Comscore Tracker

Mengenal 4 Srikandi Jurnalis Foto Dari Indonesia yang Mendunia

Inilah para wanita yang membidik gambar untuk AFP, Reuters, dan lainnya

Setiap mendengar profesi jurnalis foto, dibenak kamu langsung terbayang itu adalah pekerjaan laki-laki. Membawa peralatan kamera yang banyak dan berat, berjalan di bawah terik matahari, bahkan harus terjun ke medan perang. Bisa dibilang termasuk kegiatan yang ekstrem dan membutuhkan tenaga lebih.

Tapi dari keribetan semua itu, tidak memberikan batasan bagi perempuan untuk melakukan hal yang sama. Dari sekian banyak jurnalis foto di Indonesia, terdapat jurnalis foto perempuan yang hebat dan tak kalah profesionalnya dibandingkan laki-laki.

Enny Nurhaeni

wanitaindonesia.co.id

Berawal dari membantu kakaknya di studio foto, Enny Nurhaeni mulai mengenal dan tertarik di dunia fotografi. Berbekal kemampuan memotret dan mencuci cetak foto yang saat itu, tahun 80-an, masih menggunakan roll film, Enny memberanikan diri untuk mendaftar kerja di biro Reuters Jakarta. Ia pun diterima dan memulai kariernya menjadi jurnalis foto. Berbagai pengalaman sebagai jurnalis foto telah ia kantongi.

Seperti harus berdesak-desakkan dengan kaum laki-laki bertubuh besar, dimarahi oleh petugas, tidak mandi selama berhari-hari, harus membawa kotak berisi peralatan foto yang berat, dan masih banyak lagi. Namun, dengan kecintaannya pada fotografi jurnalistik, segala hal tersebut tidak menjadi masalah baginya.

Adek Berry

daily.oktagon.co.id

Berbeda jauh dengan pendidikan yang telah ia kenyam semasa kuliah di Teknik Pertania, Adek Berry memilih jalan hidupnya sebagai jurnalis foto. Kecintaannya pada fotografi dan menulis telah muncul sejak Adek Berry duduk di bangku SMA menerima hadiah berupa kamera dari sang kakak. Kemampuan fotografinya semakin terasah saat memasuki masa kuliah di mana ia bergabung dengan klub fotografi di kampusnya. Kini, Adek Berry masih aktif berkarir menjadi jurnalis foto di bawah naungan AFP, agensi foto yang berpusat di Prancis.

Ng Swan Ti

invisiblephotographer.asia

Setelah 10 tahun bekerja kantoran, Ng Swan Ti memutuskan untuk keluar dari pekerjaan tersebut dan memulai kariernya sebagai fotografi lepas pada tahun 2002. Setahun setelah berhenti bekerja, ia mengikuti lokakarya fotografi yang diselenggarakan oleh World Press Photo di Jakarta. Ini menjadi langkah awal ia di dunia foto jurnalistik. Kliennya tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga dari negara lain.

Ia pun beberapa kali mengikuti pameran foto skala internasional. Saat ini Ng Swan Ti juga membagi waktunya untuk memberikan ilmu fotografinya di NGO yang berfokus pada bidang fotografi jurnalistik dan dokumenter, yaitu PannaFoto Institute.

Eka Nickmatulhuda

fairfaxstatic.com.au

Wanita lulusan Komunikasi Pembangunan IPB ini mulai merintis kariernya di dunia foto jurnalistik dengan magang di Antara, agensi foto asal Indonesia yang berbasis di Jakarta. Setelahnya, ia pun melebarkan sayapnya dengan bergabung di Tempo sebagai pekerja lepas foto jurnalis, atau yang biasa disebut sebagai stringer foto. Walaupun ia harus melakukan pengorbanan dengan berhutang untuk membeli sebuah kamera. Namun, pengorbanan tersebut berbuah manis. Hasil bidikannya kini telah terpajang di berbagai belahan dunia.

Line Ads

Topic:

  • Irma Yudistirani

Just For You

I Want More !