CPJ: Serangan Pemukim ke Jurnalis di Tepi Barat Melonjak pada 2026

- CPJ mencatat sedikitnya 16 insiden kekerasan, ancaman, dan penghalangan terhadap 35 jurnalis di Tepi Barat selama Januari–Agustus 2026, melampaui 13 insiden sepanjang 2025.
- Jurnalis menghadapi pemukulan, tendangan, perusakan kendaraan, pengejaran, hingga ancaman tembakan; sedikitnya lima peliputan dihentikan karena situasi berbahaya.
- Dalam sedikitnya lima kasus, aparat Israel disebut tidak menghentikan serangan pemukim. Eskalasi ini membuat jurnalis mengubah pola kerja dan menghindari lokasi berisiko.
Jakarta, IDN Times - Kekerasan pemukim Israel terhadap para jurnalis di wilayah Tepi Barat melonjak drastis sepanjang delapan bulan pertama pada 2026. Berdasarkan laporan Committee to Protect Journalists (CPJ), terdapat sedikitnya 16 insiden penyerangan, ancaman, hingga penghalangan kerja jurnalistik yang menimpa sedikitnya 35 jurnalis asal Palestina, Israel, dan media internasional di wilayah pendudukan tersebut.
Angka kekerasan ini melampaui catatan sepanjang 2025 yang mendokumentasikan 13 insiden dengan melibatkan 25 jurnalis. Para pekerja pers di lapangan menghadapi serangan fisik seperti pemukulan, tendangan, perusakan kendaraan operasional liputan, hingga ancaman tembakan peluru tajam saat meliput penggusuran bangunan maupun aktivitas permukiman.
1. Bentuk kekerasan fisik dan ancaman tembakan di lapangan

ilustrasi jurnalis (unsplash.com/Jorge Fernández Salas) Jurnalis mengalami serangan fisik dalam sedikitnya sebelas insiden pada periode Januari–Agustus 2026, termasuk sedikitnya enam peristiwa pemukulan, sedikitnya tiga aksi penendangan, dan sedikitnya dua kejadian diludahi. Selain itu, kendaraan awak media menjadi target perusakan dalam sedikitnya lima kejadian terpisah, sementara sedikitnya dua kasus lainnya melibatkan aksi pengejaran fisik oleh kelompok pemukim. Sedikitnya lima penugasan peliputan terpaksa dihentikan di tengah jalan karena ancaman atau kekerasan.
Ancaman senjata api juga terjadi saat awak media meliput kegiatan organisasi hak asasi manusia Combatants for Peace pada 14 Agustus 2026. Kepala biro surat kabar Jepang Yomiuri Shimbun, Toshiyuki Fukushima, bersama jurnalis lepas Palestina Ghassan Bannoura terpaksa tiarap di tanah ketika seorang pemukim melepaskan tembakan berpeluru tajam dari jarak beberapa meter. "Tiba-tiba saya mendengar suara tembakan, jadi saya tiarap di tanah dan berlindung di balik tembok," ungkap Fukushima.
Pada 31 Agustus 2026, jurnalis lepas Salman al-Khatib ditendang dan dihalangi kameranya oleh seorang pemukim saat merekam pembongkaran bangunan di antara Birzeit dan Atara. Al-Khatib beserta rekan-rekannya memutuskan menghentikan liputan dan melepas rompi dan helm identitas pers setelah mobil militer Israel tiba di lokasi. "Kami merasa takut dan berada dalam bahaya nyata, dan masalah serius bisa terjadi kapan saja," kata Al-Khatib.
2. Aparat keamanan tidak bertindak menghentikan penyerangan

Polisi Israel (Israel Police, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons) Dalam sedikitnya lima kejadian terpisah, aparat militer maupun kepolisian Israel berada di sekitar lokasi namun tidak mengambil tindakan untuk menghentikan aksi pemukim. Peristiwa ini dialami fotografer lepas Omer Manor di desa Umm al-Khair pada 5 September 2026 ketika ia sedang merekam anak-anak Palestina di sebuah taman bermain dan diserang seorang pemukim yang membawa senapan M16. Alih-alih mengamankan pelaku bersenjata tersebut, polisi dan petugas perbatasan justru mengancam menangkap Manor dan tiga jurnalis lain jika tidak segera pergi dalam tempo tiga menit.
Perlakuan serupa menimpa reporter Haaretz Matan Golan dan fotografer Itay Rom di dekat Qusra pada 10 Agustus 2026 ketika mobil mereka dikepung kelompok pemukim. Seorang pemukim mencoba mengempiskan ban kendaraan serta menendang dan meludahi wajah jurnalis perempuan tersebut saat tentara Israel di dekatnya hanya berdiam diri. Di desa Jalud pada 29 Agustus 2026, kru media NBC News dipukuli menggunakan tongkat dan dilempari batu oleh sedikitnya empat pria bertopeng dari mobil berpelat Israel hingga koresponden Matt Bradley mengalami cedera lengan.
Hingga awal September 2026, dakwaan pidana tercatat baru diajukan dalam satu kasus penyerangan rombongan jurnalis internasional pada 11 Juli 2026. Kepolisian Israel tidak memberikan jawaban atas permintaan konfirmasi mengenai penyelidikan, penangkapan, dan penuntutan atas laporan maupun tudingan pembiaran yang dilakukan aparat keamanan di lapangan. Pengacara hak asasi manusia dan hukum internasional Israel, Michael Sfard, menyatakan bahwa ketiadaan penegakan hukum terhadap pemukim yang melakukan kekerasan maupun anggota aparat keamanan yang menyerang warga Palestina dan jurnalis asing mencerminkan sistem kontrol yang dijalankan pemerintah di wilayah Tepi Barat.
3. Ancaman keselamatan mengubah pola kerja jurnalis di lapangan

ilustrasi kamera (unsplash.com/D Yang) Eskalasi serangan pemukim membuat para jurnalis mempertimbangkan ulang keselamatan sebelum mendatangi lokasi liputan yang rawan konflik. Wilayah Nablus mencatat angka kejadian tertinggi dengan lima kasus, diikuti kawasan Hebron dan Masafer Yatta sebanyak empat kasus, sekitar Ramallah tiga kasus, Betlehem dua kasus, serta Tubas dan Lembah Yordan masing-masing satu kasus. Reporter Al-Kofiya TV Zaid Abu Arra bahkan memutuskan berhenti meliput di titik yang terdapat pemukim bersenjata setelah dia sempat dipukuli hingga pingsan pada Februari 2026.
Produser Senior CNN Abeer Salman menuturkan bahwa dia kini berupaya semaksimal mungkin menghindari pemukim bersenjata setiap kali bertugas di Tepi Barat. CPJ menilai situasi berbahaya di lapangan kian menghalangi hak masyarakat luas untuk mengetahui fakta atas apa yang sedang terjadi di kawasan pendudukan tersebut. "Jurnalis tidak dapat diharapkan melakukan pekerjaan mereka di bawah ancaman kekerasan, intimidasi, dan tembakan senjata api," tegas Direktur Regional CPJ Sara Qudah.





















