“Perempuan Sumba tidak bisa disebut perempuan Sumba kalau tidak bisa menenun,” katanya.
Tenun Jadi Identitas dan Harapan Ekonomi, Tradisi dari Sumba!

- Tenenun adalah identitas perempuan Sumba, bukan hanya keterampilan tangan, tetapi juga warisan sosial dan budaya yang diwariskan sejak kecil.
- Program pelatihan wastra warna alam membuka akses baru bagi para penenun untuk memahami proses tenun secara utuh dan menjaga keberlanjutan lingkungan.
- Tenenun Sumba tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi keluarga pengrajin dengan menjadi sumber pendapatan nyata.
Di tengah ramainya pameran dan percakapan publik di berbagai acara budaya, kisah perempuan penenun dari Sumba kembali mengingatkan bahwa kain bukan sekadar karya, melainkan napas kehidupan. Melalui pembinaan dari Bank Central Asia Tbk bersama Perkumpulan Warna Alam Indonesia, warisan ini kini bergerak dari ruang domestik menuju panggung ekonomi dan keberlanjutan.
Berikut tiga cerita penting di balik pelestarian tenun Sumba. Mari disimak!
1. Menenun sebagai identitas perempuan Sumba

Bagi perempuan di Nusa Tenggara Timur, menenun bukan sekadar keterampilan tangan, ia adalah identitas sosial yang diwariskan sejak kecil. Diana Kalera Lena, penenun asal Sumba, menegaskan kuatnya hubungan tersebut.
Ia bahkan telah akrab dengan proses tenun sejak usia enam tahun. Baginya, setiap helai kain bukan hanya hasil kerja, melainkan rekam jejak kehidupan keluarga dan budaya.
2. Dari warisan leluhur ke pengetahuan yang lebih terstruktur

Meski tradisi menenun sudah lama hidup, banyak pengetahuan penting, terutama soal pewarna alami, tidak diwariskan secara sistematis. Program pelatihan wastra warna alam membuka akses baru bagi para penenun untuk memahami proses secara utuh.
Pengetahuan yang sebelumnya tersebar kini menjadi lebih terstruktur, membantu para penenun meningkatkan kualitas karya sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Diana mengungkapkan bagaimana pelatihan tersebut memperkaya praktik mereka.
“Tidak semua penenun tahu rahasia ramuan dari nenek moyang karena resepnya tidak dipublikasikan. Sejak bergabung dengan program Bakti BCA kami diajarkan soal pewarna alam ini,” ujarnya.
3. Ketika tenun menjadi jalan kemandirian ekonomi

Lebih dari sekadar pelestarian budaya, tenun Sumba kini mulai membuka peluang ekonomi bagi keluarga para pengrajin. Penghasilan dari menenun tak lagi hanya pelengkap, melainkan sumber pendapatan nyata.
Dukungan ini diharapkan tidak hanya menjaga warisan budaya tetap hidup, tetapi juga membawa tenun Sumba masuk ke pasar modern sebagai produk bernilai tinggi. Diana pun merasakan langsung dampaknya.
“Sebagai istri, penghasilan dari menenun bisa membantu suami saya, termasuk dalam membiayai sekolah anak,” pungkasnya.
Demikian makna tenun dari sisi perempuan yang bekerja sebagai penenun di Sumba. Sebagai identitas, kain tradisional ini sudah sewajarnya dilestarikan karena termasuk bagian dari nilai budaya Indonesia.


















