Ilustrasi media sosial yang digunakan anak muda. (IDN Times/Aditya Pratama)
Di tengah munculnya isu mengenai aksi besar pada Agustus, Andira juga mengingatkan mahasiswa agar berhati-hati terhadap informasi yang beredar di media sosial. Ia menyoroti adanya video lama yang kembali beredar seolah-olah menggambarkan kejadian baru.
Menurut Andira, informasi semacam itu berpotensi membentuk persepsi publik yang keliru. Namun, dia meminta publik tidak buru-buru menyimpulkan bahwa penyebaran konten tersebut merupakan bentuk framing atau agenda setting tertentu tanpa bukti.
"Apakah ini sebuah framing atau agenda setting tertentu, menurut saya kita jangan langsung menyimpulkan tanpa bukti. Yang paling penting justru bagaimana kita kembali melihat fakta dan kondisi sebenarnya di lapangan," ungkap dia.
Andira menilai mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk memastikan informasi yang diterima sebelum menyebarkan maupun mengambil sikap.
"Jangan sampai karena sebuah isu viral, kita langsung ikut menyebarkan atau mengambil sikap tanpa tahu kebenarannya," ujarnya.
Meski demikian, Andira menegaskan, BEM SI menghormati demonstrasi sebagai bentuk penyampaian aspirasi yang sah selama dilakukan secara kondusif. Sebaliknya, dia menolak segala bentuk anarkisme dan perusakan.
"Demonstrasi mahasiswa itu bagian dari penyampaian aspirasi yang sah. Selama dilakukan secara kondusif, kami tentu menghormati itu. Tapi kami tidak pernah membenarkan anarkisme atau pun perusakan," katanya.
Andira juga membantah anggapan bahwa mahasiswa saat ini sudah tidak kritis atau memilih "tiarap". Menurutnya, yang berubah adalah cara mahasiswa dalam menyampaikan kritik.
BEM SI, menurut Andira, tetap konsisten mengkritisi kebijakan pemerintah yang dinilai perlu dikoreksi. Namun, demonstrasi bukan satu-satunya jalur yang dapat ditempuh.
"Ada audiensi, kajian, advokasi, dan berbagai jalur lain yang legal dan konstitusional," tuturnya.
Ke depan, BEM SI ingin membangun gerakan mahasiswa yang tidak hanya bereaksi ketika sebuah isu menjadi viral. Mereka ingin terlebih dahulu turun ke lapangan, mendengar masyarakat, mengumpulkan fakta, dan mengkaji persoalan sebelum menentukan langkah.
"Kami ingin turun langsung, melihat masalahnya, ngobrol dengan masyarakat, mengumpulkan fakta, kemudian mengkaji apa yang sebenarnya perlu diperjuangkan," ujar dia.
Andira berharap BEM SI ke depan tidak hanya menjadi pihak yang merespons isu, tetapi mampu menjadi penggerak isu atau lead the issue.
"Jadi kami yang datang melihat masalahnya, memahami persoalannya, kemudian menentukan bagaimana gerakan mahasiswa bisa hadir dan memberikan dampak," katanya.
Bagi Andira, keberhasilan gerakan mahasiswa tidak semata-mata diukur dari frekuensi aksi demonstrasi, tetapi dari perubahan yang mampu dihasilkan.
"Karena menurut saya, ukuran gerakan mahasiswa bukan cuma seberapa sering kita turun ke jalan, tapi seberapa jauh gerakan itu bisa membawa perubahan," tutur Andira.