- Nangroe Aceh Darussalam (P. Simeulue, Lhok Nga, Calang, Meulaboh, Lhokseumawe)
- Sumatera Utara (Pulau Nias, Singkil, Sibolga)
- Sumatera Barat (Kep. Mentawai, Siri Sori)
- Bengkulu (Pulau Enggano, termasuk Kota Bengkulu dan Manna)
- Lampung dan Banten (Pantai Selatan Lampung, Pantai Barat Banten)
- Jawa Barat Tengah Bagian Selatan (Pantai Selatan Jawa Barat - Tengah)
- Jawa Timur Bagian Selatan (Pantai Selatan Jawa Timur)
- Bali (Pantai Selatan Bali)
- Nusa Tenggara Barat (Pantai Selatan Lombok, Sumbawa , dan Pantai utara Bima)
- Nusa Tenggara Timur (Pantai Utara Flores, Pulau Babi, Pantai Utara P. Timor (Atapupu), dan Pantai Selatan Sumba)
- Sulawesi Utara (Manado, Bitung, Sangihe, dan Talaud)
- Sulawesi Tengah-Palu (Pulau Peleng, Banggai Kepulauan, Luwuk, Palu, Teluk Tomini, Tambu, Mupaga, Toli-toli, Donggala, dan Tojo)
- Sulawesi Selatan (Bulukumba, Tinambung, dan Majene)
- Sulawesi Tenggara (Pantai Kendari)
- Maluku Utara (Sanana, Ternate, Tidore, Halmahera, dan Pulau Obi)
- Maluku Selatan (Bandanaira, P. Seram, P. Buru, Pantai Talaga, P. Banda, P. Kai, P. Tual)
- Papua Utara (Yapen, Biak, Supiori, Oranbari, dan Ransiki)
- Kalimantan Selatan Bagian Timur (Langadai dan Loeri)
- Sangata (Daerah Sekuran).
Daftar Wilayah Rawan, Pemicu, hingga Cara Evakuasi jika Terjadi Tsunami

- Indonesia berada di pertemuan empat lempeng tektonik; dari 105 tsunami pada 1600–2000, 90 persen dipicu gempa tektonik.
- Sekitar 57 persen dari 54.716 km garis pantai Indonesia berpotensi terdampak tsunami; Badan Geologi mencatat 19 wilayah rawan, dengan Maluku Selatan paling sering terdampak.
- Saat tsunami, tetap tenang dan segera menuju tempat tinggi atau bangunan kokoh bertingkat, ikuti jalur evakuasi, serta jangan berhenti melihat gelombang.
Jakarta, IDN Times – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat secara geografis, Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yakni lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudra Hindia dan Samudera Pasifik.
Tentunya, kondisi tersebut mempunyai potensi tinggi pada terjadinya bencana alam seperti gunung meletus, gempa bumi, tsunami, banjir, hingga tanah longsor.
Data juga menunjukkan Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kegempaan paling tinggi di dunia, dengan lebih dari 10 kali lipat tingkat kegempaannya dibanding Amerika Serikat.
1. Penyebab sering terjadi tsunami di Indonesia

Ilustrasi tsunami (IDN Times/Mardya Shakti) Indonesia sering mengalami bencana alam tsunami yang sebagian besar disebabkan gempa tektonik, karena geografisnya yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik.
Gempa tektonik adalah gempa bumi yang diakibatkan pergeseran lempeng tektonik secara mendadak, dengan kekuatan yang sangat kecil hingga sangat besar pada lapisan kerak bumi.
Sepanjang 1600-2000, Indonesia mengalami 105 kejadian tsunami, yang 90 persen di antaranya disebabkan gempa tektonik, sembilan persen oleh letusan gunung, dan satu persen oleh tanah longsor.
2. Pantai Indonesia memiliki potensi tinggi terjadinya tsunami

Ilustrasi pesisir pantai yang berangin (pexels.com/Atlantic Ambience) Wilayah Pantai di Indonesia merupakan wilayah rawan terjadinya tsunami. Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), panjang garis pantai di Indonesia seluruhnya yaitu 54.716 km. Sebagian besar panjang garis pantai tersebut, sekitar 30.963 km atau 57 persennya memiliki potensi yang tinggi terkena dampak tsunami.
BMKG juga menyebutkan gempa yang berpotensi memicu tsunami umumnya merupakan gempa yang berpusat di tengah laut dengan kedalaman kurang dari 100 kilometer, berkekuatan lebih dari 7,0 skala richter, serta memiliki pola sesar naik atau sesar turun.
3. Skema terjadinya tsunami menurut BMKG

Ilustrasi peta tsunami menunjukkan sebaran gelombang dari gempa M8,6 di Kamchatka yang menjalar hingga ke wilayah timur Indonesia./bmkg.go.id Tsunami bermula ketika terjadi gangguan secara tiba-tiba di dasar laut. Dalam skema BMKG, pergerakan patahan yang besar membuat dasar laut mengalami perubahan posisi secara mendadak sehingga massa air laut di atasnya ikut terdorong ke atas.
Kemudian air laut membentuk gelombang yang menyebar ke berbagai arah dari sumber gangguan. Pada fase ini, gelombang tsunami bergerak dengan cepat di laut lepas, namun belum terlihat seperti gelombang besar ketika berada di perairan yang dalam.
Ketika gelombang mendekati daratan dan memasuki perairan yang lebih dangkal, kecepatannya berkurang. Namun, membuat ketinggiannya semakin meningkat. Akibatnya, gelombang yang awalnya relatif rendah di laut lepas dapat berubah menjadi gelombang tinggi yang menerjang wilayah pesisir.
4. Wilayah di Indonesia yang rawan tsunami

ilustrasi tsunami (pexels.com/Ahmed akacha) Badan Geologi, Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mencatat wilayah-wilayah di Indonesia yang rawan terjadinya gerakan tanah, gempa bumi, dan tsunami.
Berikut 19 wilayah di Indonesia yang berpotensi atau rawan terjadinya gelombang tsunami:
Berdasarkan catatan Badan Geologi, Wilayah Maluku Selatan terbanyak terkena tsunami yaitu 19 kali sepanjang 1629 hingga 1996. Sedangkan wilayah yang paling sedikit yaitu Sangata, yang hanya mengalami satu kali gelombang tsunami pada 1921.
5. Hal-hal yang perlu dilakukan ketika tsunami datang

ilustrasi tanda evakuasi bencana tsunami (pexels.com/Prajwal) Berikut upaya yang harus dilakukan ketika menghadapi tsunami:
- Tetap tenang dan segera lakukan evakuasi. Jangan berhenti untuk melihat atau menjadikan gelombang tsunami sebagai tontonan.
- Jika air laut tiba-tiba surut jauh dari batas normal, segera bergerak atau berlari menuju tempat yang lebih tinggi, seperti bukit, sambil mengajak keluarga dan orang di sekitar.
- Jika kondisi memungkinkan, ikuti jalur menuju tempat evakuasi yang sudah ditetapkan.
- Pilih bangunan bertingkat dengan struktur beton/baja yang kuat dan gunakan tangga darurat untuk menuju lantai atas
- Jika memungkinkan, gunakan jaket hujan dan pastikan tangan tetap bebas agar dapat bergerak dan menyelamatkan diri dengan cepat.



















