Puluhan Remaja Perempuan London Jadi Korban Eksploitasi Seks

- Puluhan remaja perempuan di London menjadi korban eksploitasi seksual, sebagian dilecehkan oleh banyak pria setiap bulan, menurut laporan investigasi BBC yang mengungkap kondisi tragis para korban muda.
- Beberapa korban seperti Kelly dan Ruth dimanipulasi geng atau predator untuk dijadikan budak seks, dengan modus berbeda mulai dari perdagangan narkoba hingga pemberian barang mewah sebagai umpan.
- Kepolisian London mencatat sekitar dua ribu kasus eksploitasi anak tiap tahun dan berkomitmen bekerja sama dengan pemerintah untuk menindak pelaku serta membuka kembali kasus lama yang sempat ditutup.
Jakarta, IDN Times - Puluhan remaja perempuan yang tinggal di Kota London, Inggris, mengalami nasib tragis. Mereka yang seharusnya punya masa depan cerah malah menjadi korban eksploitasi seksual yang dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Bahkan, beberapa korban juga ada yang dilecehkan oleh 10 sampai 15 laki-laki setiap bulannya.
Informasi ini dibeberkan secara gamblang dalam laporan investigasi khusus yang dirilis BBC pada Kamis (19/2/2026). Dalam laporan tersebut, gadis-gadis yang menjadi korban umumnya berusia sekitar 13 sampai 15 tahun. Mereka adalah anak-anak yang kesepian dan kurang perhatian orangtua di rumah sehingga terjerumus ke dalam hal-hal negatif.
1. Korban dimanipulasi oleh sebuah geng hingga akhirnya dijadikan budak seks

Salah satu gadis yang menjadi korban, Kelly (nama samaran), menceritakan bahwa dirinya dimanipulasi oleh sebuah geng untuk menjadi budak seks. Awalnya, Kelly bergabung dengan geng tersebut dan diminta untuk menjual narkoba ke oknum-oknum tertentu. Namun, seiring berjalannya waktu, ia malah dijadikan alat pemuas seksual untuk pelanggan narkoba. Ini dilakukan untuk membujuk pelanggan agar mau membeli narkoba dari Kelly dan gengnya.
"Aku tidak punya uang, merasa diabaikan, dan melihat kesempatan untuk merasa menjadi bagian dari sesuatu. Jadi, aku menjalin beberapa hubungan yang buruk. Tidak lama kemudian, aku (diminta) menjual narkoba di jalanan. Namun, itu berubah menjadi melakukan hubungan seks untuk menjaga agar orang-orang tetap berpihak jika kami berhutang kepada mereka atau (sebagai bujukan agar pelanggan) mau membeli narkoba dariku dan geng," kata Kelly.
"(Awalnya), aku tidak merasa dimanipulasi atau dieksploitasi. Aku tidak berpikir aku adalah korban. Aku membutuhkan waktu untuk menyadari bahwa aku telah dimanfaatkan dan dimanipulasi. Hal itu memberi tujuan hidupku untuk sementara waktu karena aku merasa dibutuhkan. Aku tidak merasakan hal itu di rumah. (Oleh karena itu), aku mencari sesuatu (di luar rumah) karena aku merasa kesepian dan bosan," lanjutnya.
2. Ada juga kasus eksploitasi seksual yang tidak berhubungan dengan narkoba

Kasus lain juga terjadi kepada Ruth (nama samaran). Ia menjadi salah satu dari belasan perempuan yang mengalami kasus eksploitasi seks seperti yang dialami oleh Kelly. Bedanya, kasus Ruth tidak berhubungan dengan penjualan narkoba. Sebab, kasus yang terjadi kepadanya adalah murni karena keinginan hasrat seksual dari predator-predator anak yang berkeliaran di Kota London.
“Mereka tidak menginginkan apa pun selain seks. Aku sedang terpuruk dan mereka memberiku barang-barang mahal agar aku merasa diinginkan. Setelah itu, aku tidur dengan mereka,” cerita Ruth.
“Rasanya, aku seperti punya banyak pacar yang memberiku perhatian. Mereka adalah pria-pria dari Asia Selatan. Mereka memanfaatkan situasiku. Ini terjadi di London. Mereka yang tidak percaya perlu melihat ini," lanjutnya.
3. Kasus eksploitasi seksual gadis remaja memang banyak terjadi di London

Kasus eksploitasi seksual seperti yang dialami Kelly, Ruth, dan puluhan gadis remaja lainnya memang sudah lumrah di London. Kepolisian London bahkan mengatakan, ada sekitar 2 ribu kasus eksploitasi anak yang terjadi setiap tahunnya. Jumlah tersebut sudah termasuk kasus ekploitasi seksual yang terjadi kepada gadis remaja.
Oleh karena itu, kepolisian London tidak mau tinggal diam. Mereka berjanji akan terus bekerja sama dengan pihak-pihak terkait untuk membasmi para predator seks yang merenggut masa depan anak-anak, terutama gadis remaja di London.
Pemerintah Inggris juga telah menugaskan Kementerian Dalam Negeri untuk membuka kembali kasus-kasus pelecehan dan eksploitasi seksual anak yang pernah ditutup. Ini bertujuan agar para pelaku kejatahan seksual yang lolos dari kejaran polisi bisa segera ditangkap agar tidak kembali melakukan aksi bejatnya di kemudian hari.
"(Ini kami lakukan) agar para pelaku yang melakukan kejahatan ini dan mengira mereka lolos begitu saja tidak akan punya tempat untuk bersembunyi," kata Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Inggris.













