Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6.000 Anak di Bogor Putus Sekolah, Minim Minat Belajar Faktor Utama
ilustrasi anak-anak bermain (pexels.com/Thanh Hue Dao)

Bogor, IDN Times – Angka Anak Tidak Sekolah (ATS) dan anak putus sekolah di wilayah Kota Bogor saat ini menembus 6.000 anak. Forum Komunikasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (FKBM) Kota Bogor mengungkapkan fenomena putus sekolah ini ternyata tidak didominasi masalah akses atau biaya pendidikan, melainkan rendahnya kemauan anak-anak itu sendiri.

​"Tantangan terbesarnya murni pada kemauan minat belajar mereka sudah sangat berkurang," ungkap Ketua FKBM Kota Bogor, Hasan, saat di konfirmasi, Jumat, 24 Juli 2026.

​1. Anak lebih memilih bekerja, minim dukungan orang tua

ilustrasi pekerja anak (pexels.com/Kuntal Biswas)

Berdasarkan temuan di lapangan, upaya pendataan dan ajakan untuk kembali bersekolah sering kali mendapat penolakan. Hasan mencontohkan, dari 141 data ATS di Kelurahan Tegallega, hanya 35 anak yang bersedia masuk lembaga pendidikan.

​"Ketika didatangi, banyak yang menolak bersekolah, dengan alasan lebih baik bekerja mencari uang, dan sayangnya hal ini sering kali kurang mendapat dukungan perbaikan dari orang tua," kata dia.

​2. Tawarkan fleksibilitas belajar mandiri hingga ke rumah

PKBM Citra Pakuat yang terletak di Kelurahan Tegalega, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. (Istimewa)

Untuk menyiasati keengganan anak-anak kembali ke bangku sekolah formal, sebanyak 52 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Kota Bogor berupaya memberikan berbagai kelonggaran. Pendekatan persuasif dilakukan agar anak tetap mendapatkan hak pendidikannya dengan cara yang nyaman.

​"Kami memberikan banyak kemudahan fleksibilitas, jika tidak bisa datang ke PKBM, mereka bisa belajar mandiri dengan buku yang kami berikan. Bahkan, untuk anak-anak berkebutuhan khusus, kami siap mendatangkan guru langsung ke rumahnya," kata Hasan.

​3. Menjadi ironi di tengah masifnya bantuan biaya dari pemerintah

Ketua Forum Komunikasi PKBM Kota Bogor, Hasan. (Istimewa)

Tingginya angka anak putus sekolah ini menjadi paradoks, mengingat Pemkot Bogor bersama pemerintah pusat mengucurkan dana besar untuk menjamin akses pendidikan kesetaraan.

Tahun ini saja, Pemkot membiayai 10.207 peserta didik lewat dana BOSP (Bantuan Operasional Satuan Pendidikan) dan memberikan Bantuan Siswa Miskin (BSM) kepada 1.281 orang.

​"Menjadi ironi ketika di Kota Bogor yang notabene maju dan akses pendidikannya dekat di mana-mana, kenyataannya masih banyak anak yang putus sekolah," kata Hasan.

Editorial Team

Related Article