Ilustrasi bulan purnama berwarna biru. (pexels.com/Nikola Tomašić)
Daryono menegaskan, Harvest Moon tidak memicu gempa bumi, letusan gunung api, tsunami tektonik, atau cuaca ekstrem. Tidak ada mekanisme fisika yang membuat nama “Harvest Moon” mempunyai kemampuan khusus menghasilkan bencana.
"Yang memang nyata secara ilmiah adalah pengaruh konfigurasi matahari – bumi - bulan terhadap pasang surut laut," tutur dia dalam keterangannya, Sabtu (26/9/2026).
Purnama terjadi karena matahari, bumi, dan bulan berada hampir segaris. Gaya pembangkit pasut matahari dan bulan kemudian menghasilkan rentang pasang-surut, disebut spring tide atau pasang purnama. Fenomena seperti ini sebenarnya terjadi sekitar dua kali setiap bulan lunar, yakni di sekitar Bulan baru dan purnama, sehingga bukan sesuatu yang luar biasa atau hanya terjadi ketika Harvest Moon," tegasnya.
Daryono juga tak memungkiri bulan purnama sering dipersepsikan masyarakat dengan gempa besar. Memang, gaya pasang tidak hanya bekerja pada laut, terdapat pula earth tides atau pasang Bumi, yaitu deformasi sangat kecil pada kerak akibat gravitasi bulan dan matahari. Namun fenomena ini bukan berarti purnama dapat digunakan untuk meramalkan kapan dan di mana gempa besar akan terjadi.
"Karena itu, munculnya Harvest Moon bukan alasan ilmiah untuk mengatakan bahwa gempa atau tsunami akan segera terjadi.
Hal serupa berlaku untuk gunung api. Aktivitas vulkanik terutama dikendalikan oleh dinamika magma, tekanan fluida dan gas, serta kondisi sistem vulkaniknya. Tidak ada dasar untuk menyebut Harvest Moon sebagai pemicu umum erupsi gunung api.
"Jadi apa yang perlu dilakukan. Tidak perlu takut melihat Bulan purnama malam ini. Harvest Moon bahkan aman diamati dengan mata telanjang tanpa alat pelindung khusus. Yang perlu meningkatkan kewaspadaan adalah masyarakat di pesisir rendah dan wilayah yg telah mendapat peringatan pasang maksimum atau rob. Perhatikan informasi pasang-surut, amankan kendaraan dan barang dari lokasi yang biasa tergenang, serta hindari aktivitas di pantai apabila pasang tinggi bersamaan dgn gelombang atau cuaca laut buruk," tutur Daryono.
"Pesan yang paling penting adalah membedakan antara fenomena astronomi dan risiko bencana: Harvest Moon bukan pembawa bencana. Pengaruh fisiknya yang paling relevan adalah terhadap pasang laut. Bahaya baru menjadi risiko ketika pasang tinggi bertemu dgn kondisi laut, lingkungan pesisir, serta paparan dan kerentanan masyarakat. Dengan demikian, Harvest Moon tidak perlu ditakuti, tetapi dinamika laut yg menyertainya tetap perlu dipahami dan diantisipasi," imbuh dia.