Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Banjir Pangan Impor Ilegal di Perbatasan, BPOM: Tak Aman Dikonsumsi
Kepala BPOM Taruna Ikrar dalam Konferensi Pers Hasil Intensifikasi Pengawasan Pangan Ramadan & Idulfitri Tahun 2026 di Gedung BPOM, Rabu (11/3/2026). (IDN Times/Dini Suciatiningrum)
  • Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan produk pangan tanpa izin edar berpotensi tidak aman karena tidak melalui pengawasan resmi dan bisa mengandung bahan berbahaya atau kedaluwarsa.
  • BPOM menemukan banyak produk impor ilegal beredar di wilayah perbatasan seperti Batam, dengan banyaknya jalur tikus yang mempersulit pengawasan distribusi barang masuk ke Indonesia.
  • Untuk memperkuat pengawasan, BPOM bekerja sama dengan Polri, Bakamla, TNI AL, dan Badan Karantina serta mendorong masyarakat melapor jika menemukan produk mencurigakan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
12 Maret 2026

Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan di Gedung BPOM bahwa banyak produk pangan impor tanpa izin edar beredar di pasaran dan dinilai tidak aman dikonsumsi. Ia menyoroti temuan produk kedaluwarsa, rusak, atau berlabel menyesatkan.

kini

BPOM memperkuat kerja sama dengan Polri, Bakamla, TNI AL, dan Badan Karantina untuk mengawasi peredaran pangan impor ilegal di perbatasan serta mendorong masyarakat melapor jika menemukan pelanggaran.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    BPOM mengungkap maraknya peredaran produk pangan impor ilegal di wilayah perbatasan yang dinilai tidak aman dikonsumsi karena tidak memiliki izin edar dan tidak melalui proses pengawasan resmi.
  • Who?
    Kepala BPOM Taruna Ikrar bersama jajaran BPOM, serta lembaga seperti Polri, Bakamla, TNI AL, dan Badan Karantina yang dilibatkan dalam pengawasan.
  • Where?
    Keterangan disampaikan di Gedung BPOM Jakarta, dengan contoh kasus ditemukan di wilayah perbatasan seperti Pulau Batam yang memiliki banyak jalur masuk tidak resmi.
  • When?
    Pernyataan disampaikan pada Rabu, 12 Maret 2026, saat konferensi pers mengenai temuan produk pangan impor ilegal dan upaya pengawasan di lapangan.
  • Why?
    Produk tanpa izin edar dianggap berisiko karena tidak ada jaminan keamanan bahan maupun proses produksinya, serta sering kali kedaluwarsa atau memiliki label menyesatkan.
  • How?
    BPOM memperkuat kerja sama dengan aparat penegak hukum untuk menutup jalur penyelundupan, melakukan penyitaan barang ilegal, memberi sanksi administratif, dan mengedukasi masyarakat agar melapor bila menemukan pelanggaran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, menegaskan bahwa produk pangan yang tidak memiliki izin edar berpotensi tidak aman untuk dikonsumsi masyarakat.

Hal ini karena produk tersebut tidak melalui proses pengawasan resmi, sehingga tidak ada pihak yang menjamin keamanan bahan maupun proses produksinya.

Taruna menjelaskan, dari berbagai temuan BPOM di lapangan, banyak produk tanpa izin edar yang beredar merupakan barang impor. Selain itu, sebagian produk dalam kondisi kedaluwarsa atau rusak, serta label yang menyesatkan atau mengandung klaim berlebihan (overclaim).

“Dari sini kita melihat aman atau tidaknya? Tentu jawabannya tidak aman. Kenapa tidak aman? Pertama, dia tidak memiliki siapa yang menjamin,” ujar Taruna di Gedung BPOM, Rabu (12/3/2026)

1. Tidak ada label

Kepala BPOM Taruna Ikrar dalam Konferensi Pers Hasil Intensifikasi Pengawasan Pangan Ramadan & Idulfitri Tahun 2026 di Gedung BPOM, Rabu (11/3/2026). (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Ia mencontohkan, sebuah produk seperti permen mungkin terlihat hanya mengandung gula. Namun, tanpa pengawasan dan informasi yang jelas, produk tersebut bisa saja mengandung bahan yang berpotensi menimbulkan alergi bagi sebagian orang sehingga penting adanya label.

"Tapi kan di dalamnya boleh saja mengandung bahan-bahan yang bersifat alergen, membuat orang alergi. Atau juga sudah kedaluwarsa, itu bisa tumbuh macam-macam. Kemudian, yang berikutnya, kenapa penting itu label dilihat? Karena di situ, di label itu, bisa dijelaskan ini yang alergi kacang jangan makan. Kan itu label penting. Bukan hanya sekadar untuk hiasan, tetapi warning-nya di situ ditulis," katanya.

2. Marak produk ilegal di perbatasan

Kepala BPOM Taruna Ikrar dalam Konferensi Pers Hasil Intensifikasi Pengawasan Pangan Ramadan & Idulfitri Tahun 2026 di Gedung BPOM, Rabu (11/3/2026). (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Di sisi lain, Taruna mengakui pengawasan peredaran produk impor ilegal di wilayah perbatasan masih menjadi tantangan besar bagi BPOM. Hal ini karena banyak produk masuk ke Indonesia melalui jalur tidak resmi.Ia mencontohkan kondisi di wilayah perbatasan seperti Batam.

“Di Pulau Batam misalnya, jalur tikus jumlahnya kurang lebih 54. Jalur resminya cuma ada dua, yaitu lewat airport dan pelabuhan feri,” ujar Taruna.

3. BPOM gandeng berbagai pihak untuk pengawasan

Kepala BPOM Taruna Ikrar dalam Konferensi Pers Hasil Intensifikasi Pengawasan Pangan Ramadan & Idulfitri Tahun 2026 di Gedung BPOM, Rabu (11/3/2026). (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Untuk mengatasi hal itu, BPOM meningkatkan kerja sama dengan berbagai lembaga penegak hukum dan instansi terkait. Di antaranya Kepolisian Republik Indonesia melalui Polisi Air, Badan Keamanan Laut (Bakamla), TNI Angkatan Laut, serta Badan Karantina

"Proses kerja sama ini yang paling penting menurut saya adalah selain kita mau menutup kebocoran di beberapa tempat, edukasi masyarakat penting. Kalau ditemukan, dia lapor ke kami supaya kita bisa segera melakukan penindakan berupa apa yang kita sebut dengan penyitaan, pemberian sanksi administrasi," katanya.

Editorial Team