Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Tenun Jadi Identitas dan Harapan Ekonomi, Tradisi dari Sumba!

Diana Kalera Lena, penenun asal Sumba
Diana Kalera Lena, penenun asal Sumba (dok. BCA)
Intinya sih...
  • Tenenun adalah identitas perempuan Sumba, bukan hanya keterampilan tangan, tetapi juga warisan sosial dan budaya yang diwariskan sejak kecil.
  • Program pelatihan wastra warna alam membuka akses baru bagi para penenun untuk memahami proses tenun secara utuh dan menjaga keberlanjutan lingkungan.
  • Tenenun Sumba tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi keluarga pengrajin dengan menjadi sumber pendapatan nyata.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di tengah ramainya pameran dan percakapan publik di berbagai acara budaya, kisah perempuan penenun dari Sumba kembali mengingatkan bahwa kain bukan sekadar karya, melainkan napas kehidupan. Melalui pembinaan dari Bank Central Asia Tbk bersama Perkumpulan Warna Alam Indonesia, warisan ini kini bergerak dari ruang domestik menuju panggung ekonomi dan keberlanjutan.

Berikut tiga cerita penting di balik pelestarian tenun Sumba. Mari disimak!

1. Menenun sebagai identitas perempuan Sumba

ilustrasi menenun kain tenun Sekomandi Mamuju Sulawesi Barat
ilustrasi menenun kain tenun Sekomandi Mamuju Sulawesi Barat (youtube.com/Bambang Djatmicho)

Bagi perempuan di Nusa Tenggara Timur, menenun bukan sekadar keterampilan tangan, ia adalah identitas sosial yang diwariskan sejak kecil. Diana Kalera Lena, penenun asal Sumba, menegaskan kuatnya hubungan tersebut.

“Perempuan Sumba tidak bisa disebut perempuan Sumba kalau tidak bisa menenun,” katanya.

Ia bahkan telah akrab dengan proses tenun sejak usia enam tahun. Baginya, setiap helai kain bukan hanya hasil kerja, melainkan rekam jejak kehidupan keluarga dan budaya.

2. Dari warisan leluhur ke pengetahuan yang lebih terstruktur

ilustrasi menenun lipa' sabbe
ilustrasi menenun lipa' sabbe (youtube.com/ Wadjo Foundation)

Meski tradisi menenun sudah lama hidup, banyak pengetahuan penting, terutama soal pewarna alami, tidak diwariskan secara sistematis. Program pelatihan wastra warna alam membuka akses baru bagi para penenun untuk memahami proses secara utuh.

Pengetahuan yang sebelumnya tersebar kini menjadi lebih terstruktur, membantu para penenun meningkatkan kualitas karya sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Diana mengungkapkan bagaimana pelatihan tersebut memperkaya praktik mereka.

“Tidak semua penenun tahu rahasia ramuan dari nenek moyang karena resepnya tidak dipublikasikan. Sejak bergabung dengan program Bakti BCA kami diajarkan soal pewarna alam ini,” ujarnya.

3. Ketika tenun menjadi jalan kemandirian ekonomi

Diana Kalera Lena, penenun asal Sumba
Diana Kalera Lena, penenun asal Sumba (dok. BCA)

Lebih dari sekadar pelestarian budaya, tenun Sumba kini mulai membuka peluang ekonomi bagi keluarga para pengrajin. Penghasilan dari menenun tak lagi hanya pelengkap, melainkan sumber pendapatan nyata.

Dukungan ini diharapkan tidak hanya menjaga warisan budaya tetap hidup, tetapi juga membawa tenun Sumba masuk ke pasar modern sebagai produk bernilai tinggi. Diana pun merasakan langsung dampaknya.

“Sebagai istri, penghasilan dari menenun bisa membantu suami saya, termasuk dalam membiayai sekolah anak,” pungkasnya.

Demikian makna tenun dari sisi perempuan yang bekerja sebagai penenun di Sumba. Sebagai identitas, kain tradisional ini sudah sewajarnya dilestarikan karena termasuk bagian dari nilai budaya Indonesia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Muhammad Tarmizi Murdianto
EditorMuhammad Tarmizi Murdianto
Follow Us

Latest in Life

See More

5 Tips Fokus Bekerja saat Bulan Puasa, Tetap Produktif dan Gak Burnout

18 Feb 2026, 10:42 WIBLife