Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

El Nino 2026 Diproyeksikan Picu 451 Ribu Kematian akibat Suhu Panas

2 min read
El Nino 2026 Diproyeksikan Picu 451 Ribu Kematian akibat Suhu Panas
Termometer menunjukkan suhu yang sangat panas (Unsplash.com/Immo Wegmann)
  • El Nino kuat sejak pertengahan 2026 diproyeksikan menaikkan suhu daratan global 1,2 derajat Celsius dan frekuensi hari panas ekstrem hingga 44 persen.
  • Cuaca panas yang memuncak akhir 2026 berpotensi memicu 451.000 kematian tambahan hingga Februari 2027, dengan dampak besar di negara-negara belahan bumi selatan.
  • Riset mendorong pemerintah menyiapkan pos hidrasi, pusat pendingin, peringatan dini, pembatasan kerja luar ruangan, dana darurat, dan kapasitas layanan kesehatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pola cuaca El Nino kuat yang terbentuk sejak pertengahan tahun ini diperkirakan memicu lonjakan suhu panas global. Temuan riset iklim pada Rabu (23/9/2026) memperingatkan risiko krisis kesehatan publik berskala luas akibat kenaikan temperatur bumi.

Pemanasan samudra berpotensi memperparah dampak iklim, terutama di belahan bumi selatan. Peneliti mendesak peningkatan kesiapsiagaan internasional untuk menekan angka kematian di negara-negara rentan.

  1. 1. Lonjakan suhu global berisiko cetak rekor terpanas dalam sejarah

    termometer suhu panas
    Termometer yang menunjukan suhu panas (pixabay.com/geralt)

    Fenomena El Nino yang terkonfirmasi sejak Juni 2026 diperkirakan menaikkan suhu rata-rata daratan bumi sebesar 1,2 derajat Celsius. Peningkatan suhu permukaan samudra ini juga diproyeksikan meningkatkan frekuensi hari panas ekstrem hingga 44 persen.

    Cuaca panas yang diperkirakan memuncak pada akhir tahun ini berpotensi menyebabkan sekitar 451.000 kematian tambahan di seluruh dunia hingga Februari 2027. Lonjakan angka kematian ini diprediksi melampaui dampak bencana hidrometeorologi besar lainnya.

    “Angka 451.000 korban jiwa ini sangat besar hingga membuat kita mati rasa, padahal mereka adalah orang tua, anak-anak, tetangga, serta para pekerja penopang keluarga,” ujar salah satu pendiri Climate Impact Lab, Michael Greenstone, dilansir The Guardian.

  2. 2. Negara berkembang di kawasan selatan bumi hadapi korban tertinggi

    ilustrasi Somalia, Afrika Timur
    ilustrasi Somalia, Afrika Timur (pexels.com/Mohamed abdirisak Ali)

    Wilayah Sahel di Afrika menanggung dampak terberat dengan proyeksi 66.800 kematian tambahan akibat paparan suhu panas. Nigeria mencatat kerentanan terbesar di kawasan tersebut dengan 31.400 korban, disusul Sudan 17.500 jiwa, Niger 10 ribu jiwa, dan Chad 8 ribu jiwa.

    Ancaman serupa juga dihadapi kawasan Asia dan Amerika Selatan yang padat penduduk. Indonesia diperkirakan mencatat 19.300 kematian, gabungan negara Asia Tenggara lainnya mencapai 19.400 jiwa, sedangkan India dan Brasil masing-masing diproyeksikan mencatat 15.800 dan 13.300 kematian tambahan.

  3. 3. Desakan perlindungan untuk warga rentan

    ilustrasi lansia, orang tua, waris, warisan, wasiat
    ilustrasi lansia, orang tua, waris, warisan, wasiat (pexels.com/Büşranur Aydın)

    Riset yang mencakup 24.378 wilayah mendorong pemerintah mendirikan pos hidrasi dan pusat pendingin umum di permukiman padat. Otoritas setempat juga diimbau mengeluarkan sistem peringatan dini bahaya cuaca panas untuk melindungi kelompok lansia dan anak-anak.

    Pemerintah diimbau membatasi jam kerja bagi pekerja di luar ruangan serta menyiapkan pendanaan darurat sebelum suhu ekstrem memuncak. Peningkatan kapasitas tenaga medis di fasilitas kesehatan juga dinilai mendesak untuk mengantisipasi lonjakan pasien.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More