maudy.
5. Laurier menghadirkan campaign Comfort Made Together

Merespons kebutuhan perempuan yang kerap belum terpenuhi di sekitar momen menstruasi, Laurier meluncurkan kampanye Comfort Made Together. Kampanye ini hadir bukan hanya soal proteksi, tapi juga tentang kenyamanan, pemahaman, dan koneksi yang nyata antara perempuan dan orang-orang di sekitarnya.
Melalui inisiatif ini, Laurier mengajak semua pihak untuk bersama-sama melakukan gerakan HADIR, sebuah pendekatan sederhana yang terdiri dari tiga langkah:
- Pa(HA)mi. Pahami apa yang dirasakan perempuan yang sedang menstruasi
- (D)amping(I). Dampingi dengan empati
- (R)espons. Respons dengan tindakan nyata
Karena menurut Laurier, kenyamanan bukan sesuatu yang bisa diberikan begitu saja. Melainkan sesuatu yang diciptakan bersama.