Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
CEK FAKTA: Fenomena Harvest Moon Bisa Picu Gempa, Tsunami, Gunung Meletus?
ilustrasi bulan purnama (unsplash.com/Mike Petrucci)
  • Harvest Moon merupakan nama tradisional untuk purnama yang paling dekat dengan ekuinoks September dan secara fisik tetap bulan purnama biasa.

  • Daryono menegaskan fenomena ini tidak memicu gempa, letusan gunung api, tsunami tektonik, atau cuaca ekstrem.

  • Pengaruh yang relevan adalah pasang laut, sementara potensi rob dipengaruhi kombinasi kondisi pesisir dan cuaca.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menurutmu, apa pengaruh utama Harvest Moon?
Vote Now
26/9/2026

Harvest Moon bakal terjadi di Jakarta pada malam hari. Di Jakarta, Bulan terbit sekitar pukul 17.29 WIB, mencapai posisi tertinggi sekitar 23.39 WIB, dan fase purnama tepat sekitar 23.49 WIB.

26 sampai 30 September 2026

Ada potensi rob di sejumlah pesisir.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menurutmu, apa pengaruh utama Harvest Moon?
Vote Now
  • What?
    Fenomena Harvest Moon dinyatakan tidak memicu gempa, letusan gunung api, tsunami tektonik, atau cuaca ekstrem.
  • Who?
    Daryono, edukator mitigasi bencana dan anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), memberikan penjelasan.
  • Where?
    Fenomena Harvest Moon bakal terjadi di Jakarta, sedangkan potensi rob terdapat di sejumlah pesisir.
  • When?
    Harvest Moon terjadi pada Sabtu (26/9/2026) malam; potensi rob disebut ada pada 26 sampai 30 September 2026.
  • Why?
    Harvest Moon tidak memiliki mekanisme fisika khusus yang menghasilkan bencana. Purnama hanya memengaruhi pasang laut.
  • How?
    Risiko genangan pesisir dipengaruhi tinggi pasang, angin, gelombang, tekanan atmosfer, bentuk pantai dan dasar laut, serta tinggi muka laut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menurutmu, apa pengaruh utama Harvest Moon?
Vote Now

Harvest Moon adalah Bulan purnama biasa yang namanya dipakai karena waktunya dekat dengan ekuinoks September. Daryono menjelaskan Bulan ini tidak membuat gempa, gunung meletus, atau tsunami. Bulan bisa memengaruhi pasang laut. Orang di dekat pantai perlu melihat peringatan pasang dan cuaca supaya lebih aman.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menurutmu, apa pengaruh utama Harvest Moon?
Vote Now

Penjelasan Daryono membantu membedakan fenomena astronomi dari risiko bencana secara lebih jelas. Masyarakat tetap dapat mengamati Harvest Moon dengan mata telanjang, sambil memperhatikan informasi pasang-surut dan peringatan lokal. Sikap ini menempatkan kewaspadaan pada kondisi yang relevan, terutama ketika pasang tinggi beriringan dengan gelombang atau cuaca laut buruk.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menurutmu, apa pengaruh utama Harvest Moon?
Vote Now

Jakarta, IDN Times - Publik di jejaring media sosial dihebohkan dengan kabar fenomena bulan panen atau harvest moon bisa memicu bencana. Kabar itu beredar seiring fenomena harvest moon bakal terjadi di Jakarta pada Sabtu (26/9/2026)malam.

"Waspada, konon fenomena bulan ini bisa menarik gravitasi air hingga menyebabkan bencana. Ada pula yang mengatakan hal ini dengan gempa dan gunung meletus," tulis caption dalam sebuah postingan yang beredar.

Lantas benarkah hal tersebut?

1. Bulan purnama yang paling dekat dengan ekuinoks September

Narasi yang beredar di media sosial (dok. Istimewa)

Edukator mitigasi bencana dan anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono mengonfirmasi terkait adanya fenomena Harvest Moon. Di Jakarta, Bulan terbit sekitar pukul 17.29 WIB, mencapai posisi tertinggi sekitar 23.39 WIB, dan fase purnama tepat terjadi sekitar 23.49 WIB.

Harvest Moon sendiri hanyalah nama tradisional untuk purnama yang paling dekat dengan ekuinoks September. Secara fisik fenomena ini tetap merupakan bulan purnama biasa.

2. Harvest Moon tidak memicu gempa bumi, letusan gunung api, tsunami tektonik, cuaca ekstrem

Ilustrasi bulan purnama berwarna biru. (pexels.com/Nikola Tomašić)

Daryono menegaskan, Harvest Moon tidak memicu gempa bumi, letusan gunung api, tsunami tektonik, atau cuaca ekstrem. Tidak ada mekanisme fisika yang membuat nama “Harvest Moon” mempunyai kemampuan khusus menghasilkan bencana.

"Yang memang nyata secara ilmiah adalah pengaruh konfigurasi matahari – bumi - bulan terhadap pasang surut laut," tutur dia dalam keterangannya, Sabtu (26/9/2026).

Purnama terjadi karena matahari, bumi, dan bulan berada hampir segaris. Gaya pembangkit pasut matahari dan bulan kemudian menghasilkan rentang pasang-surut, disebut spring tide atau pasang purnama. Fenomena seperti ini sebenarnya terjadi sekitar dua kali setiap bulan lunar, yakni di sekitar Bulan baru dan purnama, sehingga bukan sesuatu yang luar biasa atau hanya terjadi ketika Harvest Moon," tegasnya.

Daryono juga tak memungkiri bulan purnama sering dipersepsikan masyarakat dengan gempa besar. Memang, gaya pasang tidak hanya bekerja pada laut, terdapat pula earth tides atau pasang Bumi, yaitu deformasi sangat kecil pada kerak akibat gravitasi bulan dan matahari. Namun fenomena ini bukan berarti purnama dapat digunakan untuk meramalkan kapan dan di mana gempa besar akan terjadi.

"Karena itu, munculnya Harvest Moon bukan alasan ilmiah untuk mengatakan bahwa gempa atau tsunami akan segera terjadi.

Hal serupa berlaku untuk gunung api. Aktivitas vulkanik terutama dikendalikan oleh dinamika magma, tekanan fluida dan gas, serta kondisi sistem vulkaniknya. Tidak ada dasar untuk menyebut Harvest Moon sebagai pemicu umum erupsi gunung api.

"Jadi apa yang perlu dilakukan. Tidak perlu takut melihat Bulan purnama malam ini. Harvest Moon bahkan aman diamati dengan mata telanjang tanpa alat pelindung khusus. Yang perlu meningkatkan kewaspadaan adalah masyarakat di pesisir rendah dan wilayah yg telah mendapat peringatan pasang maksimum atau rob. Perhatikan informasi pasang-surut, amankan kendaraan dan barang dari lokasi yang biasa tergenang, serta hindari aktivitas di pantai apabila pasang tinggi bersamaan dgn gelombang atau cuaca laut buruk," tutur Daryono.

"Pesan yang paling penting adalah membedakan antara fenomena astronomi dan risiko bencana: Harvest Moon bukan pembawa bencana. Pengaruh fisiknya yang paling relevan adalah terhadap pasang laut. Bahaya baru menjadi risiko ketika pasang tinggi bertemu dgn kondisi laut, lingkungan pesisir, serta paparan dan kerentanan masyarakat. Dengan demikian, Harvest Moon tidak perlu ditakuti, tetapi dinamika laut yg menyertainya tetap perlu dipahami dan diantisipasi," imbuh dia.

3. Apakah akan terjadi banjir rob?

ilustrasi fenomena bulan purnama (unsplash.com/Ganapathy Kumar)

Daryono lantas menuturkan, fenomena Harvest Moon tidak secara otomatis mengakibatkan terjadinya banjir rob. Menurutnya, anggapan semacam ini memang sering disalahpahami oleh banyak orang. Purnama meningkatkan komponen pasang astronomis. Tetapi banjir pesisir ditentukan oleh kombinasi banyak faktor seperti tinggi pasang lokal, angin yg mendorong air menuju pantai, gelombang, tekanan atmosfer, bentuk garis pantai dan dasar laut, serta tinggi muka laut relatif terhadap daratan.

"Jika pasang tinggi bertepatan dengan cuaca laut buruk, genangan dapat menjadi lebih besar," ucapnya.

Karena itu, dampaknya tidak sama di seluruh Indonesia. Pada periode 26 sampai 30 September 2026 misalnya, memang ada potensi rob di sejumlah pesisir. Ini menunjukkan mengapa masyarakat sebaiknya mengikuti prediksi pasang dan peringatan lokal oleh lembaga berwenang, bukan menganggap seluruh pantai Indonesia otomatis terancam hanya karena terjadi Harvest Moon.

Dengan demikian kabar fenomena Harvest Moon mengakibatkan bencana adalah berita tidak benar alias hoaks.

Yuk pilih pemahamanmu soal Harvest Moon

Menurutmu, apa pengaruh utama Harvest Moon?

See More
Pasang laut
A*** has voted
B*** has voted
C**** has voted
Gempa bumiLetusan gunung apiTidak ada pengaruh khusus

Curated For You

Editorial Team

Related Article