Apa itu Ngabuburit, Asal-Usul, dan Kaitannya dengan Budaya Sunda

Menurut Kamus Bahasa Sunda, ngabuburit merupakan kependekan dari kalimat ngalantung ngadagoan burit. Frasa ini berarti bersantai sambil menunggu waktu sore.
Istilah ngabuburit sudah muncul sejak lama di tanah Sunda dan bertepatan dengan masuknya kebudayaan Islam ke wilayah budaya Sunda.
Masyarakat mengisi waktu menjelang berbuka dengan berburu takjil, jalan-jalan sore, berkunjung ke taman, duduk di kafe, membaca Al Qur'an, berdoa, dan menghadiri pengajian.
Jakarta, IDN Times - Menjelang waktu berbuka puasa, masyarakat muslim Indonesia kerap menjalankan berbagai kegiatan yang sering disebut dengan ngabuburit. Aktivitas ini menjadi pemandangan umum di berbagai daerah saat bulan Ramadan tiba, di mana jalanan dipenuhi orang-orang yang melakukan beragam aktivitas sambil menanti datangnya azan maghrib.
Meski istilah ini terdengar akrab di telinga, masih banyak orang yang belum mengetahui arti harfiah dan sejarah dari istilah ngabuburit itu sendiri. Padahal, kata ini telah digunakan dalam percakapan sehari-hari sejak lama, dan memiliki asal-usul yang berkaitan erat dengan budaya Sunda.
Berikut IDN Times akan mengulas secara lengkap mengenai asal-usul, sejarah, dan berbagai kegiatan ngabuburit yang populer di Indonesia. Yuk, simak lebih lanjut!
1. Arti kata ngabuburit, berasal dari bahasa Sunda

Menurut Kamus Bahasa Sunda yang diterbitkan Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda (LBSS), kata ngabuburit merupakan kependekan dari kalimat ngalantung ngadagoan burit. Secara harfiah, frasa ini berarti bersantai sambil menunggu waktu sore. Istilah ini terbentuk dari penggabungan dua komponen utama dalam tata bahasa Sunda.
Selain itu, dilansir dari PPID Kota Serang, ngabuburit terdiri atas dua komponen pembentuk. Komponen pertama adalah "nga" yang berfungsi sebagai imbuhan karena adanya pengulangan awal kata. Komponen kedua adalah "burit" yang memiliki arti waktu menjelang azan magrib, waktu sore, atau waktu senja. Dengan mempersempit arti dari kedua komponen tersebut, ngabuburit dapat disimpulkan sebagai kegiatan menunggu saat berbuka puasa.
Awalnya, istilah ngabuburit digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda dan tidak terbatas hanya pada bulan Ramadan. Aktivitas seperti berjalan-jalan di sore hari, duduk santai di teras rumah, atau berbincang dengan tetangga termasuk dalam kategori kegiatan ngabuburit. Namun seiring berjalannya waktu, istilah ini kemudian menjadi identik dan melekat dengan bulan Ramadan.
2. Sejarah ngabuburit di Indonesia

Lebih lanjut mengenai asal-usulnya, mengutip dari laman resmi Universitas Pasundan, Ketua Lembaga Budaya Sunda (LBS) Unpas Hawe Setiawan menyatakan istilah ngabuburit sudah muncul sejak lama di tanah Sunda. Menurutnya, kemunculan istilah ini bertepatan dengan masuknya kebudayaan Islam ke wilayah budaya Sunda. Hawe menegaskan sejak nilai-nilai Islam masuk, istilah tersebut mulai dikenal dan digunakan oleh masyarakat.
Kendati, kegiatan ngabuburit pada masa awal kemunculannya berbeda dengan yang terlihat saat ini. Hawe menjelaskan pada zaman dulu, anak-anak mengisi kegiatan ngabuburit dengan bermain permainan tradisional Jawa Barat. Salah satu permainan yang populer saat itu adalah bebeledugan atau yang dikenal dengan meriam bambu. Anak-anak biasanya berkumpul dan memainkan permainan tradisional tersebut sambil menunggu waktu berbuka tiba.
Kemudian seiring perkembangan zaman, kegiatan ngabuburit kini semakin beragam dan mengalami banyak penyesuaian. Hawe menambahkan saat ini kegiatan ngabuburit disesuaikan dengan kebudayaan daerah masing-masing. Masyarakat diarahkan untuk melakukan kegiatan yang lebih kreatif dan berharga, bukan hanya sekedar mengisi waktu, tetapi juga untuk menghayati makna bulan Ramadan itu sendiri.
3. Kegiatan ngabuburit yang populer di Indonesia

Beragam kegiatan ngabuburit dapat ditemui di berbagai daerah di Indonesia. Masyarakat biasanya mengisi waktu menjelang berbuka dengan berburu takjil di pasar-pasar dadakan yang muncul selama Ramadan. Kegiatan lain seperti jalan-jalan sore di pusat kota, berkunjung ke taman, atau sekadar duduk di kafe juga menjadi pilihan banyak orang untuk mengisi waktu ngabuburit.
Di samping kegiatan rekreasi tersebut, ngabuburit juga dapat diisi dengan berbagai amalan yang bermanfaat. Masyarakat dapat memanfaatkan waktu menjelang berbuka untuk membaca Al Qur'an, berdoa, dan berzikir karena waktu tersebut merupakan salah satu waktu mustajab untuk berdoa. Selain itu, menghadiri pengajian yang biasanya diadakan menjelang waktu berbuka juga bisa menjadi pilihan bagi mereka yang ingin menambah ilmu agama selama bulan Ramadan.












